news-n-trend

Sering Menggunakan Inhaler Ternyata Berisiko Menjadikan Asma Lebih Berat dan Tak Terkontrol

Kamis, 11 Mei 2023 | 09:13 WIB

SmartParent.id - Saat serangan sesak napas menyerang, sebagian besar penderita asma menggunakan inhaler untuk meredakannya.

Sayangnya, penggunaan inhaler terlalu sering atau terlalu bergantung pada inhaler ternyata berdampak buruk pada asma itu sendiri.

Bukannya mereda, asma malah bisa memburuk, ditandai dengan seringnya gangguan sesak napas menyerang, atau gejala yang bertambah berat, hingga terpaksa harus dilarikan ke unit gawat darurat rumah sakit.

Untuk itu, penderita asma perlu diberikan edukasi tentang bahaya ketergantungan terhadap inhaler.

Salah satu bentuk ketergantungan inhaler sendiri adalah penggunaan Inhaler Pelega 3 kali atau lebih dalam seminggu.

Laporan strategi GINA (Global Initiative for Asthma) 2019-2022 menunjukkan bahwa penggunaan inhaler pelega SABA secara rutin, bahkan hanya dalam 1-2 minggu, justru kurang efektif, dan menyebabkan lebih banyak peradangan pada saluran napas, serta dapat mendorong kebiasaan buruk penggunaan secara berlebihan1,2,3.

Ketika pasien asma terlalu sering menggunakan/terlalu bergantung pada inhaler pelega SABA, mereka berisiko tinggi mengalami serangan asma, dirawat di rumah sakit, dan dalam beberapa kasus, kematian3.

Inhaler sendiri termasuk dalam salah satu jenis pengobatan SABA.

Selain inhaler, bentuk sediaan SABA lainnya adalah oral (tablet), hisap, dan cair (menggunakan alat nebulizer).

Sayangnya, inhaler sendiri kerap digunakan sebagai pengobatan utama saat serangan asma.

Hal itu diungkapkapkan Dr. H. Mohamad Yanuar Fajar, Sp.P, FISR, FAPSR, MARS.

Dokter Spesialis Paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia ini menyatakan, "Pasien asma di Indonesia cenderung menggunakan inhaler pelega SABA dibandingkan dengan inhaler dengan kandungan ICS (Anti-inflamasi melalui inhaler) karena SABA dirasakan dapat memberi efek lega secara cepat, dan telah menjadi lini pertama terapi asma sejak lama.

Sebenarnya penggunaan inhaler pelega SABA secara teratur, dapat mengurangi efek atau manfaatnya, sehingga untuk mendapatkan efek yang sama, diperlukan lebih banyak inhalasi atau obat.

Terlebih lagi penggunaan SABA secara berlebih dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan asma, rawat inap karena asma, bahkan kematian.

"Selain itu, pengobatan asma dengan hanya menggunakan inhaler pelega SABA tidak lagi direkomendasikan, karena SABA tidak mengatasi peradangan yang mendasari asma.

Sebagai gantinya, pasien asma harus mendapat pengobatan yang mengandung ICS (antiradang/anti inflamasi), contohnya kombinasi ICS-Formoterol, untuk mengurangi risiko serangan asma.

-
" width="300" height="139" />

Pasien asma dianjurkan melakukan pemeriksaan rutin ke dokter untuk memastikan kondisi asma terkontrol dan mendapatkan tindakan yang tepat, bukan hanya mencari pengobatan instan saat serangan asma muncul," tambahnya.

Studi Global Burden of Disease (GBD) pada tahun 2019 menunjukkan bahwa diperkirakan terdapat 262 juta orang yang terkena asma di seluruh dunia8, dengan faktor penting di mana inhaler pelega dianggap oleh pasien sebagai pengendali penyakit mereka1, tetapi karena kurangnya pengobatan terhadap kondisi peradangan yang mendasarinya, hal tersebut sebenarnya menempatkan pasien pada risiko yang lebih besar terhadap serangan asma1.

Untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien asma di Indonesia, kampanye 'Stop Ketergantungan' pun digagas. Kampanye ini bertujuan untuk mengukur risiko ketergantungan yang berlebihan terhadap SABA dan untuk menjembatani diskusi antara tenaga kesehatan profesional dan pasien asma untuk pengobatan asma yang optimal.

Pada kesempatan itu, hadir juga  Zaskia Adya Mecca, seorang Istri dan Ibu dari Pasien Asma.

Asal tahu, saja suami Zaskia yaitu Hanung Bramantyo adalah pengidap asma, demikian juga dengan 5 dari 6 anak Zaskia, semuanya pengidap asma.

Kondisi itu jelas menjadi tantangan tersendiri bagi artis cantik ini, apalagi sebelumnya anak-anak tergantung pada inhaler dan nebulizer untuk mengobati serangan asma.

Padahal, inhaler dan nebulizer termasuk golongan SABA, hingga asma anak-anaknya pun tak terkendali dan semakin memburuk.

"Anak saya sering bolos sekolah untuk karena asmanya sering kumat, bahkan sering bolak-baik ke UGD rumah sakit karena serangan asmanya parah," ungkapnya.

Beruntung, saat ini Zaskia sudah mengenal pengobatan long-acting beta-agonist (LABA) atau ICS hingga asmanya lebih terkendali.

"Kalau dulu kena batuk pilek, asmanya pasti parah, sekarang setelah mengenal pengobatan LABA atau ICS, kalau kena batuk pilek sudah normal, gejalanya seperti orang biasa yang kena batuk pilek," sambungnya lagi.

 

Tags

Terkini