SMARTPARENT.ID - Pernahkah Ibu mengalami situasi seperti ini? Matahari belum menampakkan “batang hidungnya”, tapi lautan kegiatan sudah siap menerjang, dimulai dengan menyiapkan sarapan, lalu mengantar anak ke sekolah, membereskan rumah, mencuci pakaian, hingga menyiapkan makan siang.
Di tengah kesibukan itu, si kecil beberapa kali menghampiri sambil membawa boneka, balok susun, atau buku gambar dan berkata, “Bu, main, yuk.” Namun, jawabannya sering kali, “Nanti ya, Ibu masih sibuk." Ketika semua pekerjaan akhirnya selesai, anak justru sudah asyik bermain sendiri atau sibuk dengan gawainya. Momen sederhana yang seharusnya menjadi kesempatan untuk membangun kedekatan pun berlalu begitu saja.
Padahal, bagi anak, bermain bersama orang tua bukan sekadar hiburan. Kehadiran ayah atau ibu saat bermain membuat anak merasa diperhatikan, didengar, dan dicintai. Tidak perlu berjam-jam. Meluangkan waktu sekitar 15 hingga 20 menit setiap hari sudah dapat menjadi investasi berharga bagi tumbuh kembang sekaligus kesehatan mental anak.
Kesehatan mental ternyata merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, serta bertindak. Kondisi tersebut membuat seseorang mampu menghadapi tekanan hidup, membangun hubungan yang sehat, dan mengambil keputusan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang yang memiliki kesehatan mental yang baik mampu mengenali potensi dirinya, mengelola tekanan yang dihadapi, serta tetap menjalankan aktivitas belajar maupun bekerja secara produktif. Kondisi tersebut juga membantu seseorang membangun hubungan yang positif dengan orang lain dan menjalani kehidupan secara lebih seimbang. Oleh karena itu, kesehatan mental perlu dijaga agar seseorang terhindar dari berbagai gangguan psikologis, seperti depresi dan kecemasan.
Upaya menjaga kesehatan mental sebaiknya dimulai sejak usia dini. Pada masa kanak-kanak, kesehatan mental berperan penting dalam perkembangan emosi, perilaku, kemampuan belajar, keterampilan sosial, dan pembentukan karakter hingga dewasa. Anak yang tumbuh dengan kondisi psikologis yang baik umumnya lebih mampu mengenali emosinya, menghadapi berbagai tantangan, membangun hubungan yang positif, serta mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Salah satu cara sederhana untuk mendukung kesehatan mental anak adalah memberikan kesempatan bermain yang cukup. Bagi anak, bermain bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang, melainkan kebutuhan yang mendukung proses tumbuh kembang. Melalui permainan, anak belajar mengenali diri sendiri, memahami lingkungan, melatih kreativitas, mengembangkan kemampuan berpikir, sekaligus membangun rasa percaya diri.
Manfaat bermain akan semakin besar ketika orang tua ikut terlibat. Selain mempererat hubungan emosional, aktivitas tersebut menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengenali karakter, minat, serta potensi anak. Tidak sedikit kemampuan anak muncul secara alami ketika mereka merasa nyaman, aman, dan tidak berada dalam situasi yang penuh tuntutan. Banyak ibu baru menyadari hal ini ketika menemani anak bermain masak-masakan di ruang keluarga.
Saat berpura-pura menjadi pembeli atau penjual misalnya, anak tiba-tiba bercerita bahwa ia dimarahi temannya di sekolah atau merasa takut karena diejek saat pelajaran berlangsung. Ada pula anak yang lebih mudah mengungkapkan perasaannya ketika sedang menggambar, menyusun balok, atau bermain peran menggunakan boneka. Tanpa disadari, permainan menjadi jembatan yang membantu orang tua memahami dunia anak.
Agar bermain memberikan manfaat yang optimal, orang tua perlu hadir sepenuhnya. Kehadiran tersebut bukan hanya secara fisik, tetapi juga melalui perhatian yang utuh tanpa terdistraksi oleh telepon genggam, pekerjaan rumah, atau urusan lainnya. Ketika anak merasa didengarkan dan dihargai, ia akan lebih mudah membangun rasa percaya kepada orang tuanya.
Selama bermain, berikan kesempatan kepada anak untuk memimpin jalannya permainan. Biarkan ia memilih permainan yang ingin dilakukan, menentukan aturan sederhana, atau membagikan peran kepada orang tua. Cara ini dapat melatih kreativitas, kemampuan mengambil keputusan, kemandirian, serta rasa percaya diri.
Permainan juga dapat dimanfaatkan sebagai media belajar yang menyenangkan. Orang tua dapat mengenalkan konsep bergiliran, berbagi, bekerja sama, menaati aturan, serta menerima kemenangan maupun kekalahan dengan sikap yang positif. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi anak dalam mengembangkan keterampilan sosial dan mengelola emosi.