Tidak kalah penting, bermain memberikan ruang yang aman bagi anak untuk mengekspresikan berbagai perasaan. Ada anak yang melampiaskan rasa kecewa melalui permainan, ada yang menunjukkan kecemasan saat bermain peran, dan ada pula yang menggambarkan pengalaman sehari-harinya melalui gambar atau cerita. Respons-respons tersebut dapat menjadi petunjuk bagi orang tua untuk memahami kondisi emosional anak tanpa harus memaksanya bercerita.
Berbagai permainan sederhana dapat dilakukan bersama anak, seperti menyusun puzzle, menggambar dan mewarnai, bermain balok susun, petak umpet, bermain bola, menebak ekspresi emosi, bercerita, atau bermain peran. Aktivitas-aktivitas tersebut tidak hanya menghibur, tetapi juga membantu merangsang perkembangan sensorik, motorik, kognitif, sosial, dan emosional. Pendekatan ini sejalan dengan play therapy, yaitu metode yang memanfaatkan permainan sebagai media untuk membantu anak mengurangi stres, meningkatkan rasa aman, memperkuat hubungan dengan orang tua, serta mengembangkan kemampuan sosial dan emosional.
Anak juga dapat mengalami stres, meskipun sering kali orang dewasa tidak langsung menyadarinya. Berbeda dengan orang dewasa yang umumnya mampu mengungkapkan apa yang dirasakan, anak lebih sering menunjukkan tekanan emosional melalui perubahan perilaku. Ada yang menjadi lebih pendiam, mudah marah, kehilangan semangat belajar, sulit berkonsentrasi, atau enggan melakukan aktivitas yang sebelumnya sangat disukai.
Perubahan tersebut kerap terjadi dalam keseharian keluarga. Misalnya, sepulang sekolah anak langsung masuk ke kamar tanpa banyak bercerita, menolak diajak makan bersama, atau memilih bermain sendiri. Ada pula anak yang tiba-tiba lebih mudah menangis ketika diminta mengerjakan pekerjaan rumah, sulit tidur pada malam hari, atau menjadi lebih lengket kepada orang tuanya. Tidak sedikit orang tua yang menganggap perubahan itu sebagai sikap manja atau sekadar kelelahan, padahal bisa menjadi sinyal bahwa anak sedang menghadapi tekanan emosional.
Kondisi-kondisi seperti itulah yang menjadi perhatian Livita Chandra, BSN, Certified Play Therapist sekaligus Founder Mindfulness Bandung. Menurutnya, stres pada anak tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan atau ledakan emosi. Mindfulness Bandung adalah sebuah pusat layanan kesehatan mental dan perkembangan anak yang menyediakan layanan psikologi, play therapy, art therapy, serta edukasi bagi orang tua, keluarga, dan guru.
Lebih lanjut, banyak anak justru mengekspresikan perasaannya melalui perubahan perilaku yang tampak sederhana, seperti lebih sensitif, sulit berkonsentrasi, kehilangan minat bermain, atau lebih sering menyendiri. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan-perubahan kecil dalam keseharian anak. Mengingat sering kali itulah cara mereka menyampaikan bahwa ada sesuatu yang sedang mengganggu perasaannya.
Salah satu cara sederhana untuk membantu anak mengelola tekanan tersebut adalah meluangkan waktu bermain bersama. Saat bermain, anak merasa lebih aman sehingga lebih mudah mengungkapkan pengalaman maupun perasaannya. Tidak jarang, cerita tentang teman yang mengejek di sekolah, rasa takut menghadapi ulangan, atau kekecewaan karena dimarahi guru justru muncul ketika anak sedang menyusun balok, menggambar, atau bermain peran. Bagi orang tua, momen-momen seperti ini menjadi kesempatan untuk memahami dunia anak tanpa harus terus-menerus mengajukan pertanyaan.
Sebaliknya, apabila perubahan perilaku tersebut tidak dikenali sejak dini, stres yang dialami anak dapat berkembang menjadi kecemasan, kesulitan mengendalikan emosi, hingga berbagai masalah perilaku. Untuk itulah, selain memperhatikan prestasi akademik, orang tua juga perlu memberi perhatian pada kondisi emosional anak dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, kesehatan mental anak tidak dapat dibangun hanya melalui satu percakapan, satu sesi terapi, atau hadiah-hadiah yang mahal. Kesehatan mental tumbuh dari hubungan yang hangat, rasa aman, dan keyakinan bahwa selalu ada orang tua yang siap mendengarkan tanpa menghakimi. Hubungan seperti itu dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari, salah satunya dengan bermain bersama.
Di tengah berbagai tuntutan pekerjaan dan kesibukan mengurus rumah tangga, meluangkan waktu 15 hingga 20 menit untuk menemani anak bermain mungkin terasa sepele. Namun, bagi anak, momen tersebut bisa menjadi saat paling berharga untuk merasa dicintai, didengar, dan diterima apa adanya. Dari permainan sederhana di ruang keluarga, orang tua tidak hanya menciptakan kenangan indah, tetapi juga membantu anak belajar mengenali emosi, membangun kepercayaan diri, serta menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan lebih sehat.
Tidak ada orang tua yang sempurna. Akan tetapi, setiap orang tua dapat memilih untuk hadir. Sebab, bagi anak, kehadiran ayah dan ibu bukan sekadar menemani bermain, melainkan menjadi fondasi yang menguatkan kesehatan mentalnya hari ini dan membentuk ketangguhannya pada masa depan.
Penulis: Priska Melisa Suhindra