SMARTPARENT.ID Andrian, yang baru berusia 3 tahun, tampak begitu gembira ketika diberikan pasel oleh mamanya. Tanpa banyak bicara dia langsung meraih mainan kesenangannya itu. Andrian langsung menyusunnya dan seluruh pikirannya terfokus pada pasel. Dia tidak memedulikan ayahnya yang menghampirinya. Padahal, biasanya, kalau ayah dan mamanya pulang dari kantor, Andrian langsung menubruk untuk menikmati pelukan hangat kedua orang tuanya. Tapi Andrian malah lebih memilih berkutat dengan paselnya. Dan seperti biasa, pasel itu akan lengkap tersusun dalam waktu tidak kurang dari dua menit.
Baca Juga: Bila Anak Terbiasa Berbicara Kasar, Agak Lama mengatasinya
Pintar menyusun pasel dalam waktu cepat, padahal baru berusia 3 tahun, menunjukkan bahwa anak memiliki kecerdasan spasial yang sangat baik. Apalagi bila dia dapat melakukannya melebihi waktu rata-rata yang dibutuhkan anak pada umumnya. Pasalnya, pasel merupakan permainan yang berhubungan dengan abstraksi ruang yang merupakan unsur dari kecerdasan spasial.
Kecerdasan Spasial Sangat Mendukung Aktivitas
Kecerdasan spasial, merupakan salah satu dari tujuh kategori kecerdasan berdasarkan teori Howard Gardner "Multiple Intelligences" yang dicetuskannya tahun 1983. Kecerdasan lainnya adalah musikal, kinestetik, logika-matematika, bahasa, interpersonal dan intrapersonal. Masing-masing kecerdasan sudah diatur di dalam otak, kecerdasan spasial diatur oleh belahan otak bagian kanan.
Masing-masing kecerdasan saling mendukung dengan kecerdasan yang lainnya. Bila anak memiliki kecerdasan spasial yang baik maka akan mendukung kecerdasan anak yang lainnya. Di samping itu kecerdasan spasial sangat berkaitan dengan aktivitas sehari-hari. Bila kecerdasannya baik maka dia akan lebih mudah untuk beraktivitas karena anak bisa mengukur mana yang lebih besar dan kecil, lebih jauh dan dekat, lebih tinggi dan pendek, dan sabagainya. Ketika dia ingin mengangkat sesuatu, tas misalnya, bila dia tahu bahwa tas itu lebih besar dari tubuhnya maka anak bisa mengurungkan niatnya karena mungkin dia berpikiran tidak akan kuat mengangkatnya. Berbeda halnya bila kemampuan spasialnya sangat rendah, mungkin anak memaksakan diri untuk mengangkatnya meskipun dia tidak sanggup.
Untuk itu, setiap orang tua diharapkan bisa melakukan perangsangan kecerdasan spasial ini sejak dini, selain penting untuk kesehariannya, kecerdasan spasial yang baik juga akan sangat mendukung kesuksesan kehidupannya kelak saat dewasa.
Baca Juga: Biarkan Anak Corat-coret, Disitu Tumbuh Kreativitas
Kercerdasan Spasial Laki-laki dan Perempuan Sama Saja
Secara umum terlihat bahwa anak laki-laki memiliki kecerdasan spasial yang lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Namun berdasarkan penelitian hal ini tidak terbukti. Anak perempuan yang mendapat stimulasi yang sama dengan anak laki-laki maka kecerdasan spasialnya pun tumbuh dengan baik. Namun di dalam masyarakat, seringkali anak laki-laki lebih diminta untuk bergaul dengan alat-alat keteknikan, merakit, hal ini secara tidak langsung memberikan kesempatan yang lebih besar kepada anak laki-laki untuk mengembangkan kecerdasan spasialnya. Sedangkan anak perempuan lebih cenderung untuk bermain boneka, menari, menyanyi, yang tidak berkaitan dengan stimulasi spasial.
Namun saat ini, banyak orang tua yang memberikan kesempatan yang sama terhadap anak perempuan dan laki-laki dalam hal stimulasi spasisl. Anak laki-laki dan perempuan boleh bermain lego, pasel, bahkan mainan-mainan abstraksi ruang lain sehingga stimulasi yang didapat seimbang yang akhirnya membuat kecerdasan spasialnya pun tumbuh sama baiknya.
Baca Juga: Anak Mau Mandi Hujan, Boleh Asal Perhatikan Keamanannya
Kemampuan spasial yang baik, bisa diturunkan secara genetik. Bila orang tua memiliki kemampuan spasial tinggi, seorang arsitek misalnya, umumnya akan memiliki anak yang memiliki kemampuan spasial yang baik pula. Begitu sebaliknya. Bila orang tuanya seorang pelukis, umumnya salah satu anaknya akan menguasai melukis pula.
Anak yang punya kemampuan spasial baik, biasanya kelak dia akan menyenangi dengan profesi yang berkaitan dengan abstraksi ruang, seperti desain grafis, arsitek, sipil, animator. Meskipun kita belum tahu nantinya anak akan berprofesi seperti apa, tak ada salahnya bila sejak kecil kecerdasan ini kita rangsang. Begitu pula sebaliknya, bila sejak awal kecerdasan spasialnya lemah, akan sulit bagi anak bila kelak dia memilih profesi-profesi tersebut. Pasalnya, modal untuk mampu melakukannya tidak dimiliki anak dengan baik.