Demikian pula ketika ada hal-hal yang di luar kebiasaan. Misalnya di hari lebaran di mana banyak tamu dan teman-teman sebayanya yang datang, di situasi seperti ini kefleksibelan waktu sangat dibutuhkan. Pasalnya anak merasa ada situasi yang berbeda, lebih ramai dari biasanya. Mungkin anak ingin bermain dengan sepupunya yang jarang sekali ditemui, atau dia ingin ikut dalam perbincangan yang kita lakukan, atau ingin sekadar menunjukkan mainan-mainan yang similikinya, atau apapun yang mungkin saja mendadak timbul pada saat itu. Bila memang demikian jangan memaksa anak untuk tidur atau istirahat tepat waktu. Soalnya pemaksaan akan berbuntut terhadap hal-hal yang kurang baik pada anak, dia merasa keinginannya terkekang dan tidak ada izin kelonggaran sama sekali.
Hal seperti ini pun bisa juga terjadi di hari libur. Misalnya, bangun pagi yang biasanya pukul 06.00 jadi agak siang sedikit, toleransinya bisa sampai setengah atau satu jam. Dengan begitu si anak pun bisa membedakan juga di mana kira-kira waktu dia bisa lebih leluasa untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya.
Hindari pula mengatur anak hingga sangat detail, misalnya berapa sendok anak harus makan, berapa lama anak harus tidur, yang harus dipatuhi secara tepat. Hal ini sangat tidak dianjurkan karena cenderung mekanistik padahal anak kan juga butuh keleluasaan untuk melakukan sesuatu yang sesuai keinginannya.
Untuk membuat aturan, orang tua harus menyesuaikan dan kemampuan membuat rutinitas yang dimiliki anak. Bila anak memang mampu bangun tidur jam 07.00 jangan dipaksa untuk bangun jam 06.00 apalagi lebih pagi dari itu. Atau, kalau anak baru lelah sehabis bermain kemudian ingin tidur jam 13.00, sesuaikan saja, jangan memaksanya untuk tidur siang jam 11.00. Dengan penyesuaian seperti ini diharapkan kita akan lebih mudah untuk membuat jadwal rutinitas dan hasil yang dicapai pun akan lebih baik.
Baca Juga: Mengajarkan Anak Berdoa Sesuai Sunnah, Panduan Lengkap untuk Orang Tua