SMARTPARENT.ID ”Maaf, aku tidak bisa datang ke arisan kemarin, Triwik tidak bisa ditinggal, rewel banget!”
Mungkin Moms pernah mengatakan hal demikian. Tidak bisa hadir ke satu tempat karena anak tidak mau ditinggal di rumah. Anak yang tidak bisa tenang atau rewel kala ditinggal pergi, merupakan hal wajar dan sering terjadi. Hal ini karena di usia batita sedang berkembang faktor kepercayaan dan ketidakpercayaan terhadap lingkungannya. Bila faktor kepercayaan tubuh dengan baik maka anak akan bercitra positif terhadap lingkungannya sehingga dia lebih berani untuk menghadapinya sendiri. Sebaliknya, bila faktor ketidakpercayaan tumbuh lebih dominan maka kemungkinan anak untuk sering rewel sangat mungkin terjadi. Pasalnya, anak yang tidak percaya terhadap lingkungan sangat mudah was-was atau takut sehingga muncul perilaku negatif seperti rewel.
Mungkin Moms suka kehabisan akal mengatasi batitanya yang “meraung-raung” tidak mau ditinggal pergi. Terpaksa, demi ketenangan si anak, mereka membatalkan kepergiannya karena takut kalau si anak malah tambah menjadi-jadi. Sesekali sih tak masalah, namun bila hal ini terus berulang, tentu akan mengganggu aktivitas kita.
Baca Juga: Anak Saya Tidak Bisa Diam, Hiperaktif Bukan Ya?
Ada beberapa hal yang bisa Moms lakukan yang membuat anak bisa tenang ditinggal di rumah bersama pengasuh atau keluarga lain.
- Komunikasikan dengan Baik Kepada Anak
Komunikasi yang baik dengan anak sangat penting dilakukan. Selain menjalin kedekatan juga kita dapat memberikan informasi positif terus menerus kepada anak sehingga kepribadian positifnya tumbuh dengan baik. Misalnya anak menjadi lebih percaya diri, tidak mudah takut, tidak mudah menangis, dan lainnya.
Komunikasi sebaiknya tak hanya untuk membangun kepribadian anak tetapi juga hal-hal yang akan dilakukan saat ini dan nanti. Misalnya, bila setiap hari ibu atau ayah harus pergi ke kantor dan meninggalkan anak di rumah, cobalah mengomunikasikannya ke anak dengan cara-cara yang menurut kita pas untuk dilakukan. “Setiap pagi Mama harus bekerja untuk mencari uang. Uangnya untuk beli susu dan mainan buat kamu. Kamu di rumah sama Embak, ya!” misalnya demikian. Bila komunikasi seperti ini terus dilakukan kepada anak, tak mustahil secara perlahan dia akan mengerti sehingga tak perlu rewel kala ditinggal pergi. Selain itu secara mental anak pun akan lebih siap kala berpisah dengan kita.
Tak hanya kepada anak, tetapi komunikasi juga penting kepada pengasuh atau orang lain yang akan menggantikan pengasuhan anak selama kita pergi. Misalnya dengan memberitahukan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan kala kita tidak berada di rumah. Hal ini penting diketahui pengasuh untuk mengantisipasi kalau-kalau si batita rewel.
- Tumbuhkan Keberanian
Jangan sekali-kali menakut-nakuti anak tanpa jelas maksudnya. Misalnya, ketika anak tidak mau makan kita sering menakut-nakutinya dengan mengatakan “Awas, kalau kamu tidak mau makan nanti kamu akan dimakan oleh hantu. Hantu berwajah seram akan muncul dari kamar mandi dan langsung menerkam kamu!” misalnya demikian. Ancaman ini akan memunculkan persepsi negatif anak terhadap lingkungannya. Tak mustahil anak akan mempercayai kalau hantu itu benar-benar ada dan selalu merasa ketakutan. Jangankan ketika orang tuanya pergi, meskipun orang tuanya ada di rumah pun ketakutan sering muncul.
Sebaiknya, tumbuhkan keberanian anak terhadap lingkungannya. Misalnya, ketika ada suara petir atau suara-suara lain yang cukup menakutkan, kita bisa bilang, “Itu suara petir, kamu tidak usah takut karena dia tidak mungkin menerkam kita!” misalnya. Atau ketika anak takut gelap di malam hari, kita bisa bilang, “Sekarang gelap karena sudah malam, artinya bukan supaya kita takut melainkan kita diminta untuk istirahat. Jadi kamu tidak perlu takut!” misalnya. Atau hal-hal lain yang sekiranya bisa menumbuhkan keberanian pada diri anak.
- Pergi dengan Baik-baik
Ketenangan anak tumbuh dari peristiwa yang menyenangkan. Ketika ingin pergi misalnya, jangan sekali-kali kita melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, membohongi, tiba-tiba, karena hal ini akan membuat anak merasa tidak tenang, dibohongi, bahkan muncul kekecewaan yang akan memicu munculnya kerewelan saat ibunya tidak ada di rumah.