Perubahan ini berarti bahwa penyakit polio tidak dapat disebarkan oleh anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi. Namun, OPV masih digunakan di banyak negara dan berhasil mengurangi jumlah kasus di seluruh dunia.
Apakah Anak Perlu Vaksin jika Semua Anak di Sekolah Sudah Imunisasi?
Memang benar bahwa peluang seorang anak untuk tertular suatu penyakit adalah rendah jika semua anak lainnya telah menerima vaksinasi lengkap (imunisasi). Namun anak juga terpapar dengan orang lain selain yang ada di sekolah.
Jika ada orang yang berpikir untuk tidak menerima vaksin, kemungkinan besar orang lain juga berpikiran sama. Setiap anak yang tidak diimunisasi memberikan satu peluang lebih besar untuk menularkan penyakit yang sangat menular.
Baca Juga: 8 Tips Pemberian Makanan Bergizi untuk Anak Usia 4 dan 5 Tahun
Meskipun tingkat vaksinasi cukup tinggi di, tidak ada cara pasti untuk mengetahui apakah semua orang yang melakukan kontak dengan anak telah divaksinasi. Hal ini terutama berlaku saat ini karena begitu banyak orang bepergian ke dan dari negara lain.
Selama perjalanan, seseorang dapat terpapar dengan orang yang tertular OPV di negara lain, dan hal ini dapat berisiko bagi siapa pun yang tidak mendapatkan semua vaksin polio. Jadi cara terbaik untuk melindungi anak adalah melalui vaksinasi.
Bisakah Mendapatkan Begitu Banyak Vaksin Sekaligus Membahayakan Bayi?
Bayi memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dari yang Anda kira, dan mereka mampu menangani lebih banyak kuman dibandingkan dengan yang mereka dapatkan dari vaksin. Faktanya, jumlah kuman dalam vaksin hanyalah sebagian kecil dari kuman yang ditangani sistem kekebalan bayi setiap hari.
Terkadang, anak-anak dapat mengalami reaksi terhadap vaksin seperti demam ringan atau ruam. Namun risiko reaksi serius ini kecil dibandingkan dengan risiko kesehatan dari penyakit serius yang sering dicegah, dan hal ini tidak terjadi karena bayi mendapat beberapa vaksin sekaligus.
Baca Juga: Gigi Bungsu Kapan Tumbuh dan Perlukah Dicabut?
Banyak pertimbangan dan penelitian dilakukan untuk membuat jadwal imunisasi yang digunakan sebagian besar dokter, dan telah terbukti aman berkali-kali. Namun, beberapa orang tua memilih untuk menggunakan jadwal alternatif (menyebar atau “memberikan jarak” vaksin) karena mereka khawatir dengan jumlah suntikan yang diterima bayi mereka pada setiap pemeriksaan.
Hal ini justru lebih berpeluang membuat bayi sakit. Penelitian menunjukkan bahwa banyak bayi yang mendapat jadwal imunisasi alternatif tidak mendapatkan semua vaksin yang mereka perlukan.