balita

Anak Perfeksionis, Positif dan Negatifnya, Mana yang Lebih Banyak.

Kamis, 25 Juli 2024 | 08:30 WIB
Anak Keren (Norman Milwood /Pexels)

Ketika besar nanti, sikap perfeksionisnya bisa muncul menjadi sifat obsesif kompulsif, yakni keinginan menghasilkan sesuatu yang benar-benar memuaskan dirinya dan orang lain. Bila tidak puas maka dia akan mengulang dan mengulangnya lagi.

Di satu sisi memang positif tetapi di sisi lain keinginan yang tidak kunjung puas akan mengganggu kondisinya, stres, terlalu menghabiskan tenaga, atau gangguan kesehatan. Hal ini sering ditemukan pada orang-orang yang punya sikap workaholic atau orang yang gila bekerja.

 Baca Juga: Menitipkan Anak ke Kakek-Nenek? Boleh Saja Tapi Bikin Aturan Main yang Baik

Moms Harus Mengenal Anak Lebih Dalam

Sebaiknya setiap orang tua perlu memperhatikan berbagai sikap yang dilakukannya kepada anak-anaknya. Beberapa tips yang mungkin bisa Moms lakukan untuk menghindari munculnya hal-hal negatif pada anak :

  1. Kenalilah pribadi anak sebab mereka memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Bila anak memiliki pribadi yang sulit untuk mematuhi beragam peraturan yang kaku, maka fleksibelkan peraturan tersebut dengan tetap memperhatikan sisi-sisi positifnya.
  2. Kenalilah keinginan orangtua terhadap anak, apakah sesuai atau tidak, apakah terlalu tinggi atau tidak. Bila pada kenyataanya anak tidak mampu melakukan sesuatu dengan baik, mengikat tali sepatu misalnya, jangan langsung memintanya mampu melakukan tetapi berikan dahulu arahan dan bimbingan.
  3. Kenali pula harapan anak terhadap dirinya sendiri. Bila dia lebih senang dengan peraturan-peraturan yang fleksibel sehingga kreativitasnya bisa berkembang maka jangan memaksanya untuk patuh terhadap peraturan yang kaku.
  4. Orang tua harus bersikap realistik, bila anak tidak mampu memenuhi keinginan orang tua, mampu mengerjakan puzzle dengan baik misalnya, maka jangan dipaksakan karena akan membuat anak stres. Atau orang tua ingin anaknya pandai bermain piano tetapi anak lebih intens terhadap komputer, sesuaikanlah dengan keinginan anak.
  5. Bersikaplah lebih relaks terhadap kesalahan yang dimiliki anak. Jangan langsung memarahinya apalagi memberi hukuman tetapi supportlah dia untuk membantunya keluar dari masalah yang dihadapinya.
  6. Kalau ternyata orang tua kesulitan dalam menentukan apa yang sebenarnya paling baik diterapkan dan diharapkan pada anak, orang tua bisa mendatangi konselor atau ahli untuk berkonsultasi lebih jauh.

Baca Juga: Bila Anak “Mencuri” Benda Milik Temannya, Ini yang Moms Perlu Lakukan

Halaman:

Tags

Terkini

Bagaimana Mengajarkan Empati pada Anak Balita?

Kamis, 12 Juni 2025 | 20:40 WIB

Moms, Aku Mau Videocall Ayah!

Rabu, 26 Februari 2025 | 07:56 WIB

Ketika Anak Tak Mau Pakai Baju, Bolehkah Kita Memaksa?

Selasa, 25 Februari 2025 | 21:18 WIB

Jangan Mengancam Anak Tetapi Berikan Ia Penjelasan

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:51 WIB

Moms, Jangan Pernah Mengancam Anak, Ya!

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:41 WIB

Biarkan Anak Corat-coret, Disitu Tumbuh Kreativitas

Senin, 24 Februari 2025 | 17:06 WIB

Moms, Perlu Lo Sesekali Anak Dibebaskan Bermain

Senin, 24 Februari 2025 | 15:52 WIB

Bila Anak Suka Tak Sopan, Ini Cara Mengatasinya

Sabtu, 22 Februari 2025 | 21:14 WIB

Ini Manfaat Buat Anak Saat Belajar di Meja Makan

Jumat, 21 Februari 2025 | 15:37 WIB

Saat Makan Saatnya Anak Belajar

Jumat, 21 Februari 2025 | 14:47 WIB