news-n-trend

Pulse Day 2026: Kolaborasi Global Para Ahli Jantung Ajak Masyarakat Kenali Gangguan Irama Jantung Melalui MENARI  

Minggu, 15 Februari 2026 | 16:02 WIB
Gangguan irama jantung atau Aritmia masih menjadi masalah kesehatan serius yang kerap tidak disadari masyarakat. (dok.)

 

SMARTPARENT.ID - Gangguan irama jantung atau Aritmia masih menjadi masalah kesehatan serius yang kerap tidak disadari masyarakat. Secara global, satu dari tiga orang berisiko mengalami gangguan irama jantung sepanjang hidupnya, namun banyak kasus baru terdeteksi setelah  menimbulkan komplikasi berat seperti Stroke dan gagal jantung.

Kondisi inilah yang mendorong  peringatan Pulse Day 2026, sebuah kampanye kesadaran kesehatan global yang diperingati setiap 1 Maret (1-3) untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap irama jantungnya sendiri. Pulse Day sendiri merupakan kampanye global yang menekankan pentingnya deteksi dini Aritmia melalui langkah sederhana, yakni memeriksa denyut nadi secara mandiri.

Upaya ini relevan secara global, termasuk Indonesia, mengingat Aritmia sering kali tidak menimbulkan gejala awal sehingga luput dari perhatian hingga terjadi kondisi yang mengancam jiwa. Melalui Pulse Day, masyarakat diingatkan bahwa pemeriksaan sederhana dapat menjadi langkah awal pencegahan yang sangat berarti.

Dr. dr. Dicky Armein Hanafy, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), Subsp. K.I.(K), FIHA, FAsCC, Head of Pulse Day Task Force, sekaligus Chairperson of Public Affairs Committee Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS) dalam sambutannya menyatakan, “Gangguan irama jantung sering kali tidak bergejala dan baru diketahui ketika komplikasi sudah terjadi. Padahal, sebenarnya deteksi dini dapat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan MENARI (MEraba NAdi sendiRI) secara rutin.”

“Maka, pesan utama Pulse Day 2026 ini menekankan pentingnya mengenali irama jantung sendiri melalui gerakan MENARI tersebut. Kampanye ini mengedukasi masyarakat untuk mengenali apakah denyut nadi terasa teratur atau tidak, sekaligus meningkatkan pemahaman mengenai berbagai jenis Aritmia, khususnya Atrial Fibrillation (AF/Fibrilasi Atrium) yang dikenal sebagai salah satu penyebab Stroke yang sebenarnya dapat dicegah. Dengan pemeriksaan nadi yang dilakukan secara rutin, kelainan irama jantung dapat terdeteksi lebih awal sehingga penanganan medis dapat diberikan tepat waktu dan bahkan lebih cepat,” kata Dr. Dicky.

Pada tahun ini, pelaksanaan Pulse Day dipimpin oleh Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS) bersama organisasi mitra internasional seperti European Heart Rhythm Association (EHRA), Heart Rhythm Society (HRS), dan Latin American Heart Rhythm Society (LAHRS), dengan dukungan Arrhythmia Alliance serta World Heart Federation. Indonesia pada tahun ini turut berpartisipasi aktif melalui kolaborasi dengan para kardiolog, rumah sakit, media, dan organisasi masyarakat untuk menyebarluaskan edukasi mengenai Aritmia dan pentingnya pemeriksaan nadi.

Dr. Dicky menjelaskan kembali, “Di Indonesia, kampanye Pulse Day 2026 diperkuat melalui publikasi artikel kesehatan di media massa, edukasi publik oleh tenaga medis, serta adaptasi materi kampanye ke dalam bahasa dan konteks budaya lokal agar pesan dapat menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas. Upaya ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih proaktif menjaga kesehatan jantung dan tidak menunggu hingga gejala sudah semakin parah.”

Puncak Pulse Day 2026 sendiri akan bertepatan dengan penyelenggaraan APHRS Summit di Selandia Baru (New Zealand), yang menghadirkan berbagai kegiatan edukasi publik, termasuk pemeriksaan denyut nadi secara massal dan kampanye media sosial global. Sejumlah negara juga menggelar kegiatan komunitas seperti pemeriksaan nadi gratis dan aktivitas interaktif lainnya. “Melalui Pulse Day 2026, kami berharap awareness yang berusaha kami bangun dapat bertransformasi menjadi aksi nyata, dimulai dari langkah sederhana seperti MENARI, demi jantung yang lebih sehat,” tuturnya.

Urgensi deteksi dini gangguan irama jantung kembali ditegaskan oleh Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), FIHA, FAsCC, FEHRA, FAPHRS, Advisary Board PERITMI/Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) & Founder of MENARI, MURI Achievement Holder 2023. Ia menjelaskan, “Fibrilasi Atrium merupakan kelainan irama jantung yang paling sering ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia, dengan dampak serius karena meningkatkan risiko Stroke hingga 5 kali lipat dan risiko kematian 2 kali lipat.

Namun demikian, sekitar 50% kasus fibrilasi atrium tidak terdiagnosis karena penderitanya tidak menyadari adanya gangguan irama jantung dalam dirinya.” Kondisi tersebut melatarbelakangi dikampanyekannya MENARI sebagai langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk memeriksa keteraturan denyut jantung secara mandiri melalui perabaan nadi, yang menurut beberapa penelitian, terbukti mampu meningkatkan deteksi fibrilasi atrium dan membuka peluang penanganan lebih dini guna menurunkan risiko Stroke. “MENARI dilakukan dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di pergelangan tangan atau leher, menghitung denyut selama 30 detik lalu dikalikan dua untuk mendapatkan denyut per menit. Denyut normal berkisar 60–100 kali per menit, namun keteraturan irama juga perlu diperhatikan,” jelas Prof. Yoga.

Ia menambahkan, denyut nadi yang terasa tidak teratur, ada denyut yang hilang, iramanya bervariasi, terlalu cepat di atas 100 kali per menit atau terlalu lambat di bawah 60 kali per menit merupakan tanda yang tidak boleh diabaikan, terutama bila disertai keluhan seperti pusing, keringat dingin, nyeri dada, sesak napas, pingsan, bicara pelo, atau kelemahan anggota gerak. Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut untuk mencegah komplikasi yang lebih serius

Secara ilmiah, Prof. Yoga menegaskan bahwa MENARI merupakan langkah awal yang efektif untuk mendeteksi denyut jantung tidak teratur, meskipun tidak dimaksudkan untuk menegakkan diagnosis. Jika nadi terasa tidak teratur, pemeriksaan lanjutan seperti rekaman EKG perlu dilakukan, terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti usia lanjut atau penderita penyakit jantung. Dengan deteksi dini dan pengobatan yang tepat, termasuk penggunaan pengencer darah pada kasus fibrilasi atrium, risiko Stroke dapat berkurang secara bermakna, menjadikan MENARI sebagai kebiasaan sederhana dengan dampak besar bagi pencegahan penyakit kardiovaskular.

 

Halaman:

Tags

Terkini