SMARTPARENT.ID - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan cacar monyet atau Mpox sebagai keadaan darurat kesehatan global.
Mpox biasanya menular melalui hubungan seksual, namun para ahli menyatakan virus ini juga dapat menyebar melalui kontak langsung dengan kulit penderita, hewan yang terinfeksi, atau permukaan yang terkontaminasi virus.
Data dari Kongo menunjukkan bahwa 70 persen dari 14.901 pasien Mpox adalah anak-anak di bawah usia 15 tahun, dengan lebih dari 321 anak meninggal dunia.
Baca Juga: Jangan Cemas, ini Cara Mudah Mencegah Tertular Mpox Saat Hamil
WHO menyatakan bahwa anak-anak lebih berisiko terkena Mpox dalam kondisi parah dibandingkan orang dewasa.
Rasio kematian akibat Mpox pada anak-anak di bawah satu tahun mencapai 8,6 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 2,4 persen pada pasien berusia 15 tahun ke atas.
Sistem kekebalan tubuh yang masih lemah membuat anak-anak lebih rentan tertular, terutama jika mereka melakukan kontak dekat dengan penderita di rumah atau di sekolah.
Baca Juga: Benarkah Mpox Picu Keguguran dan Kematian Janin?
Di Afrika, anak-anak dan remaja yang sering berburu atau mengonsumsi daging yang tidak dimasak dengan benar berpotensi terpapar virus Mpox.
Sayangnya, diagnosis dan pengobatan untuk anak-anak sering terlambat karena gejala Mpox mirip dengan penyakit umum lainnya seperti kudis dan cacar air.
Gejala Mpox termasuk demam, ruam, lesi, sakit kepala parah, dan kelelahan, yang dapat berkembang menjadi sepsis jika tidak segera ditangani.
Selain anak-anak, WHO juga mengidentifikasi kelompok lain yang rentan terhadap Mpox.
Baca Juga: Mengenal Gejala Mpox Pada Kehamilan
Orang yang melakukan kontak dekat dengan penderita, termasuk bersentuhan, berciuman, atau berhubungan seksual, memiliki risiko tinggi tertular.