news-n-trend

Benarkah Wortel Punya Khasiat Super untuk Mata Minus? Begini Jawaban Dokter

Rabu, 15 Januari 2025 | 17:31 WIB
Wortel mengandung berbagai vitamin yang bermanfaat untuk mata, tapi tidak dapat mengobati mata minus (mali maeders/pexels)

Kaget banget dan sedih pas tahu anak minusnya setinggi itu.

Tapi untungnya dapat solusi dari VIO dengan menggunakan Ortho K. Sekarang anak saya udah bebas dari kacamata, sekolah dan belajar
juga lancar-lancar aja sekarang tanpa ada hambatan,” ujar Ibu Mira Galuh, orang tua pasien Terapi Ortho K di VIO Optical Clinic cabang Tangerang.

Athalla adalah salah satu dari 50% anak yang terkena gangguan penglihatan karena kurangnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya pemeriksaan mata sejak dini.

Baca Juga: Epidemi HMPV di Indonesia, Mengapa Kita Perlu Waspada?

Data survei kesehatan mata yang dilakukan oleh tim VIO Optical Clinic di berbagai sekolah di kawasan Jabodetabek menunjukkan fakta mengejutkan: lebih dari setengah anak usia 4 hingga 17 tahun memiliki
kondisi mata minus yang tidak terdeteksi, baik oleh mereka sendiri maupun oleh orang tua mereka.

Temuan ini menjadi peringatan penting bagi masyarakat mengenai dampak rendahnya kesadaran terhadap pemeriksaan mata rutin.

Gangguan penglihatan seperti ini tidak hanya memengaruhi kemampuan anak dalam belajar, tetapi juga memengaruhi konsentrasi, kemampuan sosial, hingga kualitas hidup mereka secara keseluruhan.

Sebagai tanggapan atas kondisi ini, VIO Optical Clinic meluncurkan program PERMADANI (Periksa Mata dari Dini).

Baca Juga: Mirip Flu Biasa, Mengenal Penyakit HMPV yang Mulai Menyebar

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini gangguan penglihatan pada anak-anak.

Melalui program ini, VIO Optical Clinic mengadakan rangkaian edukasi, pemeriksaan mata gratis di sekolah-sekolah, dan kampanye sosial untuk mendorong orang tua lebih peduli terhadap kesehatan mata anak.

Peningkatan kasus mata minus, yang dikenal dengan istilah Myopia Boom, telah menjadi perhatian serius, terutama karena pengguna gadget selama pandemi menjadi salah satu faktor pemicu utama.

Aktivitas jarak dekat yang semakin intens selama beberapa tahun terakhir
berkontribusi pada lonjakan angka gangguan refraksi pada anak-anak.

Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis: Katalis Perubahan Ekonomi Masyarakat

Kondisi ini menuntut adanya tindakan pencegahan yang lebih efektif untuk membantu mengontrol perkembangan mata minus sejak dini.

Halaman:

Tags

Terkini