anak suka mengejek
SMARTPARENT.ID “Ble, mama jelek, prettt!” ucap anak sambil menunjukkan bokongnya. Atau “Nih, Adek colekin kotoran hidung,” anak pun mencolekkan telunjuknya ke tangan Moms. Kita pasti kaget tiba-tiba anak berlaku seperti itu. Lho, kok, dia bisa seperti itu? Berlaku kurang ajar kepada orang tua. “Nyontoh ke siapa dia?” mungkin itu kalimat yang akan timbul.
Baca Juga: Saat Makan Saatnya Anak Belajar
Sebenarnya, tidak hanya kepada orang tua saja anak bisa berlaku seperti itu, kepada orang lain pun dia akan melakukannya. Kepada kakak, tamu, temannya, dan banyak lagi. Anak berperilaku demikian karena meniru yang dilihatnya. Mungkin melihat perilaku orang tuanya, kakak-kakaknya, temannya, atau media sosial. Sebab, pada usia ini, masanya anak melakukan berbagai peniruan.
Apalagi pada masa ini sudah dimulai masa yang disebut golden age atau usia emas, di mana anak mendapatkan penanaman berbagai nilai, moral, dan kemampuan. Penanaman ini mudah diterima anak sebagai sesuatu yang akan dilakukannya. Bila penanamannya baik maka perilakunya pun akan baik. Sebaliknya, bila tidak maka akan timbul perilaku menyimpang. Di masa ini Moms perlu bertindak hati-hati dalam bertindak di depan anak. Bila sedikit saja keliru, semisal mengucap “Weks!” anak akan mudah mengikutinya.
Peniruan bisa berbentuk apa saja. Termasuk ketika Moms berlaku tidak sopan, semisal membentak pembantu. Meskipun tindakannya ditujukan kepada orang lain, namun bila anak melihat, tetap saja anak akan menirunya. Jangan heran, bila suatu saat anak akan berlaku seperti itu. Dan jangan heran pula, bila dia akan membalikkannya kepada orang tuanya. Tak lain, perilaku itu dipicu oleh tindakan orang tua yang pernah dilihat anak.
Baca Juga: Ini Manfaat Buat Anak Saat Belajar di Meja Makan
Sebaiknya Moms Juga Introspeksi
Bila pada kenyataannya anak berlaku tidak sopan, selain butuh introspeksi, Moms pun perlu memahami kenapa anak berlaku tidak sopan. Pahami bahwa perilaku anak bukan sesuatu yang benar-benar datang dari dalam dirinya melainkan dia hanya meniru apa yang dilihatnya. Perilaku yang keluar, meskipun sangat mengesalkan, jangan dibalas dengan pengekangan. Misal, Moms langsung membentak agar anak tidak dapat mengulangi perbuatannya.
Pengekangan, selain akan membuat anak ketakutan, juga dia merasa disudutkan. Kita perlu menghindari kata-kata yang berbau menyudutkan seperti bodoh kamu! kurang ajar sekali! Berani sekali. Sebab, anak sebenarnya tidak tahu, apakah perbuatannya salah atau tidak, dia hanya meniru.
Pengekangan ini tidak akan mengeluarkan anak dari masalah. Malah dikhawatirkan anak semakin akan begitu terus tanpa ada usaha untuk menghentikannya. Imbasnya, anak akan semakin kurang sopan bahkan kurang ajar dan orang tua akan lebih sulit melakukan pengarahan. Untuk itu diperlukan tindakan tepat dalam mengatasinya.
Introspeksinya, apakah selama ini Moms pernah berlaku seperti itu kemudian dilihat anak, atau, lingkungan yang memberinya contoh. Bila benar, anak perlu didekati dengan cara yang halus. Kemudian arahkan agar dia tidak melakukan hal itu lagi. Caranya, bisa dilakukan dengan memberitahuan ke anak dengan kalimat yang sederhana, singkat, dan mudah dimengerti. Bila sulit, Moms tidak perlu patah semangat. Arahannya, perlu dilakukan berulang-ulang. Bila tidak juga berhasil, mungkin orang tua tidak memperhatikan cara yang benar dalam mengarahkannya. Kita mesti melakukkannya dengan cara yang sangat simpatik, dengan cara yang sangat dipahami anak. Dengan bicara halus Anak lebih bisa menerima dari pada bicara kasar. Bila kata kasar yang keluar, maka arahan dan alasan yang kita keluarkan tidak akan sampai.
Selain itu, berikan alasan yang tepat kenapa anak tidak boleh berlaku seperti itu. Pada umur seperti itu, anak sangat membutuhkan alasan. Moms harus memberikan alasannya sehingga anak tahu kenapa dia tidak boleh melakukannya. Tidak serta Moms hanya melarang dengan keputusan yang tidak bisa ditolak. “Hei, kamu jangan begitu, dong, mama tidak suka!” misal.
Nantinya, bila anak sudah puas dengan alasan yang diberikan Moms maka dia akan menyetop perbuatannya dengan sendirinya. Tetapi bila dilarang dengan hanya mengatakan, Jangan, maka anak tidak tahu kenapa dia dilarang. Mungkin saat itu dia akan mematuhi tetapi dia akan mengulanginya kelak.
Dengan memberikan alasan yang tepat, sekaligus anak bisa diajarkan untuk selalu menggunakan alasan ketika dia akan melakukan sesuatu. Orang tua terkadang berpikir, “Ah, dia belum mengerti,” contoh. Anggapan ini keliru, sebab komunikasi dengan anak sudah dapat dilakukan sejak dia bayi. Misal, ketika orang tua senyum saat menatapnya, setidaknya bayi mengerti bahwa saat itu dia sedang disayang. Beda ketika orang tua cemberut, anak memahami bahwa orang tua sedang kesal. Apalagi anak yang sudah 3 tahun, dia sudah mengerti dengan apa yang dikomunikasikan oleh orang tuanya meskipun belum sepenuhnya.