Membangun hubungan emosional dan empati
Mengembangkan tanggung jawab dan disiplin diri anak
Mana yang Lebih Baik?
Jawabannya: tergantung pada anak dan orang tuanya sendiri. Setiap keluarga memiliki dinamika yang unik. Gentle parenting lebih cocok jika:
- Anak sangat sensitif secara emosional
- Orang tua punya kesabaran ekstra untuk mendampingi proses regulasi emosi
Sementara itu, authoritative parenting lebih pas jika:
- Anak butuh struktur yang jelas dan motivasi
- Orang tua ingin menanamkan nilai tanggung jawab dengan cara yang konsisten
Bahkan, banyak psikolog menyarankan kombinasi keduanya — menerapkan nilai empati dan komunikasi dari gentle parenting, serta ketegasan dan struktur dari authoritative parenting.
Baca Juga: Nutrisi Seimbang untuk Balita Aktif: Kunci Tumbuh Kembang Optimal
Apa Kata Ahli?
Menurut Dr. Diana Baumrind, seorang psikolog perkembangan yang memperkenalkan istilah authoritative parenting, anak-anak yang dibesarkan dengan pola ini cenderung:
- Lebih percaya diri
- Mampu mengelola stres
- Lebih baik dalam bersosialisasi dan menyelesaikan masalah
Sementara itu, pendekatan gentle parenting lebih banyak dikembangkan oleh praktisi parenting masa kini seperti Sarah Ockwell-Smith, yang menekankan pentingnya koneksi emosional sebagai pondasi pembelajaran anak.
Contoh Situasi: Marah vs Menenangkan Anak
Bayangkan anak sedang tantrum karena tidak dibelikan mainan.
- Gentle Parenting: Orang tua duduk bersama anak, mencoba memahami perasaannya, dan berkata, "Kamu sedih ya karena nggak bisa punya mainan itu sekarang? Mama tahu itu mengecewakan." Kemudian diajak bicara hingga anak merasa dipahami.
- Authoritative Parenting: Orang tua menjelaskan dengan tenang tapi tegas, "Mama mengerti kamu ingin mainan itu, tapi hari ini kita tidak membeli apa-apa. Kalau kamu bisa menabung, kita bisa pertimbangkan minggu depan." Anak belajar aturan, tapi tetap merasa dihargai.
Tips Memilih Gaya Parenting yang Tepat
- Kenali karakter anak – Anak yang berbeda mungkin butuh pendekatan berbeda.
- Kenali kepribadian orang tua – Tidak semua orang bisa selalu tenang, dan itu wajar.
- Gabungkan sisi positif dari keduanya – Disiplin bisa hadir bersama empati.
- Konsisten tapi fleksibel – Aturan penting, tapi sesuaikan dengan situasi.
- Evaluasi terus-menerus – Parenting adalah proses belajar, tak ada yang instan.
Baca Juga: Tanda-Tanda Bayi Mengalami Alergi: Waspadai Sejak Dini, Bunda!