Kasus Hepatitis B dan C di Indonesia Menurun, Begini Penjelasannya

Photo Author
Hilman Hilmansyah, Smart Parent
- Selasa, 6 Agustus 2024 | 10:39 WIB
prevalensi hepatitis B di Indonesia telah mengalami penurunan signifikan dalam satu dekade terakhir. (Karolina Kaboompics/Pexels)
prevalensi hepatitis B di Indonesia telah mengalami penurunan signifikan dalam satu dekade terakhir. (Karolina Kaboompics/Pexels)

   

SMARTPARENT.ID - Menurut dr. Imran Pambudi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, prevalensi hepatitis B di Indonesia telah mengalami penurunan signifikan dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi hepatitis B berkurang dari 7,1% pada tahun 2013 menjadi 2,4% pada tahun 2023. "Dengan dukungan semua pihak, Indonesia telah berhasil menurunkan angka prevalensi secara signifikan dalam 10 tahun terakhir," ungkap dr. Imran pada acara Temu Media Hari Hepatitis Sedunia.

Hepatitis C juga menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan data WHO Global Health Observatory 2022 for HCV, prevalensi hepatitis C menurun dari 1% pada tahun 2013 menjadi 0,5% pada tahun 2022. Dr. Imran menyatakan bahwa penurunan ini merupakan hasil dari berbagai upaya strategis pemerintah, termasuk pencegahan penularan hepatitis B dari ibu ke anak melalui vaksinasi hepatitis B dan pemberian antivirus tenofovir. Pada tahun 2023, lebih dari 2,3 juta bayi baru lahir dari target 4,4 juta telah menerima vaksin hepatitis B dalam 24 jam pertama setelah kelahiran. "Untuk ibu hamil yang terdeteksi positif hepatitis B, kami memberikan antivirus tenofovir guna mencegah penularan ke bayi mereka," jelas dr. Imran.

Pemberian antivirus tenofovir dimulai pada tahun 2022 dan secara bertahap diterapkan di seluruh Indonesia. Pada tahun 2023, layanan antivirus tenofovir sudah tersedia di 22 fasilitas di 10 kabupaten/kota di 6 provinsi. Pada tahap selanjutnya di tahun 2023, layanan ini diperluas menjadi 158 fasilitas di 26 kabupaten/kota dan 17 provinsi. Pada tahun 2024, pemerintah berencana menambah layanan antivirus tenofovir di 1.230 fasilitas yang terdiri dari 1.020 puskesmas dan 210 rumah sakit di 188 kabupaten/kota dan 34 provinsi. "Tahun ini, kami akan memperluas layanan hingga mencakup 1.410 fasilitas di puskesmas dan rumah sakit," ujarnya.

Baca Juga: PIN Polio Tidak Menghambat Imunisasi Rutin, Begini Faktanya!

Selain itu, penguatan surveilans dan deteksi kasus pada populasi berisiko tinggi seperti ibu hamil, tenaga medis, dan tenaga kesehatan juga dilakukan. Pada tahun 2023, sebanyak 3.358.549 ibu hamil diskrining hepatitis B, dengan 50.789 di antaranya terdeteksi HBsAg reaktif. "Untuk tenaga kesehatan, sebanyak 364.002 tenaga medis dan tenaga kesehatan diskrining HBsAg, dengan 359.677 hasil non-reaktif dan 267.574 yang belum memiliki antibodi sehingga perlu divaksinasi," jelasnya.

Dari tahun 2017 hingga Juni 2024, sebanyak 967.330 individu berisiko tinggi telah diskrining hepatitis C. Dari jumlah tersebut, 42.292 orang dinyatakan positif antibodi hepatitis C (anti-HCV), dan 67,4% atau 28.504 orang melanjutkan ke pemeriksaan viral load (VL) untuk RNA HCV. Dari 28.504 orang yang menjalani pemeriksaan VL HCV RNA, sebanyak 16.327 orang memerlukan pengobatan karena infeksi hepatitis C aktif.

Pemerintah juga menyediakan obat Direct Acting Antiviral (DAA) untuk pengobatan hepatitis C, yang memiliki tingkat keberhasilan hingga 90%. "Pengobatan DAA sudah tersedia di 33 provinsi dan pada tahun 2024 ditargetkan semua provinsi memiliki rumah sakit yang menyediakan layanan pengobatan hepatitis C dengan DAA," katanya. Dari tahun 2017 hingga Juni 2024, lebih dari 11.689 pasien telah memulai terapi pengobatan hepatitis C, namun hanya 8.364 yang menyelesaikan pengobatan, dan 3.139 di antaranya dinyatakan sembuh.

Dr. Imran menambahkan bahwa meskipun prevalensi hepatitis menurun, jumlah kasus di Indonesia masih cukup tinggi. Menurut WHO, Indonesia berada di peringkat keempat di Asia Tenggara untuk kejadian dan kematian akibat penyakit liver. "Hanya sekitar 56 ribu kasus yang terdiagnosis, yang berarti masih banyak penderita hepatitis B yang belum terdiagnosis dan berpotensi menularkan kepada orang lain," jelasnya. Ia berharap peringatan Hari Hepatitis Sedunia 2024 yang bertema "Bersama Lawan Hepatitis, Sekarang" dapat menjadi momentum untuk bersama-sama mengambil tindakan nyata dalam memberantas hepatitis di Indonesia.

Baca Juga: Vaksin Polio Bisa Memicu Kanker dan HIV? Begini Penjelasannya

Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia, dr. Andri Sanityos, menjelaskan bahwa hepatitis adalah peradangan hati yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti obat-obatan, perlemakan, autoimun, alkohol, bakteri, parasit, dan virus. Virus hepatitis terdiri dari lima jenis, yaitu hepatitis A, B, C, D, dan E, yang masing-masing memiliki cara penularan, gejala, tingkat keparahan, dan metode pencegahan yang berbeda. Hepatitis B dan C dapat berkembang menjadi kronis dan menyebabkan sirosis hati serta kanker hati yang bisa berujung pada kematian.

"Pada fase kronis, hepatitis B sering kali tidak menunjukkan gejala, namun ketika gejala muncul, biasanya fungsi liver sudah sangat berkurang dan pengobatannya menjadi lebih sulit," kata dr. Andri Sanityos. Pengobatan hepatitis B dimulai dari fase imun aktif, dan jika ditemukan inflamasi sedang-berat pada hati atau fibrosis signifikan, terapi akan diberikan untuk mencegah perkembangan penyakit menjadi sirosis dan kanker hati. Hepatitis C umumnya juga tidak menunjukkan gejala (asimtomatik), namun dapat didiagnosis melalui skrining anti-HVC dan dilanjutkan dengan pemeriksaan HCV RNA jika hasilnya positif. Terapi DAA saat ini menjadi pilihan utama dengan tingkat keberhasilan tinggi untuk pengobatan hepatitis C.***

Editor: Hilman Hilmansyah

Sumber: kemkes.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X