Pulse Day 2026: Kolaborasi Global Para Ahli Jantung Ajak Masyarakat Kenali Gangguan Irama Jantung Melalui MENARI  

Photo Author
Hilman Hilmansyah, Smart Parent
- Minggu, 15 Februari 2026 | 16:02 WIB
Gangguan irama jantung atau Aritmia masih menjadi masalah kesehatan serius yang kerap tidak disadari masyarakat. (dok.)
Gangguan irama jantung atau Aritmia masih menjadi masalah kesehatan serius yang kerap tidak disadari masyarakat. (dok.)

“Kebiasaan memeriksa nadi secara berkala dapat membantu menemukan gangguan irama jantung (fibrilasi atrium) yang sebelumnya tidak disadari. Bila gangguan ini terdeteksi dan diobati dengan pengencer darah yang tepat, risiko Stroke dapat berkurang secara bermakna. Walaupun penelitian besar yang secara langsung membuktikan bahwa kebiasaan meraba nadi sendiri menurunkan angka  Stroke masih terbatas, tapi tetap saja jalur manfaatnya, mulai dari deteksi dini hingga pencegahan Stroke, sudah sangat kuat secara ilmiah,” katanya.

dr. Ardian Rizal, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), FIHA, Sekretaris Bidang 1 PERITMI/Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) mengungkapkan, “Dalam 21 tahun terakhir, Indonesia tercatat mejadi salah satu wilayah yang memiliki kenaikan prevalensi fibrilasi atrium tertinggi di kawasan ASEAN. Peningkatan ini berkaitan erat dengan bertambahnya angka harapan hidup serta perubahan gaya hidup yang mendorong meningkatnya penyakit metabolic (salah satu faktor risiko fibrilasi atrium). Selain itu, tantangan terbesar lainya adalah sifat penyakit ini yang sering kali asimtomatik atau tanpa gejala. Akibatnya, banyak kasus baru terdiagnosis justru setelah pasien mengalami komplikasi serius seperti Stroke.”

Dalam konteks tersebut, tambahnya, deteksi dini menjadi kunci untuk memutus rantai risiko Stroke dan dampak jangka panjang fibrilasi atrium. Upaya skrining sejak dini, baik melalui metode manual MENARI maupun pemanfaatan teknologi wearable device, memungkinkan intervensi medis dilakukan lebih awal sebelum komplikasi muncul. Dengan mengetahui gangguan irama jantung sejak fase awal, risiko kecacatan akibat Stroke dapat ditekan sekaligus menjaga kualitas hidup dan prognosis kesehatan pasien secara berkelanjutan.

“Perkembangan teknologi wearable device dinilai semakin memperkuat upaya deteksi dini tersebut. Perangkat yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai pelacak kebugaran kini telah berevolusi menjadi alat skrining medis real-time, berkat integrasi sensor fotoplethismografi (PPG) dan elektrokardiogram (EKG) satu sadapan yang semakin sensitif. Kemajuan ini memungkinkan pemantauan irama jantung dilakukan secara kontinu di luar rumah sakit, sehingga episode fibrilasi atrium yang bersifat hilang timbul (paroxysmal) dan sulit terdeteksi melalui pemeriksaan konvensional dapat lebih mudah dikenali,” kata dr. Ardian.

Meski demikian, dr. Ardian menegaskan, “Tapi perlu dipahami bahwa teknologi tetap punya keterbatasan. Perangkat ini berfungsi sebagai alat skrining awal, bukan penegak diagnosis medis, sehingga potensi hasil positif palsu akibat gerakan tangan atau gangguan sensor tetap ada. Oleh karena itu, setiap notifikasi ketidakteraturan irama jantung dari wearable devices harus disikapi secara bijak dan dikonfirmasi melalui pemeriksaan EKG klinis (12 sadapan) oleh dokter jantung, guna memastikan akurasi diagnosis dan penanganan yang tepat,” tegasnya.

Pulse Day 2026 menegaskan bahwa kesadaran terhadap irama jantung bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga bagian dari kepedulian setiap individu terhadap kualitas hidupnya sendiri. Melalui kebiasaan sederhana seperti MENARI dan pemanfaatan teknologi yang tepat, deteksi dini fibrilasi atrium diharapkan dapat menjadi langkah nyata untuk menekan angka Stroke dan menyelamatkan lebih banyak jiwa.***

Halaman:

Editor: Hilman Hilmansyah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X