balita

Anak Perfeksionis, Positif dan Negatifnya, Mana yang Lebih Banyak.

Kamis, 25 Juli 2024 | 08:30 WIB
Anak Keren (Norman Milwood /Pexels)

 

SMARTPARENT.ID Anak prfeksionis biasanya memiliki kelebihan dibandingkan anak lain. Misalnya, anak bisa melakukan sesuatu tepat waktu tanpa harus diminta. Moms tidak repot mengingatkan apa yang harus dilakukan anak. Selesai bermain, dia akan meletakkan mainannya di tempat semula dengan rapih.

Ketika memakai baju, dia akan sangat berhati-hati untuk menghindari noda mengenai bajunya. Atau ketika mewarnai, dia sangat menghindari pensil warnanya melewati garis pewarnaan. Sikap seperti ini menunjukkan anak yang disiplin, rajin, tepat waktu, sedikit salah, dan lainnya.

Selain itu, anak perfeksionis bisa tampil lebih matang, misalnya meskipun usianya 5 tahun tetapi kemampuan seperti anak 9 tahun. Hal ini berarti kita bisa memintanya untuk melakukan sesuatu yang lebih, membantu pekerjaan rumah tangga misalnya. Kematangan ini pula yang akhirnya bisa membuat anak lebih cepat untuk berpikir dan bersikap lebih dewasa.

 Baca Juga: Kiat Mendeteksi Apakah Si Kecil Tipe Perfeksionis atau Bukan

Moms Perlu Mewaspadai Efek Negatifnya

Namun, ketika menghadapi perilaku anak yang ingin segala seuatu sempurna, jangan serta merta Moms langsung bangga dan menganggap semua sifat yang muncul positif. Moms harus tetap waspada karena sisi negatif dari perfeksionis bisa muncul.

Pertama, karena harus mematuhi peraturan maka anak sangat terikat pada norma dan terlalu taat pada aturan yang menyebabkan dia tidak berani mengungkapkan pendapatnya sendiri. Ketakutan mengungkapkan pendapat ini akan membuat anak sulit untuk mengembangkan kreativitas padahal pengembangan kreativitas sangat baik untuk pengembangan dirinya.

Contoh sederhana, anak perfeksionis yang tidak berani mengungkapkan pendapat,  ketika diminta untuk menyelesaikan puzzle dia akan melakukannya tanpa melihat kemampuan dirinya. Meskipun tahu bahwa dia tidak mampu, anak tetap mengerjakannya. Digunakan seluruh tenaga dan pikirannya yang akhirnya menguras energinya. Berbeda dengan anak yang punya sifat terbuka, ketika dia merasa tidak mampu melakukannya dia akan terus terang mengungkapkannya dan meminta pertolongan orang tuanya. Energinya tidak terkuras tetapi kemampuannya bisa bertambah lewat bimbingan orang tuanya.

Kedua, anak perfeksionis selalu ikut apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Bila hal ini diterima anak terus menerus sangat mungkin dia akan beranggapan bahwa semua yang dikatakan orang tuanya adalah hal yang paling benar. Sikap anakpun akan menjadi sangat kaku. Bila dia menemukan pernyataan berbeda, dari guru misalnya, sulit untuk menerimanya meskipun apa yang dikatakan benar. Nah, perlu tindakan khusus dari guru untuk mengubah pandangan anak.  

Berlanjut ketika besar, anak akan menjadi sosok yang by the book, yakni apapun yang menurutnya benar harus sesuai dengan apa yang tertera di dalam buku. Bila ada pandangan atau pendapat yang tidak ditemuinya di dalam buku maka dia tidak akan setuju atau percaya  namun tidak 100 persen.

Ketiga, anak yang perfeksionis, meskipun dia mampu memenuhi segala macam aturan orang tuanya, tetapi sebenarnya dia tidak merasa enjoy atau menikmati masa-masa bermainnya. Dia akan merasakan sesuatu yang tidak nyaman karena terus menerus diikuti oleh perasaan keharusan untuk melakukan sesuatu.

Keempat, seringkali anak menjadi tidak percaya diri karena apa yang dikerjakannya di mata orang tuanya selalu kurang sempurna. Awalnya, anak berusaha untuk memuaskan orang tua namun akhirnya, setelah selesai mengerjakan sesuatu dia akan datang ke orang tua untuk meminta pendapatnya. 

Ketidakpercayaan dirinya ini akan berlanjut dengan sikap yang mudah cemas. Apakah yang kulakukan ini sudah benar, sudah bagus, tidak salah, dan sebagainya. Akhirnya timbul sikap yang serbasalah bila dia tidak bisa meminta pendapat orang tuanya. Manifestasi dari kecemasan, sering gigit kuku, sulit tidur di malam hari, sikap yang kaku dan kreativitas berpikirnya tidak berkembang.

Kelima, Efek yang paling buruk adalah dia tidak bisa  menjadi dirinya sendiri dan  tidak berani untuk mengekspresikan apa yang disukai dan tidak. Karena hidupnya terpatri oleh aturan, norma, yang dibuat oleh orang tuanya.

Halaman:

Tags

Terkini

Bagaimana Mengajarkan Empati pada Anak Balita?

Kamis, 12 Juni 2025 | 20:40 WIB

Moms, Aku Mau Videocall Ayah!

Rabu, 26 Februari 2025 | 07:56 WIB

Ketika Anak Tak Mau Pakai Baju, Bolehkah Kita Memaksa?

Selasa, 25 Februari 2025 | 21:18 WIB

Jangan Mengancam Anak Tetapi Berikan Ia Penjelasan

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:51 WIB

Moms, Jangan Pernah Mengancam Anak, Ya!

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:41 WIB

Biarkan Anak Corat-coret, Disitu Tumbuh Kreativitas

Senin, 24 Februari 2025 | 17:06 WIB

Moms, Perlu Lo Sesekali Anak Dibebaskan Bermain

Senin, 24 Februari 2025 | 15:52 WIB

Bila Anak Suka Tak Sopan, Ini Cara Mengatasinya

Sabtu, 22 Februari 2025 | 21:14 WIB

Ini Manfaat Buat Anak Saat Belajar di Meja Makan

Jumat, 21 Februari 2025 | 15:37 WIB

Saat Makan Saatnya Anak Belajar

Jumat, 21 Februari 2025 | 14:47 WIB