SMARTPARENT.ID Mungkin, kita sering melihat tingkah laku anak yang mengejek teman sebayanya maupun orang yang lebih besar darinya.
“Dasar, kamu pelit!”
“Jelek, hitam!”
“Gendut!”
Dan lainnya.
Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Rhinosinusitis yang Membuat Flu Tak Kunjung Sembuh
Anak Meniru dari yang DIlihat dan Didengar
Anak melakukan demikian bukan karena dia ingin mengejek tetapi lebih dikarenakan faktor luar yang mempengaruhinya. Pasalnya usia 3-5 tahun, kemampuan anak untuk memahami hal yang abstrak masih rendah, dia masih dalam taraf berpikir kongkret dari apa yang dia lihat dan rasakan itulah yang akan anak tafsirkan. Artinya, dari sisi perkembangan psikologisnya, ejekan baik dari fisik, prilaku, sifat, maupun kecerdasan, hanya manifestasi dari apa yang dia lihat saja.
Kemudian, perilaku anak balita, adalah awal dimana ditanamkannya nilai-nilai yang akan mereka bawa sampai dewasa. Nilai-nilai yang mereka bawa didapat dari hasil imitasi dari lingkungannya. Misalnya ketika dia melihat orang dewasa mengejek dengan kata-kata gendut ke teman sebayanya maka anak pun akan menirukannya. Padahal sebenarnya tidak bermaksud mengejek karena memang anak usia ini belum terlalu dalam memahami makna dari kata-kata yang diungkapkannya.
Juga ada faktor kemampuan bahasa. Di usia ini anak sedang mengembangkan kemampuan bahasanya. Kemudian apapun yang diberikan ke anak mereka langsung menangkap, hafal, dan diucapkan. Sesungguhnya bahasa-bahasa yang diterimanya akan digunakan sebagai bahas pergaulan. Berbeda setelah anak masuk pada fase konvensional, anak sudah bisa memilahkan mana yang baik dan mana yang benar. Mana yang harus dikatakan dan tidak. Sedangkan anak usia ini prakonvensional belum memahami apa yang dia katakan malah cenderung asyik dengan kata-kata baru yang baru didengarnya. Kalau dia bilang gemuk kemudian ada yangmarah mungkin ini sebagai pengetahuan baru dari anak. “Oh ternyata ketika saya bilang gemuk ada reaksi yang lain dari orang itu,” misalnya.
Selanjutnya dari sisi perkembangan sosial anak. Perkembangan sosial anak merupakan akumulasi dari faktor-faktor di atas. Bagaimana dia ingin berperilaku, baik lewat peniruan-peniruan yang dilakukannya maupun dari keinginannya untuk mengungkapkan sesuatu berdasarkan kemampuan bahasa yang sudah dimilikinya.
Ketika anak mengejek, biasanya yang bersifat fisik, yang perlu diperhatikan Moms adalah bagaimana menyikapi apa yang dilakukan anak. Banyak kan orang tua yang memandang bahwa anak yang mengejek hanya dari sisi negatif saja padahal semuanya adalah proses pembelajaran yang sedang berlangsung di diri anak. Padahal ketika anak melakukannya berarti ada kemampuan yang tumbuh pada anak, kemampuan meniru, berbahasa, juga mengomentari apa yang dilihatnya. Namun demikian, agar ucapannya tidak terlanjur menetap orang tua perlu juga mengarahkan. “Adek, dia memang hidungnya pesek, tapi dia tidak nakal lo!” misalnya. “Jadi kamu tidak boleh mengejeknya.”
Baca Juga: Cara Menghilangkan Mual dan Muntah Saat Hamil dengan Cepat
Ganti Ejekan dengan Kalimat yang Positif