Anak yang terbiasa tak sopan sulit mengatasinya
SMARTPARENT.ID Bila anak kita sehari-harinya berlaku tidak senonoh, kepada Moms, kakak, pembantu, maupun teman bermainnya, mungkin butuh waktu agak panjang untuk mengubahnya. Dibutuhkan pula kesabaran Moms dalam mengarahkannya. Tidak bisa dalam sebulan-dua bulan sikap anak akan hilang. Selain itu, Moms tidak bisa mengukur waktunya kapan kira-kira anak akan mengubah sikapnya. Sebab, tergantung kualitas daya nalar anak, intensitas dan cara pengarahan yang diberikan orang tua, kesungguhan kita, dan lainnya.
Pada dasarnya, anak akan meniru apa yang dilihat dari lingkungannya. Tetapi, peniruan bisa saja berbeda penerapannya. Ada anak yang hanya melihat sekali dia akan langsung menirunya. Tetapi ada anak yang perlu berulang kali baru dia dapat melakukan peniruan. Bila anak perkembangan kecerdasannya cukup, dia akan meniru meskipun hanya melihat sekali. Tetapi pada anak yang tingkat kecerdasannya kurang dan tidak memiliki semangat dalam kesehariannya, mungkin proses peniruannya lebih lambat. Dia akan meniru bila dia melihat terus menerus. Juga tergantung dari stimulasi yang diberikan dari lingkungan. Bila stimulasinya baik maka itu yang akan muncul, bila jelek itu yang akan timbul.
Baca Juga: Bila Anak Suka Tak Sopan, Ini Cara Mengatasinya
Antisipasi Jauh Lebih Baik
Antisipasi ketidaksopanan anak perlu dilakukan sejak anak masih bayi. Harus sudah ada pembiasaan-pembiasaan, semisal, berbicara baik kepada anak. “Anak mama sayang, jangan menangis terus, ya, mama buka popoknya, gatel, ya!” kata-kata halus seperti ini bila dilakukan terus menerus sedikit banyak akan tertanam di dalam benak anak. Lain halnya bila orang tua selalu bicara keras. “Dasar, kamu tuh sebentar-sebentar pipis, sebentar-sebentar nangis, gimana mama mau masak?” Pembiasaan kata-kata kasar seperti ini akan tertanam di jiwa anak. Mungkin banyak yang menganggap anak belum mengerti, tetapi bila terus menerus diperlakukan seperti itu akan mempengaruhi sikapnya kelak.
Selain itu, Moms juga perlu memperhatikan kebutuhan anak. “Kamu mau makan, sebentar, ya, mama ambilkan.” Jangan berucap, “Mau makan, ambil saja di lemari, kan sudah mama masakin.” Kata-kata ini jelas akan membuat anak mengikutinya. Misal, ketika orang tua minta diambilkan sesuatu, “Ambil saja sendiri, tuh, di atas meja,” misal.
Untuk tahu apa yang dibutuhkan anak, Moms punya kewajiban untuk selalu memperhatikannya. Biasanya, ketika mau makan, tidur, minum, bermain, akan terlihat dari perilakunya. Ketika perhatian itu muncul, dengan begitu, Moms sekaligus memberikan contoh yang baik. Perhatian tidak berupa materi saja, jawaban yang baik, sentuhan sayang, menatap dengan lembut pun merupakan wujud dari perhatian orang tua. Jangan menjawab pertanyaan anak sambil lalu sebab lama-kelamaan akan akan merasa bahwa dia tidak diperhatikan.
Antisipasi lain adalah dengan penanaman sikap jujur dan sikap menghargai orang. Karena kita mau anak kita memperlakukan orang lain dengan baik maka perlu diajarkan untuk berlakubaik pada setiap orang.
Baca Juga: Ini Manfaat Buat Anak Saat Belajar di Meja Makan
Bisa Hilang di Usia 3-4 Tahun
Biasanya, lewat dari tiga tahun, perilaku seperti ini akan hilang. Sebab, secara tidak langsung anak menerima pengajaran dari lingkungannya tentang bagaimana bersikap baik terhadap orang lain. Misal, ketika kakaknya berlaku tidak sopan kemudian ibunya memarahi, anak pun beranggapan bahwa sikap itu sebenarnya tidak baik untuk dilakukan. Meskipun yang diarahkan bukan dia tetapi kakaknya.
Tetapi bila sudah menetap tentunya akan sulit hilang. Sikap tersebut seolah menjadi kebiasaan dia untuk bersikap. Sebaiknya, orang tua perlu sigap untuk segera menghilangkan perilaku anak seperti itu. Penghilangan itu harus dilakukan secara terus menerus. Jangan putus asa, bila anak sulit sekali diubah perilakunya, Moms harus berusaha sampai anak mengubah sikapnya dan tahu bahwa hal tersebut tidak pantas dilakukannya.
Bila tidak ditangani dengan baik, perilakunya akan terbawa hingga dia dewasa. Bisa saja anak tidak akan memperhatikan lingkungan, tidak menghargai orang lain, egois, semua orang harus nurut kepadanya. Konsep inilah yang menjadi landasannya untuk bersikap.