SMARTPARENT.ID Ingin meningkatkan keharmonisan dalam rumah tangga? Kenapa tidak mencobanya dengan melakukan makan bersama. Aktivitas ini dapat melekatkan hubungan antarpasangan maupun dengan anak. Luangkanlah waktu untuk makan bersama keluarga, jika sulit melakukannya setiap hari bisa seminggu atau dua minggu sekali. Tetapi yang jelas, lebih sering dilakukan lebih baik.
Pada dasarnya setiap orang butuh menjadi bagian dari sesuatu, terikat dari sesuatu, dan mengakar kepada sesuatu atau Social Needs. Salah satu yang terpenting adalah menjadi bagian dari anggota rumah yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Ditambah anggota lain yang mungkin tinggal dalam satu rumah seperti orangtua, adik, pengasuh, atau yang lainnya. Bersosialisasi di dalam keluarga merupakan hal yang paling mendasar sebelum bersosialisasi di luar keluarga.
Abraham Maslow, psikolog terkenal, dalam teori hirarki kebutuhan setiap manusia (Hierarchy of Needs), menempatkan kebutuhan Social Needs di urutan ketiga (Physiological Needs, Security Needs, Social Needs, Esteem Needs, dan Self-actualizing Needs). Menurut Maslow, kebutuhan ini tak sekadar bersosialisasi biasa tetapi masuk di dalamnya kebutuhan untuk saling memiliki, mencintai dan menyayangi, kebersamaan, sentuhan keromantisan, juga saling tolong menolong.
Baca Juga: Menitipkan Anak ke Kakek-Nenek? Boleh Saja Tapi Bikin Aturan Main yang Baik
Semakin Dekat dengan Anggota Keluarga
Kebutuhan mendasar selain bersosialisasi, manusia juga butuh pemenuhan sandang dan pangan seperti makan. Di dalam makan akan terpenuhi banyak kebutuhan, diantaranya fisiologis dan psikologis. Kedua manfaat ini bisa dinikmati secara bersamaan, salah satunya lewat makan bersama anggota keluarga di meja makan.
Manfaat fisiologis akan didapat jika kita menyukai makanan yang kita santap dan bergizi seimbang. Energi yang hilang pun terisi kembali. Namun jika hanya ingin memenuhi kebutuhan ini kita bisa makan dimanapun. Di warung, restoran, atau di rumah, yang kita lakukan sendirian tanpa keluarga. Sementara manfaat psikologis, dalam arti kedekatan dengan anggota keluarga baru didapat jika kita makan bersama anggota keluarga. Baik di rumah atau tempat lain.
Kedekatan dengan anggota keluarga akan jauh lebih intens jika kita mempersiapkan acara makan secara bersama-sama. Kita bisa menentukan menu yang akan dibuat, belanja bersama, memotong bahan-bahan, memasak, menghidangkan, menikmati, hingga membersihkan meja makan bersama-sama. Interaksi-interaksi kecil kala mempersiapkan makanan bisa mempererat hubungan yang tentunya akan memperkuat keharmonisan dalam hubungan rumah tangga. Terutama dengan pasangan dan anak.
Pada anak-anak, makan bersama bisa membuat mereka belajar mengapresiasikan makanan. Ketika ia merasakan makanannya enak, suasananya enak, maka ia akan merasakan sebuah kenikmatan acara makanan. Kelak mereka pun akan merindukan kembali acara ini dan tak mustahil ia tak sulit diminta makan. Selain itu anak yang kerap makan bersama dengan orangtuanya biasanya secara emosional dan fisik ia akan tumbuh lebih sehat.
Baca Juga: Kiat Mengatasi Sulit Tidur Pada Ibu Hamil
Ciptakan Suasana Menyenangkan Saat Makan Bersama
Setiap keluarga perlu meluangkan waktu untuk makan bersama. Memang, masyarakat perkotaan yang komuter kerap kesulitan mencari waktu. Makan bersama seakan menjadi mewah. Namun perlu diusahakan, jadwalkan apakah seminggu sekali atau beberapa minggu sekali. Tidak ada patokan apakah harus dilakukan setiap hari namun yang jelas semakin sering dilakukan akan semakin baik.
Untuk memperoleh aneka manfaat tersebut maka acara makan bersama harus memperhatikan beberapa hal berikut.
- Menyenangkan Buat Semua
Acara makan bersama harus menyenangkan semua anggota keluarga. Misalnya menciptakan suasana yang menyenangkan, menu disukai dan jangan pilih menu dimana salah satu anggota keluarga sangat tidak menyukai atau tidak boleh memakannya, hingga memilih peralatan makan yang disukai seperti gelas besar bergambar aktor film kesukaan pasangan atau sendok bergambar tokoh kartun yang disukai anak. Penyajian makanan pun perlu diperhatikan keindahannya. Setidaknya tidak meletakkannya secara sembarangan.