SMARTPARENT.ID Anak yang suka meniru perkataan orang lain diistilahkan dengan membeo. Ini merupakan perilaku yang sering ditemui pada batita usia 1-3 tahun karena memang di usia ini dia tengah mengembangkan berbagai kemampuannya dan mencoba menerapkannya di kehidupan sehari-harinya.
Membeo, bila diarahkan dengan baik bukanlah hal negatif melainkan hal alami yang sangat bermanfaat. Pasalnya dengan membeo berarti anak dapat menunjukkan kemampuannya berbahasa. Selain itu anakpun bisa belajar banyak untuk menambah kosa katanya bahkan kita dapat memperbaiki kata-kata yang salah diucapkan anak.
Baca Juga: Moms, Yuk Ajak Anak Naik Mobil. Biarkan Ia Menjelajah
Dengan membeo pun bisa menjadi sarana untuk mengekpresikan perasaan dan keinginan anak dengan lebih jelas. Misalnya, ketika anak kesal kepada temannya dia bisa mengucapkan “Neneng pelit!” misalnya. Atau ketika dia lapar dapat segera dipenuhi karena pengungkapannya jelas, “mau makan!” misalnya. Intinya, selain dapat mengembangkan kemampuan berbahasanya juga bermanfaat untuk mengungkapkan emosi dan keinginannya.
Beberapa hal yang menjadi faktor peniruan bahasa ini sering dilakukan anak, misalnya :
- Peningkatan Kemampuan Berbahasa
Mulai usia satu tahun anak sudah mulai bisa mengucapkan satu kata seperti mama, papa, mamam, main. Mendekati usia dua tahun kemampuan berbahasanya menjadi 2-3 kata, seperti mama makan, mau emam, inta ucu (minta susu), dan sebagainya. Nah, menjelang usia 3 tahun perbendaharaan katanya sudah lebih banyak lagi, anak sudah bisa merangkai 3-4 kata sekaligus, misalnya “mama ade mau main.” Dengan kemampuan berbahasa yang baru dimilikinya ini makamembuat balita selalu ingin menjajalnya. Saat dia mendengar kata-kata yang bisa diikutinya maka ia akan menirukannya atau membeo.
- Daya Tangkapnya Bagus
Seiring bertambahnya usia si batita maka daya tangkapnya pun akan semakin berkembang dan solid. Anak mudah menangkap perkataan yang didengar dari lingkungannya. Bila sedang bermain kemudian dia menangkap perkataan di telinganya maka dia akan segera menirukannya. Sebaliknya, bila daya tangkap anak tidak berkembang baik, kemungkinanpeniruan menjadilebih kecil.
Baca Juga: Ini Moms, Tips Sukses Menerapkan Rutinitas Anak yang Terjadwal
- Respon Menyenangkan dari Lingkungan
Anak semakin tertarik melakukan peniruan kata-kata bila dia mendapatkan respon yang sangat ekspresif. Misalnya, ketika anak mengungkapkan sesuatu kemudian kita terkejut, marah, atau pura-pura terkejut atau marah, maka dia akan mengulangi ucapannya kembali. Sebab anak bekitu senang dengan imbal balik yang kita berikan karena dia merasa diperhatikan.
- Menarik Perhatian Anak
Daya tarik yang ditiru juga merupakan faktor penting peniruan anak. Misalnya, ada iklan di teve yang begitu menarik perhatiannya maka dia akan segera menirukannya. Hal ini terutama pada iklan yang memiliki jargon yang begitu kuat seperti pada iklan jamu “wes ewes bablas angine!” Apalagi iklan-iklan tersebut berulangkali ditayangkan di teve sehingga anak sering melihatnya. Hal ini membuat peniruannya begitu kental dan terkadang berlangsung cukup lama.