SMARTPARENT.ID ”Mama kerja dulu ya sayang, ini uang untuk jajan!” pamit Lani kepada Rifa, anaknya. Dia memberikan selembar uang sepuluhribu kepada Rifa. Hal ini biasa dilakukan Lani supaya kalau Rifa ingin membeli sesuatu pengasuh dapat langsung membelikannya di warung. “Asyik, nanti aku mau beli cokelat dan es krim,” sahut Rifa riang. Dia pun merelakan mamanya pergi meninggalkannya untuk bekerja.
Esoknya, setiap kali mamanya akan berangkat kerja, Rifa selalu meminta uang. Kalau tidak dikasih dia akan ngambek dan sulit didiamkan. Walhasil, sang mama pun selalu mengabulkan permintaannya. Lambat laun, kebiasaan Rifa meminta uang tidak hanya terjadi saat mamanya akan pergi bekerja, ketika libur Rifa selalu mendahkan tangan meminta uang. Anehnya, meminta-minta ini tak hanya kepada mama atau ayah, om atau tante pun sering dimintainya.
Baca Juga: 5 Langkah Ampuh Agar Anak Tak Takut ke Dokter
Akibat Perilaku Kita, Anak Jadi Terbiasa Minta Uang
Jangan salahkan anak ketika ia terlihat celamitan. Kebiasaannya meminta uang kepada kita atau orang lain disebabkan oleh tindakan kita yang kurang tepat. Misalnya, seperti yang dilakukan Lani di atas, memberikan uang ke anaknya setiap akan berangkat kerja. Tindakan ini, membuat anak terbiasa menerima uang. Nah, ketika dia sudah memahami penggunaan uang dan pada saat itu dia menginginkan sesuatu, maka pada saat ia tidak memiliki uang ia akan meminta.
Bisa juga kebiasaan anak meminta uang disebabkan oleh kebiasaan kita mengajaknya ke warung kemudian membelikan apa yang disenanginya. Anak pun memahami, jika kita ingin mendapatkan apa yang kita inginkan di warung, toko, penjual mainan keliling, maka kita harus memiliki uang. Nah, ketika ia mengingkan sesuatu tetapi tidak punya uang maka ia akan memintanya. Kebiasaan kita memberikan segala kemauan anak akan memperkuat perilakunya ini.
Atau bisa juga dia melakukannya karena meniru tindakan temannya. Misalnya, dia melihat Dewi meminta uang ke mamanya untuk beli permen. Kemudian anak kita pun meniru, dia meminta uang ke kita. Bila kita selalu memberi, tanpa menyeleksi dulu keperluan si anak, mungkin saja dia akan sering meminta uang.
Baca Juga: Aku Tidak Mau Pergi ke Dokter!
Jangan-jangan Bisa Memicu Sifat Matre
Memang, kemampuan anak dalam memahami proses jual-beli perlu mendapat apresiasi tersendiri. Hal ini menunjukkan kalau perkembangan otak anak sangat baik karena dia memahami sebuah proses berpikir yang cukup kompleks. “Uang bisa saya gunakan untuk membeli es krim, berarti kalau saya tidak punya uang saya tidak akan mendapatkan es krim,” misalnya demikian.
Namun demikian, kita harus mewaspadai kesalahan pengasuhan ini. Memenuhi kebutuhan anak memang sangat penting dilakukan, termasuk kebutuhannya akan jajanannya. Tetapi cara memenuhinya bukan dengan memberinya uang secara langsung kepada anak. Meskipun hal tersebut disebabkan oleh kasih sayang kita. Penggunaan uang pada anak harus tetap terkontrol sehingga dia bisa menggunakannya secara bijaksana, tidak celamitan, boros, dan sebagainya.
Beberapa hal negatif yang akan melekat pada diri anak bila kebiasaan meminta-minta uang tak segera dihentikan :
- Citra Negatif
Bila permintaannya hanya kepada kita saja mungkin tak terlalu bermasalah, kita bisa memahami karena mungkin hal ini terjadi akibat kesalahan kita. Namun bila dia akhirnya meminta kepada orang lain, seperti om, tante, tetangga, atau orang di luar lingkungan rumah, citra anak bisa menjadi negatif. Anggapan miring tentang anak yang dicap celamitan bisa saja terjadi. Tentu hal ini akan merugikan anak.