SMARTPARENT.ID Pernah lihat si balita “ngamuk?”. Ia berteriak sambil memukul dan mencakar orang tuanya sendiri. Yang kemudian menyisakan luka, lebam kebiruan, goresan, bahkan sampai berdarah di tubuh Moms. Seolah-oleh si balita telah me nganiaya orangtuanya sendiri.
Apa benar anak menganiaya? No, tidak pernah terlintas dalam benak anak kalau dia ingin menganiaya orang orangtuanya. Hal itu muncul dikarenakan luapan emosi yang tidak tertahankan lalu terwujud dalam perilaku kasar. Ditambah lagi, anak terdorong untuk mencoba kemampuan motoriknya.
Baca Juga: Bayi Rewel Berkepanjangan dan Tidak Mau Makan? Mungkin ia Sariawan
Jangan Didiamkan Ya Moms
Meski tak ada niatan menganiaya, perilaku ini tidak boleh didiamkan. Bisa saja ini akan menjadi kebiasaan dan anak menganggap benar. Setiap kali marah ia akan bersifat kasar kepada orang di sekelilingnya. Tak hanya kepada orangtua tetapi bisa juga ke gurunya atau temannya.
Bukan mustahil pula perilaku ini akan menetap hingga dewasa. Kita nantinya sulit sekali menyetopnya. Efek lainnya yang akan muncul anak akan menjadi orang yang egois, mau menang sendiri, tidak peduli dengan orang lain, tidak punya rasa empati, dan sebagainya.
Apalagi di usia ini pertumbuhan fisik dan psikis anak sudah lebih tinggi dari sebelumnya. Anak sudah mulai lebih merasakan peningkatan kekuatan fisiknya, gejolak emosionalnya, kemampuan motoriknya, dan sebagainya. Bila anak memukul, mencakar, atau menampar, tentu kualitasnya akan lebih kuat dari sebelumnya.
Begini Cara Mengatasinya
Perlu tindakan antisipatif demi meredam perilaku kasar ini agar berubah dan tidak menjadi kebiasaan.
- Antisipasi Sejak Dini
Sebaiknya, ketika perilaku ini muncul, sebelum usia 3 tahun, kita sudah memberikan warning. Supaya di usia 3 tahun ke atas perilaku ini tidak muncul lagi.
- Halangi dan Jelaskan
Jika di usia 3 tahun masih muncul, jelaskan ke anak untuk tidak melakukah tindakan kasar tersebut. Ketika anak memukuli Moms misalnya, halangi tindakannya tersebut dengan memegang tangannya sambil katakan bahwa anak tidak boleh bertindak kasar. Jangan didiamkan, karena akan membuat anak semakin menjadi-jadi.
- Beri Pujian Jika Berhasil
Berikan reward ketika anak tidak bersikap kasar saat emosi. “Mama suka kamu tidak memukul Mama ketika marah tadi. Itu tandanya kamu anak hebat!” misalnya. Setidaknya reward yang berupa pujian ini membuat anak terpacu untuk tidak melakukan tindakan kasar lagi.
- Pasang Wajah Tegas
Seringkali butuh ketegasan untu menghilangkan perilaku ini, jika cara-cara sebelumnya tidak berhasil. Misalnya, memegang tangan anak sambil berkata tegas, “Adek, kamu tidak boleh menyakiti Mama!” misalnya. Pancarkan raut wajah tegas sehingga anak menangkap kalau kita benar-benar serius memintanya.
- Berbeda Jika Berbutuhan Khusus
Berbeda pada anak berkebutuhan khusus, anak dengan hiperaktif misalnya. Umumnya anak tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik. Anak sulit membedakan mana yang boleh dilakukannya dan mana yang tidak, mana yang bisa menyakiti orang lain dan mana yang tidak. Pada kasus seperti ini, penanganannya butuh bantuan dari ahli, seperti dokter atau psikolog.