Mengapa Anak Sehat Perlu Imunisasi? Begini Penjelasannya  

Photo Author
Hilman Hilmansyah, Smart Parent
- Senin, 29 April 2024 | 13:18 WIB
Anak sehat perlu mendapatkan vaksinasi, ini alasan kenapa anak sehat harus imunisasi (Pexels)
Anak sehat perlu mendapatkan vaksinasi, ini alasan kenapa anak sehat harus imunisasi (Pexels)

Rasa sakit di tempat suntikan diberikan

 

Dalam kasus yang jarang terjadi, vaksin dapat memicu masalah yang lebih serius, seperti kejang atau reaksi alergi yang parah. Jika anak memiliki riwayat alergi terhadap makanan atau obat-obatan, atau pernah mengalami masalah dengan vaksin sebelumnya, beri tahu dokter sebelum diberikan vaksin apa pun.

Setiap tahun, jutaan anak telah menerima vaksinasi dengan aman dan hanya sedikit yang mengalami efek samping yang serius.

Penelitian terus meningkatkan keamanan vaksin. American Academy of Pediatrics (AAP) kini menyarankan dokter untuk menggunakan vaksin difteri, tetanus, dan pertusis yang hanya mencakup bagian tertentu dari sel pertusis, bukan seluruh sel yang mati. Vaksin ini, yang disebut DTaP, dikaitkan dengan lebih sedikit efek samping.

Baca Juga: Mengenal Penyakit Asma pada Anak, Bagaimana Mengobatinya?

Apakah Vaksin atau Thimerosal Menyebabkan Autisme?

Tidak. Banyak penelitian tidak menemukan hubungan antara vaksin dan autisme. Demikian pula, laporan inovatif tahun 2004 dari Institute of Medicine (IOM) menemukan bahwa thimerosal (senyawa merkuri organik yang telah digunakan sebagai pengawet dalam vaksin sejak tahun 1930an) tidak menyebabkan autisme.

Namun, beberapa orang tua memilih untuk tidak memberikan imunisasi pada anak mereka, sehingga menempatkan mereka pada risiko besar terkena penyakit mematikan.

Vaksin MMR, khususnya, mendapat kecaman meskipun banyak laporan ilmiah tidak menemukan bukti yang menghubungkan vaksin tersebut dengan autisme. Faktanya, penelitian yang menunjukkan kemungkinan adanya hubungan antara autisme dan vaksin MMR telah ditarik kembali pada tahun 2004 dan dokter yang menerbitkannya kehilangan izin medisnya.

Bahkan, sebelum penelitian tersebut didiskreditkan dan dinyatakan palsu, penelitian tersebut ditolak oleh semua organisasi kesehatan besar, termasuk AAP, Institut Kesehatan Nasional (NIH), Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Baca Juga: Anak Berjalan Jinjit, Normalkah? Begini Cara Deteksinya  

Juga tidak ada alasan untuk percaya bahwa thimerosal terkait dengan autisme, menurut laporan IOM tahun 2004. Namun, dalam upaya mengurangi paparan merkuri dan logam berat lainnya pada masa kanak-kanak, thimerosal mulai dihilangkan dari vaksin anak-anak pada tahun 1999.

Kini, vaksin untuk bayi dan anak kecil tidak mengandung atau sangat sedikit thimerosal. Dan, penelitian terbaru tidak menunjukkan adanya masalah kognitif dan perilaku pada bayi yang mungkin mendapatkan vaksin yang mengandung thimerosal tersebut.

Jadi apa yang bisa menjelaskan peningkatan angka autisme dalam beberapa tahun terakhir? Pertama, definisi autisme yang lebih luas kini dapat diterapkan pada lebih banyak anak yang menunjukkan tingkat gejala yang berbeda-beda. Kesadaran yang lebih besar mengenai kondisi ini di kalangan profesional kesehatan juga telah menghasilkan lebih banyak diagnosis.

Halaman:

Editor: Hilman Hilmansyah

Sumber: kidshealth.org

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X