Penjelasan yang mudah dipahami anak jauh lebih bermanfaat daripada mengancam
Ketika kita ingin melarang anak melakukan sesuatu, sebaikny tidak dengan acaman melainkan memberikan penjelasan logis. Berikan anak penjelasan-penjelasan yang bisa diterima anak dengan baik, yaitu dengan bahasa anak-anak. Saat meminta anak untuk mandi misalnya, kita bisa memberikan penjelasan kenapa anak harus mandi. “kita mandi yuk! Nanti tubuhmu akan bersih, sehat, dan segar,” misal. Dengan begitu anak akan tahu manfaat dari mandi itu.
Baca Juga: Moms, Jangan Pernah Mengancam Anak, Ya!
Pemahaman ini secara tidak langsung membuat otak anak bekerja untuk memahami hubungan antara satu masalah dengan masalah lain. Dengan begitu kita telah membuat otak anak bekerja yang sangat baik untuk pertumbuhan kecerdasannya. Dia akan memahami sebuah pengertian-pengertian baru sehingga akan mencerdaskan pola verbal dan berpikir anak. Ini tidak akan didapat bila kita memintanya dengan ancaman-ancaman.
Tak hanya memberikan penjelasan, kita pun harus membuat acara mandi, makan, pakai baju, tidur, sebagai acara yang menyenangkan. Sebab meskipun kita memberikan penjelasan dengan baik namun anak sering merasa tidak nyaman, nantinya anak tetap akan sulit mematuhi apa yang kita minta.
Buatlah aktivitas yang menyenangkan, ketika mandi berikan mainan-mainan air yang bisa mengambang, saat makan berikan menu-menu yang bervariasi, saat tidur berikan dongeng-dongeng yang menghibur. Dengan begitu anak akan semakin mudah untuk diminta melakukannya. Sebaliknya, bila anak dibentak-bentak dan diperlakukan kasar maka anak akan merasa kalau mandi adalah kegiatan yanga sangat tidak menyenangkan.
Baca Juga: Ini Ciri-ciri Anak yang Memiliki Kecerdasan Spasial yang Baik
Jelaskan Secara Bertahap dan Berikan Contoh
Perlu dipahami, anak masih dalam tahap proses perkembangan. Terkadang sangat sulit membuat anak patuh dalam satu kali permintaan. Perlu kerja keras dari kita saat mengarahkan anak. Bila sekali gagal, kita bisa mengulangnya lagi sampai anak benar-benar mematuhi apa yang kita perintahkan. Mungkin kita harus melakukannya secara bertahap.
Awalnya, kita bisa menerapkan waktu mandi, makan, atau tidur, tidak terlalu saklek. Tetapi perubahannya jangan terlalu jauh waktunya. 1-2 jam boleh saja. Kita bisa menunggu anak untuk bersedia mandi. Namun tahapan ini harus meningkat, mungkin tenggang waktunya bisa diperpendek, ½ sampai 1 jam, begitu seterusnya. Nah, pada saat yang sudah memungkinkan, kita bisa menerapkan waktu kapan anak melakukan aktivitas sesuai jadwal yang sudah kita buat.
Baca Juga: Pintar Menyusun Passel, Pertanda Kecerdasan Spasial Anak Sangat Bagus
Kita pun harus ingat, anak usia ini butuh contoh yang kongkret. Tidak mungkin dia melakukan permintaan kita bila dia tidak melihat orang tuanya mandi, makan, tidur. Berikanlah contoh yang baik, misalnya dengan mandi secara teratur, sambil menjelaskan aktivitas yang sedang kita lakukan. “lihat, mama habis mandi, badan mama jadi segar dan sehat,” misalnya. Lambat laun, bila anak sering menyaksikannya, akan lebih mudah bagi kita untuk meminta anak melakukan segala aktivitasnya.
Bila memang kita bisa menerapkan segala sesuatunya tanpa ancaman, asal kita membiasakannya secara rutin dan tepat waktu, hal ini akan membuat anak menyesuaikan dirinya dengan ritme yang sudah dibentuk. Dengan begitu segala aktivitas yang dilakukan pun bisa terencana dengan baik dan anak akan mendapatkan manfaat yang lebih besar dari keteraturan rutinitasnya itu.