Menjemput Gelar, Menjahit Makna: Catatan Perjalanan Doktoral Dr. Efendi Lod Simanjuntak

Photo Author
Hilman Hilmansyah, Smart Parent
- Rabu, 9 Juli 2025 | 07:43 WIB
Buku ini mendekatkan pembaca pada realitas bahwa meraih gelar doktor bukan hanya tentang lulus, tetapi juga tentang kesiapan berpikir lebih dalam, menulis lebih panjang, dan bersabar hadapi kegamangan (Dok. pri)
Buku ini mendekatkan pembaca pada realitas bahwa meraih gelar doktor bukan hanya tentang lulus, tetapi juga tentang kesiapan berpikir lebih dalam, menulis lebih panjang, dan bersabar hadapi kegamangan (Dok. pri)

Efendi tidak berhenti pada catatan reflektif. Ia membagikan strategi praktis: bagaimana memilih tema riset yang tidak sekadar unik di atas kertas, tetapi juga realistis dikerjakan hingga tuntas. Bagaimana menjalin hubungan yang sehat dengan promotor — tidak sekadar “mencari tanda tangan”, tetapi membangun dialog akademik yang jujur. Bagaimana menghadapi revisi tanpa baper, bagaimana menjaga stamina pikiran di tengah tugas profesional, keluarga, dan tekanan biaya.

Bagi pembaca yang tidak (atau belum) berniat mengambil S-3, buku ini tetap menarik karena memperlihatkan apa yang jarang terlihat di balik gelar Ph.D. — revisi yang berulang, literatur yang harus terus diperbarui, seminar terbuka yang sering mematahkan argumentasi awal, hingga momen sunyi saat menghadapi blok mental. Efendi menuliskan semua ini dengan gaya bertutur, tidak berpretensi menggurui, tetapi lebih seperti kawan seperjalanan yang berbisik: “Kalau kamu mau masuk ke jalur ini, inilah medan aslinya.”

Buku ini juga menyinggung sisi nonakademis. Betapa dukungan keluarga menentukan apakah seseorang bisa menyelesaikan S-3 tepat waktu. Betapa manajemen keuangan, manajemen ego, hingga kesadaran akan “waktu terbaik” memengaruhi motivasi. Efendi dengan jujur mengingatkan, tidak semua orang cocok menempuh S-3. Beberapa orang justru lebih bermanfaat mengasah keahlian praktis atau fokus menulis di luar jalur formal.

Di antara deret tip praktisnya, Efendi menanamkan satu gagasan penting: gelar doktor hanyalah pintu masuk. Nilai sejatinya terletak pada kebaruan ide yang dihasilkan. Jika gelar doktor hanya menjadi pajangan di kartu nama, maka seluruh energi bertahun-tahun akan hilang percuma. Namun jika gelar doktor diisi dengan karya, publikasi, seminar, dan kontribusi gagasan, maka di situlah gelar itu menemukan maknanya.

Sebagai pembaca, kita diajak menengok realitas: di banyak tempat, program doktoral sering ditakuti karena ribetnya birokrasi, ketatnya administrasi, dan tingginya biaya. Efendi mengingatkan bahwa tantangan birokrasi harus dijawab dengan manajemen diri. Dalam riset doktoral, kata Efendi, now or never berlaku nyata: menunda berarti membuka lebih banyak ruang gangguan, risiko kehilangan semangat, hingga terbengkalainya gagasan yang sudah dirancang.

Bagian yang membuat buku ini berbeda dari buku motivasi studi lain adalah keberanian penulis menuliskan kontradiksi di dunia akademik. Efendi tahu, di balik ruang seminar, kadang ada kepentingan, politik internal, atau rivalitas keilmuan yang bisa mematahkan niat. Ia tidak menutupi hal itu — justru menekankan pentingnya menjaga integritas pikiran, menghormati perbedaan, dan tetap berpegang pada nilai kebenaran ilmiah.

Dengan gaya tutur yang cair, sesekali diselingi humor ringan, buku ini terasa seperti memoar singkat. Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menyiapkan mental siapa pun yang ingin menempuh jalur doktoral. Bahwa tidak cukup hanya pandai membaca literatur, tetapi juga harus tahan mental, piawai berdiskusi, dan siap dikritik di ruang terbuka.

Akhirnya, buku ini juga pantas dibaca oleh para dosen pembimbing, birokrat kampus, atau siapa pun yang terlibat merancang sistem pendidikan S-3 di Indonesia. Di era disrupsi saat ini, di mana banyak orang meraih gelar demi gelar tetapi minim kontribusi gagasan, buku ini menjadi pengingat: S-3 bukan sekadar syarat administratif, tetapi ladang menanam pengetahuan baru.

Buku ini menutup dengan bisikan sederhana: “Ilmu bukan sekadar hiasan gelar. Ia hidup pada cara berpikir, cara menulis, dan cara kita membagikan makna pada orang lain.” Di sinilah, Perjalanan Akademis Studi Doktoral menemukan misinya: mendorong siapa pun yang belajar, agar tidak sekadar lulus — tetapi juga pulang membawa sesuatu yang baru untuk ditinggalkan bagi generasi berikutnya.

Halaman:

Editor: Hilman Hilmansyah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Terkini

X