SMARTPARENT.ID - Dua pertiga UMK tidak mengakses kredit atau pinjaman dalam 12 bulan terakhir, dan 62% menyatakan tidak membutuhkan kredit, mencerminkan tren kemandirian finansial di kalangan UMK.
Hal ini selaras dengan data World Bank yang menunjukkan bahwa usaha-usaha di Indonesia lebih memilih pembiayaan mandiri melalui keuntungan.
Walaupun hampir separuh dari mereka yang mencari kredit melaporkan tidak ada hambatan untuk mengakses kredit, tantangan yang signifikan tetap ada, termasuk suku bunga yang tinggi (31%), kurangnya agunan (16%), dan kurangnya informasi (15%) menjadi rintangan utama.
Baca Juga: Meningkatkan Akses Pelatihan: Kunci Pertumbuhan Usaha Kecil di Indonesia
Kemudahan pengajuan (75%) menjadi alasan tertinggi pemilik UMK memilih sumber kredit dan pinjamannya. Proporsi UMK yang tidak menemukan hambatan dalam mengakses kredit (34%) dan mampu mengaksesnya hampir sama banyaknya dengan UMK yang menyebutkan setidaknya satu hambatan dalam mengakses kredit (33%), membuktikan ketangguhan UMK.
Meskipun 51% mengatakan bahwa akses modal dan pelatihan merupakan dukungan yang mereka butuhkan, UMK merasa bahwa akses terhadap keterampilan manajemen keuangan (89%) lebih penting daripada akses permodalan (77%).
Perangkat digital untuk manajemen keuangan adalah perangkat digital terpenting (34%) dan kedua terpenting (27%) yang diinginkan UMK untuk mendukung pertumbuhan usaha mereka.
Baca Juga: Mengatasi Tantangan Literasi Digital, Kunci Pemberdayaan Usaha Kecil di Indonesia