Yang perlu kita lakukan :
Sering-seringlah merangsang anak untuk menghafal jalan-jalan yang pernah mereka lalui. Entah jalan menuju mal, sekolah kakak, rumah nenek, atau mungkin warung yang ada di komplek rumah. Dengan rangsangan seperti ini kecerdasan spasialnya akan semakin terangsang. Bila tumbuh optimal nantinya anak akan lebih mudah menghafal segala bentuk ruang, mulai dari pemetaan, diagram, bagan, dan lainnya.
- Biasanya Tidak Banyak Bicara
Umumnya, anak yang memiliki kecerdasan spasial yang baik dia tidak banyak bicara tetapi lebih aktif untuk mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan abastraksi ruang seperti mencorat-coret, mewarnai, bermain pasel, balok, dan sebagainya. Kegiatan ini jauh lebih diminati anak dibandingkan dengan minat verbalnya.
Yang perlu kita lakukan :
Sarana untuk mencorat-coret, mewarnai, pasel, bisa kita berikan agar ekspresi anak bisa lebih tersalurkan. Namun bukan berarti kita tidak mengajaknya berkomunikasi. Kumunikasi tetap perlu dilakukan agar kecerdasan verbalnya tidak terpendam.
- Memiliki Problem Solving Baik
Selain itu, umumnya anak yang memiliki kecerdasan spasial yang baik maka dia pun memiliki daya problem solving yang baik. Dia lebih mampu mencari solusinya dibandingkan anak lain karena dia bisa membayangkan what next, apa yang akan terjadi setelahnya. Misalnya, anak bisa menggunakan kursi untuk mengambil bola di atas meja karena dengan bantuan kursi dia dapat meraih bola tersebut. Dengan begitu anak akan lebih bisa menolong dirinya sendiri yang sangat baik untuk perkembangan kemandiriannya.
Yang perlu kita lakukan :
Kita bisa memberinya masalah-masalah keseharian yang sering ditemui anak. Misalnya, letakkan bola di kolong meja lalu letakka pula tongkat pengait beberapa meter dari bola. Mintalah anak untuk mengambil bola tersebut. Anak yang memiliki kecerdasan spasial tinggi akan mengambil tongkat dahulu kemudian meraih bola.
Baca Juga: Moms, Perlu Lo Sesekali Anak Dibebaskan Bermain
- Senang Mengukur
Beberapa anak, seringkali mengukur-ngukur mana yang lebih panjang-pendek, besar-kecil, jauh-dekat dengan alat-alat sederhana yang ditemukannya di rumah atau dengan anggota tubuhnya sendiri seperti menjengkal atau melangkah.
Yang perlu kita lakukan :
Kita bisa meminta anak untuk mengukur benda-benda yang ada di sekitarnya, mulai dari meja, pensil gambar, buku, atau mainannya. Mengukur tak harus dengan alat meter tetapi bisa menggunakan jengkal tangan, potongan tali, atau lebar langkah. Lewat latihan seperti ini anak diharapkan bisa memahami mana yang lebih panjang atau pendek, dan mana yang lebih besar atau kecil.