Salah satu caranya adalah skrining yang bisa dilakukan lewat Skrining Risiko Asma Pediatrik (Pediatric Asthma Risk Score/PARS), disamping Asthma Pediatric Index yang selama ini dikenal.
Prof Bambang menyebut hasil skrining PARS ini untuk menentukan apakah anak memililki risiko rendah, sedang atau tinggi terhadap asma.
"PARS menjadi alat yang membantu dokter mengidentifikasi untuk merencanakan tindakan pencegahan atau intervensi sesuai dalam upaya mencegah asma," katanya.
Dalam diagnosis asma pada anak, selain anamnesis dan pemeriksaan fisis, terdapat juga pemeriksaan penunjang yaitu salah satunya dengan sistem prediksi atau skoring (3).
Baca Juga: Dampak Konsumsi Rokok di Kalangan Anak dan Remaja
Pada penelitian Micheal dan kawan-kawan juga menyebut kalau PARS dinilai sebagai alat skrining sederhana, efektif, dan dipersonalisasi untuk memperkirakan risiko asma pada anak-anak (4).
Riset tentang Pengembangan Alat Skrining Risiko Asma Pediatrik (Pediatric Asthma Risk Score/PARS) dilakukan oleh dua peneliti dari Cincinnati Children’s, yakni Jocelyn Biagini, PhD, dan Gurjit Khurana Hershey, MD, PhD pada 2018 lalu.
Menggunakan enam factor untuk risiko pada anak-anak antara lahir dan usia tiga tahun, hasil riset yang dilakukan pada 762 anak ini menunjukkan kinerja baik. (5)
Dalam hal ini, PARS dapat memprediksi perkembangan asma pada kohort studi tersebut dengan sensitivitas sebesar 0.68 dan spesifisitas sebesar 0.77.
Bahkan dalam memprediksi asma pada anak-anak dengan risiko asma ringan hingga sedang, PARS juga dinilai lebih baik daripada Asthma Predictive Index (API).
Dibandingkan dengan API, PARS lebih unggul dengan peningkatan 11% dalam sensitifitas untuk mendeteksi dengan tepat anak-anak yang akan mengalami asma.
Baca Juga: Penyakit TBC pada Anak, Pahami Gejala dan Pengobatannya
Yang terbaru, dalam studi yang diterbitkan NEJM Evidence pada 4 Agustus 2023 menunjukkan PARS berkinerja baik dalam menentukan perkiraan risiko asma pada ana-anak dari berbagai etnis, latar belakang, dan kepekaan terhadap asma. Dimana lebih dari 33.200 klinisi, orangtua, mahasiswa, dan peneliti telah mengakses PARS di lebih dari 160 negara.
Menurut Prof Bambang, ketika anak telah melakukan skrining PARS maka hal ini menjadi dasar untuk pengobatan yang perlu dilakukan.
Selain itu juga sebagai upaya pencegahan akan serangan atau kekambuhan asma yang bisa dihindari. Salah satunya adalah menghindari alergen atau pencetusnya, sehingga kontrol asma dapat dilakukan.