SMARTPARENT.ID Ketika anak ingin membeli tas baru, padahal di rumah sudah banyak, orang tua langsung mengabulkannya. Demikian pula ketika anak ingin memiliki sepeda, gameboy, sepatu, dan sebagainya, tanpa pikir panjang orang tua langsung menyetujui meskipun sebenarnya anak tidak terlalu dibutuhkan. Tak hanya itu, ragam fasilitas bertaburan di dalam rumah, mulai dari mainan beragam jenis hingga suasana rumah yang begitu nyaman dan sejuk.
Mungkin, maksud orang tua menyediakan beragam fasilitas ini hanya ingin memberikan yang terbaik buat anak. Namun keinginan yang diberikan seringkali dilakukan secara berlebihan dan bisa berdampak negatif buat anak. Pasalnya, dengan terlalu memudahkan fasilitas akan membuat anak terlena, dia hanya menerima kemudian menikmati, tanpa pernah berpikir darimana barang tersebut berasal, butuhkah aku, berhargakah buatku, dan sebagainya.
Baca Juga: Kiat Mendeteksi Apakah Si Kecil Tipe Perfeksionis atau Bukan
Berikan Fasilitas Sesuai Kebutuhan Anak
Fasilitas, adalah sesuatu yang dapat memudahkan dan menunjang anak untuk beraktivitas, entah bermain, belajar, maupun berkreasi. Fasilitaspun bisa menjadi sarana penunjang agar anak bisa mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Dengan alasan ini, maka orang tua harus mempertimbangkan efek positif dan negatif ketika memberikan fasilitas kepada anak. Misalnya, ketika memberikan fasilitas maka kita harus menyesuaikannya dengan kebutuhan anak pada saat itu.
Misalnya, anak sangat berbakat bermain piano. Dia tidak akan bisa mengembangkan bakatnya tanpa ada stimulasi dari luar. Stimulasi yang bisa diberikan misalnya dengan memasukkannya ke tempat kursus atau membelikan piano. Piano yang bisa dimainkannya akan menjadi fasilitas pendukung untuk mengembangkan bakat anak. Bila hal ini yang didapat, efeknya menjadi positif.
Bila memungkinkan, ajak anak untuk memilih sendiri piano yang dia suka sehingga dia memahami bahwa piano tersebut bukan datang secara tiba-tiba melainkan dibelikan oleh orang tuanya di toko. Piano tersebutpun harus ditukar dengan uang orang tuanya. Dengan begitu diharapkan anak bisa lebih menghargai pemberian ini.
Lain hal bila anak sama sekali tidak berbakat main piano kemudian tanpa pikir panjang orang tua langsung menyediakannya di rumah. Pemberian fasilitas seperti ini, meskipun orang tua sangat mampu melakukannya, bisa saja tidak berdampak positif melainkan negatif dan terkesan berlebihan. Demikian pula halnya, anak yang sudah memiliki banyak mobil-mobilan, boneka, robot, pakaian yang bagus-bagus, atau yang lainnya, kemudian ketika pergi ke pasar orang tua selalu menuruti kemauan anak dan membeli barang yang sama, maka pemberian yang berlebihan akan berdampak negatif pada perkembangan kepribadian anak.
Baca Juga: Menitipkan Anak ke Kakek-Nenek? Boleh Saja Tapi Bikin Aturan Main yang Baik
Tips Saat Akan Memberikan Fasilitas Kepada Anak
Sebaiknya, meskipun kita mampu memberikan fasilitas berlebih terhadap anak, kontrol tetap diperhatikan. Soalnya, memberikan fasilitas erat kaitannya dengan proses mendidik kepribadian anak. Namun yang sering terjadi, karena orang tua merasa mampu memberikan fasilitas yang dibutuhkan anak maka pemberiannya pun tanpa pengontrolan.
Beberapa tips bisa menjadi acuan ketika ingin memberikan fasilitas pada anak, yaitu
- Kita harus mempertimbangkan, apakah fasilitas yang akan kita berikan akan menunjang bakat anak, menunjang aktivitasnya, menunjang belajar, membuat anak lebih nyaman, dan lainnya. Bila ya, segera penuhi tetapi bila tidak sebaiknya tunda dulu. Misalnya, fasilitas anak untuk sekolah, seperti tas, sepatu, seragam merupakan fasilitas yang sangat dibutuhkan anak, maka harus segera dipenuhi. Namun bila anak menuntut untuk diberikan sepatu yang mahal, apalagi sudah di rumah dia sudah memiliki model yang sama, sebaiknya pertimbangkan dulu. Bisa dari segi kondisi keuangan, mubazir, tidak terlalu dibutuhkan, dan sebagainya.
- Ajarkan nilai moral pada anak ketika dia meminta sesuatu, mobil-mobilan misalnya, dengan menerangkan bahwa apa yang diinginkannya belum terlalu dibutuhkan. Entah karena mobil-mobilan di rumah masih bagus, harganya terlalu mahal, atau mobil-mobilan tersebut tidak cocok untuknya. Diharapkan, penjelasan seperti ini akan menumbuhkan kesadaran pada anak kalau setiap keinginan tidak selalu bisa didapatkannya.
- Buatlah semacam checklist terhadap kebutuhan anak. Dengan melakukan checklist setidaknya kita terbantu untuk memprioritaskan apa yang paling dibutuhkan dan mana yang bisa ditunda pemberiannya. Sangat baik bila orang tua mengajak anak untuk membuat checklist keperluan anak secara bersama-sama. Dengan begitu anak akan berpikir bahwa tidak semua keinginannya akan terkabulkan.
- Setiap anak tidak sama. Maksudnya, ada anak yang berminat main piano, menari, menyanyi, melukis. Ketika ingin memberikan fasilitas sebaiknya sesuaikan dengan kondisi anak. Bila berminat main piano maka berikan fasilitas piano, bila berminat menari kita bisa mengajarkannya atau memasukkannya ke sanggar, begitu seterusnya. Dengan begitu, kita bisa mengontrol fasilitas yang kita berikan.
- Bila sudah memberikan fasilitas maka kita harus memantau penggunaannya, harus ada aturan main. Bila fasilitas yang seharusnya bisa menunjang perkembangan anak tetapi malah akan membuat anak tidak tumbuh dengan maksimal, pemberian fasilitas bisa dievaluasi kembali. Misalnya, ketika pertama kali memberikan playstation kita ingin agar anak lebih kreatif, senang bermain di rumah, gembira, dan sebagainya. Namun bila akhirnya playstation digunakan secara sembarangan, tak kenal waktu, sehingga membuat anak sama sekali tidak memperhatikan waktu maka dampaknya akan menjadi negatif. Solusinya, sebenarnya terletak pada orang tua, yakni bagaimana mengatur anak untuk bisa membagi waktu kapan bermain playstation dan kapan tidak boleh agar dia tetap berkembang dengan maksimal.
- Ketika fasilitas sudah diberikan, misalnya anak terbiasa mendapatkan fasilitas yang baik, rumah, mobil, dan sekolah yang selalu sejuk karena AC, maka perlu bila sesekali anak diperkenalkan dengan suasana tanpa AC. Misalnya dengan mengajaknya bermain di luar rumah, naik mobil tanpa AC, atau sesekali AC di kamarnya tidak dihidupkan. Dengan begitu, bila suatu saat dia menemukan hal yang tidak nyaman, anak akan mudah menyesuaikan diri. Bila anak tidak diperkenalkan dengan situasi yang lain dari biasanya, maka anak akan kesulitan bila berada di lingkungan yang sama sekali berbeda.
- Sesekali berikan pengertian kepada anak kalau dia tidak selamanya akan mendapatkan fasilitas terbaik. Fasilitas mungkin saja suatu saat tidak dapat dinikmati anak lagi. Dengan begitu, bila situasi darurat terjadi, anak bisa lebih siap menghadapinya.
Baca Juga: Ih… Kecil-kecil Kok Suka Mengejek