SmartParent.id -Beberapa hari lalu, masyarakat dikejutkan oleh aksi nekat seorang ayah yang tega membunuh bayinya sendiri.
Ayah bernama Muhammad Soleh (20) itu nekat menghabisi darah dagingnya sendiri yang masih berusia 3 bulan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Padahal, sebelumnya ia bersama istrinya bernama Dinda Putri (20) warga Kampung Kauman RT 4 RW 1 Kelurahan Pati Kidul ini melaporkan kehilangan bayi kecilnya ke polisi.
Sayangnya, saat diperiksa pihak kepolisian, ada banyak informasi dan keterangan yang janggal yang diberikan sang ayah.
Karena curiga, polisi terus mendalami keterangan ayah korban, hingga terungkap fakta mengerikan.
Ternyata, sang ayah sendirilah yang membunuh bayinya sendiri.
Motifnya karena ia kesal anaknya terus menangis dan tak bisa dihentikan, hingga ia membekap si kecil dengan bantal merah.
Setelah meninggal, si kecil yang nahas itu dimasukkan ke dalam kantong kresek, kemudian jenazahnya dimasukkan ke dalam jok motor, lalu dibuang ke sungai.
Sang ayah mengaku baru lima hari belakangan momong anaknya lantaran istri jualan.
Diduga Alami Baby Blues atau Depresi Pascamelahirkan
Ada dugaan pelaku mengalami baby blues, sebuah kondisi stres atau gangguan mental yang dialami ibu atau ayah setelah kelahiran bayi.
Gangguan ini ditandai dengan munculnya perubahan suasana hati, seperti gundah dan sedih secara berlebihan.
Umumnya, gejala baby blues syndrome dapat memburuk pada hari ke 3-4 setelah melahirkan dan berlangsung selama 14 hari.
Pada kasus ini, baby blues terjadi karena usia pelaku masih sangat muda.
Selain itu, ia sepertinya belum siap memiliki anak dengan usia berdekatan 1.5 tahun dan 3 bulan.
Sebagian pakar menilai, baby blues hanya dialami oleh para istri yang melahirkan, sedangkan ayah biasanya mengalami depresi pasca melahirkan.
Sebab, baby blues terjadi karena perubahan hormonal saat berbadan dua, dan hanya wanita yang mengalami perubahan hormonal.
Meski begitu, masyarakat kerap menyamakan kondisi baby blues pada istri dengan suami karena sama-sama menyerang kesehatan mental.
Penyebab Baby Blues pada Ayah
Berikut adalah beberapa penyebab yang dapat menyebabkan baby blues pada ayah:
Perubahan hormonal:
Seperti halnya ibu, ayah juga mengalami perubahan hormon setelah kelahiran anak mereka.
Penurunan kadar testosteron dan kenaikan prolaktin dapat mempengaruhi suasana hati dan menyebabkan perasaan sedih atau gelisah.
Stres dan kelelahan:
Merawat bayi baru lahir dapat sangat menuntut dan melelahkan bagi kedua orang tua, terutama jika mereka juga memiliki tanggung jawab lain di luar rumah.
Kekurangan tidur dan perubahan dalam pola makan juga dapat meningkatkan stres dan kelelahan, yang pada gilirannya dapat menyebabkan baby blues pada ayah.
Rasa tidak siap atau tidak mampu:
Beberapa ayah mungkin merasa tidak siap atau tidak mampu menghadapi peran ayah baru dan bertanggung jawab untuk merawat bayi mereka. Hal ini dapat memicu perasaan cemas, takut, dan tidak berdaya.
Perubahan dalam hubungan:
Kelahiran anak dapat menyebabkan perubahan dalam hubungan antara pasangan. Beberapa ayah mungkin merasa sulit untuk menyesuaikan diri dengan perubahan ini, terutama jika mereka merasa bahwa mereka tidak lagi menjadi prioritas utama pasangan mereka.
Penyesuaian dengan peran baru:
Ayah yang sebelumnya tidak terbiasa merawat bayi mungkin membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan peran baru mereka sebagai ayah.
Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan perasaan tidak aman yang dapat menyebabkan baby blues.
Namun, penting untuk dicatat bahwa baby blues pada ayah biasanya tidak berlangsung lama dan cenderung hilang dalam beberapa minggu. Jika perasaan sedih atau cemas berlanjut selama lebih dari beberapa minggu atau sangat parah, disarankan untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental.