SMARTPARENT.ID Ketika mengajarkan anak mengelompokkan benda-benda, sebaiknya stimulasi yang kita lakukan disesuaikan dengan kemampuan berpikir, daya tangkap, dan kenyamanan anak. Buatlah semudah dan senyaman mungkin sehingga anak bisa menerima instruksi dan pengajaran dengan lebih mudah. Anak usia ini kan baru mulai belajar, sehingga kita perlu memperhatikan tips-tips yang harus dilakukan. Berikut adalah tips yang perlu kita lakukan saat mengajarkan anak mengelompokkan benda-benda.
Baca Juga: Yuk Cerdaskan Otak Anak dengan Belajar Mengelompokkan
- Dilakukan Sambil Bermain
Hindari stimulasi yang “serius.” Maksudnya, tidak meminta anak duduk manis di kursi atau lantai untuk menerima pelajaran dari kita. Dijamin, anak tidak akan mau, ia malah akan kabur, lari sana-sini, lempar-lempar benda yang ada di depannya, bahkan “ngambek” jika kita memaksakannya. Sebaiknya, biarkan anak bermain dengan benda-benda atau mainannya kemudian kita ikut “nimbrung” bermain. Misalnya, ketika anak sedang bermain bola-bola warna-warni, siapkan 2 keranjang, pilih dua warna bola saja misalnya merah dan putih dan sisihkan dahulu warna yang lain. Lalu kita ajak anak memasukkan warna merah ke keranjang pertama dan putih ke keranjang kedua. Lakukan sambil bermain, bertepuk dan berteriak ketika anak berhasil melakukannya, dan jangan memarahinya tetapi mensupportnya ketika ia salah memasukkan warna bola. Jika ia sudah mampu melakukannya, kita bisa menambah jenis warnanya menjadi 3, 4 warna berbeda.
- Pilih yang Mudah
Ada banyak sekali warna, bentuk, ukuran, tetapi kita gunakan yang sederhana dan mudah dikenali anak. Warna misalnya, gunakan warna primer seperti merah, kuning, hijau, biru, hitam, dan putih. Hindari dahulu warna-warna kombinasi seperti jingga, ungu, merah muda, abu-abu, warna-warna salem, dan lainnya. Untuk bentuk, gunakan bentuk-bentuk dasar seperti lingkaran, segitiga, segi empat, dan persegi panjang. Hindari bentuk polygon, belah ketupat, segi 5, 6, dan lainnya. Untuk ukuran, sebaiknya gunakan yang sesuai dengan kemampuan anak memegang dan memindahkan, tidak terlalu besar atau kecil.
- Bahasa yang Mudah Dipahami
Di usia ini anak memiliki keterbatasan dalam berbahasa dan berkomunikasi. Karena itu gunakan bahasa yang sangat mudah, tidak terlalu cepat, bila perlu kata-kata yang kita ucapkan satu persatu. Misalnya, “Adk yuk main… kita samakan warnanya!” Kalimat ini lebih baik dibandingkan, “adek, yuk kita belajar mengelompokkan warna!” Sebab pada kalimat kedua kosa katanya lebih sulit dipahami anak, ia mungkin belum memahami apa itu belajar? Apa itu mengelompokkan?
Baca Juga: 7 Cara Efektif Cegah Anak dari Kejahatan AI
- Gunakan Benda yang Ada di Rumah
Kita bisa menggunakan benda-benda yang ada di rumah seperti lemari, meja, vas bunga, pohonan, dan lainnnya. Namun, benda-benda ini tidak kita angkat dan dipindahkan. Kita sebutkan sambil menjelaskan tentang warna, bentuk, dan ukuran. “Itu lemari baju kamu, warnanya sama dengan tempat tidur kamu!” misalnya. “Bentuk mejanya persegi empat, sama dengan bentuk lemari!” misalnya.
- Lewat Aktivitas
Di setiap aktivitas kita bisa menyisipkan pekajaran mengelompokkan. Ketika makan, mandi, menjelang tidur, bermain, dan lainnya. Ketika makan misalnya, kita bisa bilang ke anak, “wah, warna sendok dan piringnya sama!” Ketika mandi juga bisa, “lihat dek, sikat gigi bentuknya panjang.” Lanjutkan, “hampir sama dengan bentuk pasta gigi ya!” misalnya.
Baca Juga: Pola Asuh dan Kesehatan Mental Anak: Mitos atau Fakta?