SMARTPARENT.ID “Anak saya termasuk hiperaktif lo, dia tidak bisa diam tetapi selalu bergerak!” ujar seorang ibu dengan bangga kala menceritakan perilaku anaknya yang sering berlarian, lompat, panjat, dan lain-lain. Menurutnya, anak hiperaktif berarti memiliki kelebihan karena mobilitasnya yang lebih tinggi dibandingkan anak lain.
Padahal belum tentu demikian, karena perilaku hiperaktif mungkin saja muncul karena adanya kelainan pada otak anak. Bila demikian, tentu hal ini bukan merupakan hal positif melainkan kekurangan yang perlu diatasi segera. Lain hal bila anak hiperaktif karena dia punya kelebihan energi yang harus disalurkan dan bukan akibat kelainan, hal ini umumnya sangat positif karena dapat menguntungkan bagi anak demi pengembangan kemampuan dirinya. Yang terakhir ini biasanya tidak disebut hiperaktif melainkan aktif saja.
Baca Juga: Kenapa Anak Suka Bermain Bola? Ini Jawabannya Moms
Sayangnya, banyak orang tua yang masih keliru dalam menilai perilaku anak. Anak yang sekadar aktif divonis hiperaktif, ditambah lagi dengan anggapan kalau hiperaktif merupakan perilaku yang sangat positif. Hal ini jelas perlu diluruskan agar tidak lagi terjadi kesalahkaprahan di masyarakat.
Untuk menentukan apakah hiperaktif atau sekadar aktif, kita tidak bisa langsung memvonis lewat perilaku yang ditunjukannya sehari-hari, tetapi harus dilakukan pemeriksaan mendalam oleh ahli terhadap kondisi anak.
Ditinjau dari sisi psikologis hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan oleh disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Hiperaktif merupakan turunan dari Attention Deficit Hiperactivity Disorder atau ADHD.
Menurut para ahli, penyebabnya karena terjadi kerusakan kecil pada sistem saraf pusat dan otak sehingga rentang konsentrasi menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan. Selain itu, ada juga faktor lain yang diduga dapat menyebabkan gangguan ini. Antara lain, temperamen bawaan, pengaruh lingkungan, malfungsi otak, epilepsi. Juga kondisi gangguan di kepala, seperti gegar otak, trauma kepala karena persalinan sulit atau kepala pernah terbentur, infeksi, keracunan, gizi buruk, dan alergi makanan.
Berbeda dengan anak yang hanya sekadar aktif. Di dalam otaknya tidak ada gangguan tetapi karena energi yang terkumpul berlimpah dan keinginan untuk bergerak begitu besar sehingga anak mempunyai mobilitas yang cukup tinggi dibandingkan anak lain. Sehingga secara kasat mata anak aktif dan hiperaktif memiliki kesamaan perilaku, padahal kalau ditilik lebih lanjut ada perbedaannya.
Baca Juga: Bebaskan Anak Bermain Bola, Manfaatnya Banyak Lo Moms
Ini Lo Moms, Ciri-ciri Anak Hiperaktif
Untuk mengetahui secara pasti apakah anak kita termasuk hiperaktif atau tidak, kita harus memeriksakannya ke ahli seperti dokter atau psikolog. Namun setidaknya, kita bisa melakukan observasi awal untuk memprediksikan sendiri.
- Anak Sulit Fokus atau Samasekali Tidak Bisa Fokus
Anak hiperaktif tidak bisa berkonsentrasi lebih dari lima menit. Dia tidak bisa diam dalam waktu lama. Anak hiperaktif pun mudah teralihkan perhatiannya kepada hal yang lain. Misalnya, ketika anak sedang memainkan mobil-mobilan kemudian datang anak datang dengan membawa bola, anak hiperaktif langsung mengubah fokus perhatiannya ke bola. Atau ketika anak sedang menyelesaikan puzzle kemudian dia mendengar suara dari arah lain, seringkali anak akan mengalihkan perhatiannya dan melupakan puzzle yang sedang dikerjakannya.
Pada anak hiperaktif pun muncul pula perilaku impulsif, yakni anak ingin meraih dan memegang apapun yang ada di depannya tanpa tujuan, asal pegang saja. Setelah dipegang kemudian diletakkan kembali atau malah dibanting hingga rusak.