news-n-trend

Menuju Gerakan Nasional untuk Selamatkan Perempuan Indonesia (SPRIN)

Selasa, 21 April 2026 | 20:14 WIB
Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) mendorong SPRIN (Selamatkan PeRempuan INdonesia)mendorong SPRIN (Selamatkan PeRempuan INdonesia) untuk berkembang menjadi Gerakan Nasional (dok )

 

 

SMARTPARENT.ID - Memperingati Hari Kartini, momentum refleksi perjuangan perempuan Indonesia, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) mendorong SPRIN (Selamatkan PeRempuan INdonesia) untuk berkembang menjadi Gerakan Nasional. Langkah ini menjadi semakin mendesak di tengah masih tingginya angka kematian ibu dan beban penyakit yang mengancam perempuan Indonesia.

Setiap hari, rata-rata 22 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas (setara satu ibu setiap jam), sementara ribuan lainnya kehilangan nyawa akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan dideteksi lebih dini. Tanpa intervensi yang terstruktur dan masif, kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan perempuan, tetapi juga mengancam kualitas generasi dan masa depan bangsa.

Hal inilah yang disampaikan dalam press conference hari ini, yang juga sejumlah tokoh seperti Wakil Menteri Kesehatan II dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, serta Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan. Selain itu, hadir pula perwakilan berbagai stakeholder strategis, seperti IDI, IBI, FISIP UI, Pegadaian, Kadin, dll, yang menunjukkan kuatnya dukungan lintas sektor terhadap inisiatif SPRIN.

Dalam presentasinya, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG, Subsp. FER, MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) menjelaskan, “SPRIN bukan sekadar program, melainkan sebuah gerakan kolektif untuk mendorong perubahan nyata dan berkelanjutan. Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat bahwa kesehatan perempuan bukan isu sektoral, melainkan fondasi utama pembangunan bangsa. Ketika perempuan sehat dan berdaya, maka keluarga menjadi lebih kuat, generasi yang lahir lebih berkualitas, dan pada akhirnya akan memperkuat daya saing bangsa secara keseluruhan. Ke depan, SPRIN kami dorong untuk berkembang menjadi Gerakan Nasional yang melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan lintas sektor. Bahkan, kami menargetkan pembentukan Satgas SPRIN sebagai langkah strategis untuk memastikan upaya ini berjalan secara terstruktur, terukur, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.”

Rangkaian kegiatan SPRIN akan diperkuat melalui SPRIN Summit 2026 sebagai forum tahunan dan wadah konsolidasi nasional untuk mendorong SPRIN menjadi gerakan lintas sektor. Forum ini akan menjadi momentum evaluasi capaian sekaligus peluncuran komitmen baru, dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat langkah bersama menuju Indonesia yang lebih sehat dan inklusif bagi perempuan.

“Sejalan dengan itu, kami di POGI juga tengah dalam proses pencanangan Rumah Perempuan Indonesia (R-PRIN) yang akan bertempat di Rumah POGI Nasional sebagai pusat terpadu untuk edukasi, layanan, dan pemberdayaan perempuan, yang diharapkan dapat menjadi wujud nyata keberlanjutan gerakan ini,” jelas Prof. Budi.

Terkait kondisi di Indonesia saat ini, Angka Kematian Ibu (AKI) sendiri masih berada di kisaran 189 per 100.000 kelahiran hidup, menjadikannya salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara. Di sisi lain, setiap tahun, lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks terdiagnosis, dengan lebih dari 21.000 kematian (setara satu perempuan meninggal setiap 25 menit).

Kondisi ini semakin diperparah oleh berbagai faktor, mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan, kesenjangan wilayah, hingga norma sosial, stigma, dan kekerasan berbasis gender yang masih membatasi perempuan dalam memperoleh layanan kesehatan reproduksi yang layak. Akibatnya, banyak kasus terdeteksi terlambat dan sudah komplikasi.

“Melihat urgensi tersebut, kami menghadirkan SPRIN bukan hanya sebagai upaya intervensi medis, tetapi juga sebagai gerakan untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang pentingnya kesehatan perempuan. Kami melihat ada empat tantangan utama yang perlu dijawab bersama, yaitu masih tingginya angka kematian ibu, mutu dan kesinambungan layanan yang belum merata, kesenjangan akses antar wilayah, serta literasi dan tingkat kepercayaan masyarakat yang masih rendah. Melalui SPRIN, kami mendorong pendekatan yang lebih terintegrasi, dimulai dari membangun awareness, lalu mendorong masyarakat untuk benar-benar mengakses layanan kesehatan, hingga memastikan bahwa layanan yang diterima memiliki mutu yang optimal dan berkesinambungan,” jelas Prof. Budi.

Sebagai langkah konkret, SPRIN mengusung 10 fokus utama, yaitu:

  1. Skrining DNA HPV & Vaksinasi HPV Massal
  2. Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja & Dewasa
  3. Suplemen MN bagi semua Ibu Hamil
  4. Program Rencanakan & Kawal Kehamilan Indonesia
  5. Skrining Hb & Zat Besi ibu hamil
  6. Cek Kesehatan perempuan menopause
  7. Podcast Kesehatan reproduksi,
  8. SPRIN Certified – Mutu Layanan Kesehatan Reproduksi,
  9. Pendidikan Kader SPRIN = SPRINTER
  10. Finansial Sehat untuk reproduksi Sehat

Sejumlah inisiatif juga telah dan akan dijalankan sebagai bagian dari kampanye SPRIN, di antaranya penyelenggaraan: vaksinasi HPV di 10 titik POGI cabang; podcast dalam beberapa episode; pemberian suplemen MMN; pencanangan Rumah Perempuan Indonesia by The Gade SPRIN POGI; pencanangan gerakan sosial SPRINTER POGI; serta Aksi SPRIN POGI - AOFOG - JHPIEGO - MSD for mothers dalam penurunan AKI, AKB dan stunting.

Ia kembali menjelaskan, “Dalam implementasinya, kami tidak bisa berjalan sendiri. SPRIN kami jalankan dengan pendekatan kolaborasi lintas sektor melalui model pentahelix, yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan juga media. Sejauh ini, kami sudah berkolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari institusi akademik seperti FISIP UI, organisasi profesi, hingga sektor swasta dan dunia usaha seperti Pegadaian dan KADIN. Kami meyakini bahwa kolaborasi seperti ini adalah kunci untuk memperluas dampak program, sekaligus memastikan bahwa inisiatif yang kami jalankan bisa berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak perempuan di Indonesia.”

SPRIN juga menjunjung semangat “When we educate a woman, we educate a nation”, yang juga menjadi landasan utama SPRIN. “Ketika perempuan mendapatkan akses terhadap edukasi dan layanan kesehatan yang baik, dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga keluarga, komunitas, hingga berdampak pada masa depan bangsa. SPRIN hadir untuk memastikan bahwa setiap perempuan Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk hidup sehat, berdaya, dan berkontribusi dalam pembangunan. Karena menyelamatkan perempuan hari ini, berarti menyelamatkan generasi masa depan Indonesia,” tutupnya.

Tags

Terkini