- Jangan Ikut Berteriak
Menghadapi anak yang berteriak dengan teriakan balik, ibarat menambah bensin ke api. Alih-alih mereda, tantrumnya bisa makin menjadi. Coba turunkan nada bicara, gunakan suara tenang tapi tegas. Ini memberi sinyal bahwa orang dewasa tetap ‘mengendalikan keadaan’.
- Validasi Perasaan Anak
Kadang anak tantrum karena merasa tidak dimengerti. Jadi, coba ucapkan:
- “Kakak marah ya karena mainannya diambil?”
- “Dek, kamu sedih karena nggak boleh beli es krim?”
Dengan begitu, anak merasa dipahami, dan lebih cepat tenang.
- Alihkan Perhatian dengan Lembut
Jika anak mulai tantrum, alihkan perhatian ke hal lain. Misalnya:
- Menawarkan mainan kesukaan
- Mengajak melihat sesuatu yang menarik
- Memeluk dan mengajak bernyanyi
Cara ini cukup efektif, terutama untuk anak di bawah 3 tahun yang mudah teralihkan perhatiannya.
- Gunakan Pelukan Ajaib
Pelukan bisa jadi “senjata rahasia”. Saat anak tantrum, peluk mereka erat tapi lembut. Pelukan membantu anak merasa aman, dicintai, dan tenang secara emosional. Ini juga menurunkan hormon stres mereka, lho.
- Tetap Konsisten dengan Aturan
Tantrum sering dipakai anak untuk “menggoyang” batas. Kalau hari ini tantrum dapat es krim, besok mereka akan tantrum lagi. Jadi, tetap konsisten. Kalau sudah bilang “tidak”, pertahankan keputusan dengan lembut tapi tegas.
Contoh:
“Mama tahu kamu ingin permen, tapi hari ini tidak ada permen. Kita bisa makan buah, ya.”
Baca Juga: Kenapa Bayi Sering Menangis di Malam Hari? Ini Penjelasan Lengkapnya, Moms!
- Tunggu Hingga Anak Tenang, Baru Ajak Bicara
Jangan memberi nasihat atau ceramah saat anak masih menangis atau menjerit. Otak mereka sedang dalam kondisi “flight or fight”, sulit mencerna. Tunggu sampai reda, baru ajak ngobrol:
- Apa yang tadi membuatnya kesal?
- Apa yang bisa dilakukan lain kali?
Dengan begitu, anak belajar mengenali dan mengatur emosinya sendiri.
Cara Mencegah Tantrum di Masa Depan
Lebih baik mencegah daripada mengobati, kan? Nah, berikut beberapa trik agar tantrum tidak sering terjadi: