SMARTPARENT.ID Bolehkah kita meminta anak untuk tidak masuk sekolah TK-nya? Sebenarnya bila alasannya karena suatu hal yang sangat penting dan mau tidak mau anak harus meninggalkan sekolahnya, boleh saja dilakukan. Misalnya, mengunjungi kakek/nenek yang sedang sakit, ada kerabat yang melangsungkan pernikahan di luar kota, atau ada keperluan lain yang memang tidak bisa ditinggalkan. Tetapi bila membolos anak karena hal-hal yang tidak urgent, misalnya karena Moms harus arisan bareng teman-teman, sebaiknya dihindari.
Baca Juga: Moms, Si Balita Sudah Bisa Diajak Beresin Kamar Lo!
Boleh Bolos, Tapi Begini Cara Izinnya
Namun, meskipun dengan alasan yang sangat penting namun kita sebaiknya jangan secara sembarangan mengajak anak bolos. Banyak hal yang harus kita perhatikan supaya tindakan membolos anak tidak memunculkan hal yang negatif.
- Bahasa Diperhalus
Sebaiknya, ketika kita meminta anak untuk tidak masuk tidak menggunakan kata “bolos.” Pasalnya, kata bolos cenderung negatif dan identik dengan kemalasan padahal tidak masuknya anak bukan karena malas melainkan ada hal lain yang tidak bisa ditinggalkan si anak, ikut orangtua ke pernikahan kerabat di luar kota misalnya. Lagi pula banyak sekolah yang tidak mau menggunakan kata tersebut, yang mereka gunakan adalah hadir dan tidak hadir di sekolah.
Bila ingin meminta anak tidak hadir di sekolah gunakanlah kata yang lebih halus yang konotasinya lebih positif, misalnya “tidak hadir,” “cuti,” atau “izin.” “Adek, besok dan lusa kita izin tidak masuk sekolah ke bu guru ya, kan kita mau ke rumah nenek,” misalnya. Dengan kata yang lebih halus ini persepsinya menjadi lebih positif.
- Tidak Terlalu Sering
Memasukkan anak ke Taman Kanak-kanak adalah sebagai proses awal penyesuaian anak dengan pendidikan formal. Di dalamnya anak akan belajar banyak hal seperti bersosialisasi, interaksi, disiplin, belajar mengalah, berbagi, juga pengetahuan-pengetahuan yang mungkin tidak didapat anak di rumah. Ini adalah hal yang sangat penting yang harus diberikan ke anak. Nah, bila dia terlalu sering “cuti” maka anak akan kehilangan banyak hal di atas. Mungkin saat keluar TK dan masuk ke SD seharusnya anak sudah siap dengan pendidikan formal malah perlu penyesuaian lagi karena dia belum bisa melakukan sosialisasi dan berinteraksi dengan baik. Baik dengan teman maupun lingkungan sekolahnya. Belum lagi dengan pengetahuan-pengetahuan lain yang seharusnya sudah diketahui anak malah tak diketahuinya. Dengan sering “cuti” pun dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan buat anak. Mungkin saja sedikit-sedikit dia tidak mau sekolah.
Sebaiknya, kita harus punya kebijaksanaan sendiri apakah anak harus “cuti” dari sekolah atau tidak. Bila memang anak tidak terlalu diperlukan dalam kegiatan kita, sebaiknya dia tetap bersekolah supaya tidak kehilangan hal-hal penting dalam proses perkembangan pendidikannya. Misalnya, menjadwalkan wisata berhari-hari ke luar kota hanya sekali kali dalam 6 bulan. Bila kemudian harus berwisata kembali kita pilih yang hanya memakan waktu 1-2 hari saja dengan mengambil weekend saja. Intinya, jangan sampai mengorbankan waktu anak bersekolah.
- Beri Alasan Tepat
Jangan membiarkan anak tidak masuk sekolah tanpa alasan karena dikhawatirkan anak akan berpersepsi kalau tidak masuk sekolah merupakan hal lumrah. Kelak dia pun akan semaunya untuk tidak masuk sekolah. Berikanlah penjelasan kenapa dia tidak masuk sekolah. “Adek, tante Utik ama akan menikah di rumah nenek, jadi kita harus ke sana!” misalnya. “Mama kan kakaknya tante Utik, kalau tidak ke sana nanti nenek dan tante Utik bisa marah besar.” Kembangkan dialog sederhana kepada anak ketika dia menanyakan hal seputar kealpaannya di sekolah agar dia benar-benar paham kenapa dia tidak masuk sekolah.
- Ajak Izin ke Guru
Bila memang memungkinkan, kita bisa mengajak anak untuk minta izin dahulu ke guru di sekolah. Terangkan ke guru kenapa anak harus izin dari sekolahnya. Biasanya, saat kita izin anak akan melihat bahwa “cuti” tidak boleh dilakukan sembarangan melainkan harus izin dahulu ke bu guru. Bila bu guru mengizinkan maka anak boleh tidak masuk sekolah. Biasanya guru pun akan bertitip pesan ke anak, “Kamu boleh kok izin dari sekolah, tapi jangan terlalu sering ya!” misalnya. Nah dengan perkataan tersebut akan memberi warning ke anak bahwa ia tidak diizinkan untuk sering-sering minta izin.