balita

Moms, Aku Mau Videocall Ayah!

Rabu, 26 Februari 2025 | 07:56 WIB
Beri kesempatan anak videocall dengan ayah atau ibunya (Irfan H/Bing AI)

SMARTPARENT.ID Sebentar-sebentar anak kita yang baru berusia dua tahun ingin videocall atau menelepon ayahnya di kantor. Mending kalau bicaranya banyak, dia hanya diam saja ketika telepon tersambung. Yang membuat keki, videocall atau meneleponnya tidak mau sebentar tetapi sangat lama. Dia terus mendekatkan wajahnya ke ponsel padahal tidak ada satu kata pun yang muncul. Ketika dilarang, anak malah ngambek.

Perilaku ini, merupakan hal yang wajar terjadi pada anak usia ini. Pasalnya sejak usia satu tahun anak sudah bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, sudah bisa memperhatikan perilaku orang yang ada di sekitarnya, juga sudah bisa membedakan suara-suara yang datang dari sekelilingnya, mana suara ibu, ayah, kakak, termasuk suara yang berasal dari telepon.

Baca Juga: Ketika Anak Tak Mau Pakai Baju, Bolehkah Kita Memaksa?

Perilaku Kita Bertelepon Membuat Anak Tetarik

Kenapa anak sering ingin videocall atau telepon? Pada awalnya anak sangat tertarik dengan bunyinya, dimana hal ini merangsang fungsi auditori yang membuat anak menjadi terfokus pada telepon. Wajar ketika dia mendengar dering telepon, dia akan menoleh dan akan tertarik karena bunyinya yang khas. Apalagi jenis dering telepon saat ini sangat beragam yang tak mustahil akan membuat anak semakin menyukainya.

Faktor ketertarikan lain adalah bentuk dan warna dari ponsel. Ada yang bercover gambar unik, warnanya mencolok, ada gantungan boneka, dan sebagainya . Hal ini membuat anak terangsang untuk meraih dan memainkannya. Anak akan semakin tertarik ketika sedang memegangnya dia mendapatkan pengalaman baru lewat sentuhan-sentuhan di indra perabanya. Kemudian anak pun bisa memencet dan mengangkatnya yang dapat merangsang fungsi motorik serta kinestetiknya.

Baca Juga: Yuk Moms Cari Tahu Penyebab Kenapa Anak Sulit Dipakaikan Baju

Kemudian pada tahap perkembangan eksplorasi, terutama pada anak usia 2 tahun, anak terangsang untuk mengeksplor atau mengetahui lebih detail tentang hal-hal yang ada di sekelilingnya termasuk mengenai ponsel. Tingkah laku yang biasa dilakukan adalah memencet tombol, mengangkat gagang ponsel. Hal ini dilakukannya berdasarkan apa yang pernah dilihat sebelumnya, mungkin pada saat kita sedang menelepon. Pada tahap ini Moms jangan melarang anak, sebab setiap pengalaman akan direkam di pusat memori anak sebagai pengayaan ilmu atau knowledge yang ia pelajari dari lingkungan. Apalagi bila eksplorasi ini mendapat tanggapan positif dari lingkungan. Anak selalu difasilitasi ketika ingin menelepon, dipuji, kita merasa surprise, biasanya anak akan mengulangi tingkah laku tersebut.

Kemudian yang membuat anak semakin tertarik adalah perilaku orang tua saat bertelepon. Ketika telepon berdering kita akan menghampiri dan mengangkatnya. Hal ini akan menyadari anak akan keberadaan fisik ponsel dan kecenderungan orang dewasa dalam memakai telepon. Bila kemudian anak melihat orang tuanya, kakak, atau pengasuh berbicara lewat telepon, dia akan semakin tertarik untuk menirunya. Moms atau orang yang ada di lingkungan rumah merupakan “role model “ bagi anak, oleh karenanya sudah pasti apa yang dilakukan akan menjadi contoh bagi anak untuk ditirunya.

Baca Juga: Moms, Jangan Pernah Mengancam Anak, Ya!

Moms Perle Mamfasilitasinya

Bila di usia ini anak sudah mulai meminta videocall atau telepon ke ayah, kakek, nenek, atau yang lainnya, sebaiknya beri kesempatan kepada anak untuk mengakomodir keinginannya itu. Misalnya dengan menyambungkan telepon ke orang-orang tersebut. Hal ini memiliki efek positif untuk belajar berkomunikasi dan mandiri untuk menjawab pertanyaan sederhana.

Bila keinginan anak begitu besar dan kita menganggap kalau menggunakan telepon sungguhan akan menghabiskan banyak pulsa, kita bisa memasilitasi keinginan ini melalui telepon mainan, sehingga anak tetap memiliki kesempatan untuk eksplorasi dan memenuhi rasa keingintahuannya terhadap suatu hal sekaligus melancarkan kemampuan berbahasa, kemampuan motorik, dan kinestetiknya.

Selain itu, pada saat role play ini sebenarnya anak diajarkan berkomunikasi secara dua arah, sehingga pada saat dia berbicara di telepon sungguhan, anak akan mengeluarkan memori dari pengalaman yang dipelajari dan akan mudah berinteraksi melalui telepon. Dibandingkan anak yang tidak belajar melalui role play, biasanya dia akan diam dan bingung karena si pembicara tidak ada secara konkrit. 

Halaman:

Tags

Terkini

Bagaimana Mengajarkan Empati pada Anak Balita?

Kamis, 12 Juni 2025 | 20:40 WIB

Moms, Aku Mau Videocall Ayah!

Rabu, 26 Februari 2025 | 07:56 WIB

Ketika Anak Tak Mau Pakai Baju, Bolehkah Kita Memaksa?

Selasa, 25 Februari 2025 | 21:18 WIB

Jangan Mengancam Anak Tetapi Berikan Ia Penjelasan

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:51 WIB

Moms, Jangan Pernah Mengancam Anak, Ya!

Selasa, 25 Februari 2025 | 20:41 WIB

Biarkan Anak Corat-coret, Disitu Tumbuh Kreativitas

Senin, 24 Februari 2025 | 17:06 WIB

Moms, Perlu Lo Sesekali Anak Dibebaskan Bermain

Senin, 24 Februari 2025 | 15:52 WIB

Bila Anak Suka Tak Sopan, Ini Cara Mengatasinya

Sabtu, 22 Februari 2025 | 21:14 WIB

Ini Manfaat Buat Anak Saat Belajar di Meja Makan

Jumat, 21 Februari 2025 | 15:37 WIB

Saat Makan Saatnya Anak Belajar

Jumat, 21 Februari 2025 | 14:47 WIB