buah-hati

Ih… Kecil-kecil Kok Suka Mengejek

Rabu, 17 Juli 2024 | 22:36 WIB
Mengatasi anak suka berteriak memang tidak mudah. Perlu cara tepat mengatasi anak suka berteriak (Pexels/Stephen Andrews)

Sangat dianjurkan agar kita menghindari ejekan-ejekan. Apalagi ejekan yang sifatnya mendiskreditkan anak. Misalnya, anak diminta untuk melakukan satu hal, mengambilkan sepatu ayah misalnya, tetapi dia tidak berhasil melakukannya kemudian orang tua mengatakan, “bodoh kamu, begitu saja tidak bisa,” ini merupakan awal dimana anak mulai mengenal bahwa dirinya dalam konteks yang negatif. 

Ejekan tidak memberikan solusi kepada anak. Sebaiknya kita berikan padanan kata yang bisa memberikan deskripsi lebih jelas kepada anak untuk melakukan hal yang baik. Misalnya, untuk mengatakan pelit kita bisa menggunakan kalimat sepadan, yakni dengan mengucapkan kalimat sederhana, “Adek, adiknya minta rotinya, diberi ya, kamu kan sayang sama adik, jangan dimakan sendiri,” misalnya. Dengan kalimat seperti ini diharapkan anak bisa memahami apa yang kita katakan. Konsep sederhana tentang berbagi pun bisa anak lakukan. Berbeda halnya dengan kata “pelit” jelas tidak memberikan solusi buat anak.

Selain itu, bila ejekan terus menerus dilakukan kepada anak, mungkin saja, seiring dengan perkembangan pola pikirnya, anak berusaha memahami apa yang sering dicapkan orang lain. Apalagi di usia ini anak sudah mulai bisa menganalisis hal-hal kecil. “Kenapa ya ketika mama bilang aku bodoh, pelit, malas, selalu dengan mimik marah?” Nah, saat anak tahu bahwa itu adalah cap negatif yang dikenakan untuk dirinya tak mustahil akan tumbuh konsep negatif pada diri anak. Bila anak memahami kalau dirinya itu negatif di mata orang lain maka akan muncul rasa rendah diri, tidak disukai, yang nantinya akan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadiannya.

Lebih parah lagi bila nanti anak masuk ke dalam fase usia prakonvensional, antara 8 sampai 12 tahun, bila penilaian negatif itu terus berkembang, akan sangat mempengaruhi pertumbuhan psikisnya. Apapun yang didapat anak saat balita merupakan identifikasi sejak awal. Ini merupakan bahan bakar dari apa yang nantinya terbentuk. Bila awalnya dia dicap buruk  itu akan dia pegang sampai dia dewasa. Anak akan berusaha menyesuaikan antara ejekan yang sudah diterimanya sejak balita dengan keadaannya sekarang. Mungkin saja kreativitas dan kecerdasan anak tidak berkembang dengan maksimal hanya gara-gara dia tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi. “Aku memang bodoh, aku malas, aku pelit.” Padahal, untuk berkembang anak kan butuh rasa percaya diri yang kuat agar dia berani untuk mengungkapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kreativitasnya sehingga dia bisa belajar dari kesalahan-kesalahan yang terjadi.

Bagaimana bila ejekannya datang dari orang lain? Moms tidak boleh tinggal diam apalagi malah memperkuatkan ejekan tersebut. Moms harus memberikan penjelasan dan arahan bila ada yang mengejek anak. Beberapa hal yang biasanya menjadi bahan ejekan terhadap anak, dari segi fisik, perilaku, sifat, dan kecerdasan. Fisik misalnya, ejekan berkaitan dengan tubuh anak, seperti gendut, kurus, mata juling, hidung pesek, dan sebagainya. Ketika kata-kata ejekan seperti ini keluar, sangat baik bila kita sebagai orang tua memberikan penjelasan. “Tubuh kamu memang gendut, tapi kamu kan jadi kuat seperti Samson!” misalnya. “Hidung boleh pesek, tapi menurut mama kamu itu tetap cantik,” misalnya. Dan penjelasan-penjelasan lain yang bisa membuat anak terhindar dari rasa tidak percaya diri kelak.

Baca Juga: Si Kaka Kok Suka Cemburu ke Adik. Kenapa Ya?

Halaman:

Tags

Terkini

Tips Menghadapi Baby Blues Syndrome

Kamis, 14 Agustus 2025 | 08:08 WIB

Apakah Perlu Birth Plan? Ini Penjelasannya

Senin, 4 Agustus 2025 | 13:27 WIB