-
Arah pembicaraan sebaiknya langsung berhubungan dengan aktivitas anak, misalnya menanyakan kegiatan yang sedang dilakukan anak, lagi apa? main apa? sama siapa? Dan sebagainya.
-
Bila perlu pancing anak untuk mengungkap perasaan yang sedang dirasakan senang, sedih, sebal, marah, dan lainnya.
-
Beri kesempatan pada anak untuk mengungkapkan kejadian atau pengalaman yang dia alami sehingga kita bisa membantu untuk memberikan pemahaman jika diperlukan.
-
Lakukan secukupnya. Sebaiknya tidak terlalu lama karena anak pun harus melakukan aktivitas lain. Jika ingin menyudahi pembicaraan, katakan dengan santun supaya anak tidak merasa tersinggung yang dapat membuatnya badmood.
-
Sebaiknya gunakan kata–kata yang sederhana karena anak usia ini belum terlalu memahami kata-kata yang terlalu banyak. Jika percakapan terlampau rumit, maka anak susah menangkap isi pertanyaan dan sulit menangkap makna dari pertanyaan tersebut yang mengakibatkan anak tidak bisa menjawab. Hal ini disebabkan karena koordinasi antara fungsi auditori dan perbendaharaan kata belum mencapai perkembangan yang optimal. Pada saat ini anak belajar berbicara tanpa melihat secara konkrit si penelpon. Misalnya : Apa kabar? Baik; ini siapa? ini adik; Lagi apa? lagi nonton.
-
Percakapan lewat telepon terkadang lebih sulit dipahami anak. Nah, bila memang anak belum memahami maksudnya, kita harus mengulangi pertanyaan yang kita ajukan sampai anak benar-benar memahaminya. Jangan langsung menutup pembicaraan hanya gara-gara anak tidak nyambung bicaranya karena hal ini akan membuat anak kecewa yang pada akhirnya berbuntut kerewelan.
-
Ungkapkan jenis pertanyaan yang memiliki jawaban yang pasti. Misalnya, anak sudah mandi? Makan? Atau yang lainnya. Hindari pertanyaan dengan pilihan jawaban. Misalnya dengan menanyakan anak main apa saja hari ini?
Baca Juga: Yuk Moms Cari Tahu Penyebab Kenapa Anak Sulit Dipakaikan Baju
-
Biarkan anak mengungkapkan maksudnya secara natural dan dengan gaya anak, sehingga anak merasa lebih relaks. Bila memang anak bercerita tentang apa yang dilakukannya hari itu, ladeni saja. Biarkan anak mengungkapkannya dengan bahasa yang pas-pasan. Dengan begitu kemampuan berkomunikasinya pun bisa tumbuh lebih optimal karena anak merasa bebas untuk mengungkapkan pendapatnya.
-
Sebaiknya, saat mengawali telepon kita dahulukan dengan kata-kata sapaan, misalnya ucapan salam, apa kabar, selamat siang, dan lainnya. Demikian pula saat menutup, kita bisa mengucapkan salam. Hal ini akan membuat anak terbiasa dengan etika bertelepon. Dengan begitu, kelak ketika dia bisa menelepon sendiri dia akan melakukannya dengan santun. Bukankah hal ini baik untuk citra dirinya?
-
Mungkin kita tidak punya waktu banyak untuk meladeni pembicaraan anak. Bila memang ingin menyudahkan pembicaraan gunakanlah dengan bahasa yang halus. “Maaf Adek, Mama lagi banyak sekali pekerjaan, sudah dulu ya. Nanti kita cerita lagi di rumah,” misalnya. Atau kita bisa membuat kesepakatan untuk saling berhubungan dengan anak pada waktu tertentu. Dengan demikian anak tetap merasa diperhatikan. Kesepakatan lain, anak boleh menelepon kapan saja jika ada kebutuhan atau kepentingan mendesak yang harus disampaikan. Dengan demikian anak bisa berdisiplin diri dalam menggunakan telepon. Sepakati hal ini dengan pengasuh anak, sehingga aturan yang diterapkan menjadi konsisten dan tidak membingungkan anak. Jangan malah langsung menghentikan telepon apalagi dengan kata-kata kasar karena hanya akan membuat anak merasa terabaikan.
Baca Juga: Jangan Mengancam Anak Tetapi Berikan Ia Penjelasan