news-n-trend

Menjemput Gelar, Menjahit Makna: Catatan Perjalanan Doktoral Dr. Efendi Lod Simanjuntak

Rabu, 9 Juli 2025 | 07:43 WIB
Buku ini mendekatkan pembaca pada realitas bahwa meraih gelar doktor bukan hanya tentang lulus, tetapi juga tentang kesiapan berpikir lebih dalam, menulis lebih panjang, dan bersabar hadapi kegamangan (Dok. pri)

 

 

Judul Buku: Perjalanan Akademis Studi Doktoral: Strategi Sukses Meraih Gelar Ph.D. Ilmu Hukum

Penulis: Dr. Efendi Lod Simanjuntak, S.H., M.H.

Penerbit: Klikplus Asia

Cetakan: I, 2024

Tebal: vi + 121 halaman

ISBN: 978-623-89111-3-4

 

Di Indonesia, gelar doktor masih sering dipersepsi sebagai puncak piramida akademik — sebuah mahkota gelar yang menempel di belakang nama, menjadi simbol status sosial, tiket naik pangkat, atau sekadar catatan kebanggaan di kartu nama. Namun di balik toga hitam dan sertifikat resmi, jarang sekali dibicarakan bagaimana perjalanan meraihnya: lika-liku akademis, tarikan realitas, dan pergulatan mental yang membentuk orang di balik gelar itu.

Buku Perjalanan Akademis Studi Doktoral: Strategi Sukses Meraih Gelar Ph.D. Ilmu Hukum karya Dr. Efendi Lod Simanjuntak, S.H., M.H., adalah salah satu karya yang mencoba membongkar tabir itu — dengan cara yang jujur, membumi, dan tanpa basa-basi. Berbeda dengan banyak buku motivasi pendidikan yang sering berhenti pada slogan “ayo lanjut S-3!”, buku ini justru mendekatkan pembaca pada realitas: bahwa meraih gelar doktor bukan hanya tentang lulus, tetapi juga tentang kesiapan berpikir lebih dalam, menulis lebih panjang, dan bersabar menghadapi kegamangan.

Dalam prolognya, Efendi bercerita dari titik awal: kenapa harus studi S-3? Baginya, jawabannya sederhana — karena suka membaca, suka belajar, dan selalu lapar berdiskusi. Duduk di bangku kuliah tidak pernah cukup. Diskusi kelas, forum seminar, tumpukan buku, dan obrolan hangat di kantin kampus menjadi ruang merangkai gagasan. Di sanalah lahir satu dorongan: mengapa berhenti di sini? Mengapa tidak menjejak satu tangga lagi: doktor?

Efendi membuka bagian-bagian reflektif dengan jujur: latar belakangnya bukan akademisi murni. Ia praktisi hukum — advokat, pengacara litigasi — terbiasa menulis gugatan, menyiapkan pembelaan, berdebat di ruang sidang. Namun, memasuki dunia akademis doktoral, ia menghadapi medan yang berbeda. Menulis disertasi tidak sekadar merangkai pasal, tetapi merumuskan kerangka teoritis, memetakan metodologi, merumuskan novelty yang betul-betul baru, dan menautkan antara idealisme hukum dengan kenyataan sosial.

Buku ini menonjol karena menjembatani dua dunia: dunia praktis yang serba cepat, dan dunia riset yang menuntut kedalaman. Di banyak bagian dari buku ini, Efendi menulis betapa tidak mudahnya praktisi beralih haluan menjadi penulis akademik. Terlalu banyak praktisi yang lihai berargumentasi di sidang, tetapi tersandung saat harus menyusun logika penulisan yang sistematis. Di sinilah buku ini menyorot celah yang jarang disentuh di ruang kuliah.

 

Halaman:

Terkini