anak

Sembelit pada Anak, Pahami Penyebab dan Penanganannya (1)

Kamis, 9 Mei 2024 | 11:56 WIB
Sembelit pada anak kenali gejala dan penanganannya yang tepat (Pexels/Yan Krukau)

 

SMARTPARENT.ID - Sembelit terjadi ketika tinja anak menjadi sangat keras dan buang air besarnya lebih sedikit dari biasanya. Ini adalah masalah GI (gastrointestinal) yang sangat umum.

Tanda-tanda anak mengalami sembelit antara lain:

  • Buang air besar lebih sedikit dari biasanya. Sembelit sering kali didefinisikan sebagai buang air besar kurang dari 3 kali dalam seminggu. Jumlah buang air besar pada setiap anak mungkin berbeda-beda. Namun perubahan pada apa yang normal pada anak Anda mungkin berarti ada masalah.
  • Buang air besar yang keras dan kadang berukuran besar
  • Mengalami buang air besar yang sulit atau menyakitkan untuk dikeluarkan

 

Apa penyebab sembelit?

Kotoran menjadi keras dan kering ketika usus besar (kolon) menyerap (menyerap) terlalu banyak air.

Biasanya, saat makanan bergerak melalui usus besar, usus besar menyerap air saat membuat tinja. Gerakan otot (kontraksi) mendorong tinja menuju rektum. Saat feses sampai ke rektum, sebagian besar air telah terserap. Bangkunya sekarang sudah kokoh.

Jika anak Anda mengalami konstipasi, pergerakan otot usus besar terlalu lambat. Hal ini membuat tinja bergerak melalui usus besar terlalu lambat. Usus besar menyerap terlalu banyak air. Kotoran menjadi sangat keras dan kering.

Baca Juga: Bila Anak Sakit Perut dan Perut Kembung, Ini yang Perlu Diwaspadai

Begitu seorang anak mengalami konstipasi, masalahnya bisa menjadi lebih buruk dengan cepat. Kotoran yang keras dan kering dapat menimbulkan rasa sakit saat dikeluarkan. Jadi anak mungkin berhenti menggunakan kamar mandi karena sakit. Seiring waktu, usus besar tidak akan bisa merasakan adanya tinja.

Ada banyak alasan mengapa seorang anak bisa mengalami sembelit. Beberapa penyebab umum pola makan dan gaya hidup meliputi:

Diet

  • Terlalu banyak mengonsumsi makanan yang tinggi lemak dan rendah serat. Ini termasuk makanan cepat saji, junk food, dan minuman ringan.
  • Kurang minum air putih dan cairan lainnya
  • Melakukan perubahan pola makan. Hal ini termasuk saat bayi beralih dari ASI ke susu formula, atau saat mereka mulai mengonsumsi makanan padat.

Kurangnya olahraga

  • Anak-anak yang banyak menonton TV dan bermain video game kurang berolahraga. Olahraga membantu memindahkan makanan yang dicerna melalui usus.

Baca Juga:   Waspada Penyakit Hirschsprung, Kenali Gejala dan Penanganannya

Masalah emosional

Halaman:

Tags

Terkini