SMARTPARENT.ID Coba hitung berapa kali dalam sehari kita melarang si balita untuk melakukan sesuatu? “Jangan panjat-panjat Dek, nanti jatuh!” – “Aduh, kok main air. Nanti masuk angin, lo!” –“No...no...jangan dekat-dekat pasir. Kotor, banyak kuman!” Itu hanya sebagian contoh, masih banyak larangan sejenis yang mengalir setiap hari membatasi gerak si kecil. Sebenarnya, wajar kalau sebagai orang tua bertindak seperti itu. Bukankah larangan merupakan antisipasi agar tidak terjadi suatu kecelakaan?
Baca Juga: Bila Anak Suka Tak Sopan, Ini Cara Mengatasinya
Tapi kita perlu sesekali membiarkan anak melakukan sesuatu yang biasanya kita larang tadi. Banyak manfaat yang akan didapat. Yang pasti adalah pengalaman baru dan bertambahnya nuansa kognitif anak, melatih pergerakan motorik dan sensori motorik, interaksi dengan teman, kreativitas, dan anak pun akan memperoleh kesan bahwa hidup itu tidak identik dengan kekangan; enggak boleh ini, enggak boleh itu.
Hanya saja, memang si kecil perlu disodorkan rambu-rambu; agar keamanan dirinya dan juga orang-orang disekitar, tetap terjaga. Berikut beberapa contohnya:
* Ajukan syarat
Umpamanya “Adek, boleh main pasir tapi tidak boleh dilempar-lempar atau dimasukkan ke mulut.” Atau “Sekarang saatnya bermain air. Tapi jangan lari-lari di pinggir kolam karena tempatnya licin,”. Rambu-rambu seperti ini akan memberi pemahaman pada anak akan hukum sebab akibat. Ia tidak boleh melempar-lempar pasir karena dikhawatirkan bisa mengenai matanya atau mata orang lain. Ia dilarang berlari-lari di pinggir kolam karena bisa terjatuh.
Baca Juga: Bila Anak Terbiasa Berbicara Kasar, Agak Lama mengatasinya
Peringatan sejenis ini juga berguna untuk menghindari trauma pada diri anak. Bila ia tidak tahu bahwa pasir itu berisiko masuk mata, saat mengalaminya, bisa-bisa ia tak mau bermain pasir lagi.
* Beritahu apa yang harus dilakukan setelah bermain
“Selesai bermain pasir, Adek harus mandi, “ umpamanya. “Setelah corat-coret, cuci tangan sampai bersih.” Selain untuk menjaga kebersihan, kemampuan psikologis, verbal dan pola berpikirnya pun akan terstimulus. “Oooo, agar aku enggak sakit ternyata harus menjaga kebersihan.”
* Batasi Waktu
Tak ada patokan berapa lama batasan waktu yang harus diterapkan. Umumnya sekitar 30-60 menit. Jangan lupa beri alasan pada si kecil “Dek, nanti kalau alarm jamnya sudah bunyi, berarti Adek selesai main airnya. Soalnya kalau kelamaan Adek bisa sakit!”
Baca Juga: Saat Makan Saatnya Anak Belajar