Spesialis Keperawatan Onkologi Harus Diperkuat demi Penatalaksanaan Kanker di Indonesia

Photo Author
Administrator, Smart Parent
- Rabu, 6 Desember 2023 | 08:55 WIB
Pentingnya spesialis keperawatan onkologi
Pentingnya spesialis keperawatan onkologi

SmartParent.id - — Roche, FIK-UI, Dharmais dan HIMPONI hari ini menyelenggarakan dialog multi-pihak
yang bertujuan membahas upaya untuk meningkatkan kualitas keperawatan onkologi di Indonesia dan secara
khusus menyerukan pentingnya kolaborasi multi-pihak untuk mendukung pengembangan tenaga spesialis
keperawatan onkologi serta peran mereka sebagai mitra kerja strategis bagi dokter ahli onkologi dalam
penatalaksanaan kanker. Hal ini sangat penting mengingat kolaborasi Roche, FIK-UI, Dharmais dan HIMPONI,
mulai membuahkan hasil ditandai dengan lulusan pertama program beasiswa tenaga spesialis perawat onkologi
dari FIK-UIsetelah menjalani program master dan spesialisselama tiga tahun.

Beban kanker terus meningkat. Publikasi terbaru WHO “Setting Priorities, Investing Wisely & Providing Care for
All“ menyebutkan bahwa satu dari enam kematian di dunia diakibatkan oleh kanker. Kasus kanker di 2018
mencapai 18.1 juta dan akan meningkat menjadi 29.4 juta di tahun 2040. Sementera itu angka kematian di negara
berpenghasilan menengah ke bawah diperkirakan akan tetap tinggi, jauh dari target SDG. Disisi lain, survei
HIMPONI (2020) tentang tingkat pendidikan perawat di unit pelayanan onkologi menunjukkan bahwa 67% perawat
onkologi masih berpendidikan Diploma, 31% berpendidikan Ners (sarjana) dan sebanyak 2% berpendidikan
Magister Keperawatan. Dari survei tersebut, Indonesia belum memiliki spesialis perawat onkologi. Tanggung
jawab seorang spesialis perawat onkologi adalah memberikan pelayanan keperawatan pada pasien kanker dan
keluarganya yang bermutu sesuai dengan tuntutan masyarakat. Beberapa hal di atas menjadi dasar pentingnya
keberadaan profesi Ners Spesialis Keperawatan Onkologi.

Dijelaskan oleh Dr. Dewi Gayatri, S.Kp., M.Kes., Ketua Prodi Ners Spesialis Keperawatan Onkologi latar belakang dari
kemitraan ini merupakan rasio perawat-pasien yang tidak memadai berkontribusi terhadap rendahnya kualitas
pelayanan pasien, dan menyebabkan hasil akhir yang buruk.

“Harapannya, kemitraan ini dapat meningkatkan kualitas standar perawatan dan mengantarkan kepada hasil perawatan kanker yang lebih baik. Selain itu, kedepannya kami harap perawat onkologi profesional dapat diakui sebagai mitra strategis bagi onkologis dalam perawatan pasien. Hal ini dapat dicapai dengan memperkuat proses onboarding Spesialis Keperawatan Onkologi saat lulus, salah satunya adalah melalui program collaborative care yang disusun perawat beserta mitra di rumah sakit tempat mereka bekerja,”jelasnya lebih lanjut.

Direktur Penyediaan Tenaga Kesehatan, Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia, Hj. Oos Fatimah Rosyati, M.Kes menyambut baik perkembangan kemitraan. “Percepatan pemenuhan
kebutuhan tenaga kesehatan di Indonesia memerlukan keterlibatan semua pihak. Oleh sebab itu, kami sangat
menghargai dan mendukung upaya yang dilakukan Roche, FIK-UI, Dharmais dan HIMPONI untuk penguatan
tenaga perawat onkologi, apalagi,saat ini kanker merupakan salah satu prioritas Pemerintah,” ujarnya.

Menyambut perkembangan dari program ini, dr. Ait-Allah Mejri, Presiden Direktur Roche Indonesia berujar,“Kami
senang kemitraan yang diinisiasi Roche bersama para mitra kerja mulai membuahkan hasil ditandai kelulusan
pertama para penerima beasiswa tenaga spesialis keperawatan onkologi. Capaian ini menunjukkan komitmen
yang kuat dari seluruh mitra kerja untuk berkontribusi dalam mengurangi beban kanker dan meningkatkan hasil
penatalaksanaan kanker.”

Sementara itu Dekan FIK-UI, Agus Setiawan, S.Kp., M.N., D.N mengatakan,"Spesialis keperawatan onkologi
merupakan jenjang profesi baru di Indonesia. Oleh sebab itu, sangat penting dibangun ekosistem yang
mendukung pengembangan para tenaga spesialis ini agar memberikan peluang untuk menerapkan keahlian
mereka serta sangat penting adanya regulasi yang mendukung pengembangan profesi.”

dr. R. Soeko W. Nindito D., MARS, Direktur Utama Pusat Kanker Nasional Dharmais mengatakan, “Diperlukan
sebuah standar untuk rumah sakit yang memiliki layanan kanker. Tidak hanya perbaikan dari infrastruktur, tetapi
juga melalui sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satunya adalah dengan menghadirkan Spesialis
Keperawatan Onkologi. Harapannya Spesialis Keperawatan Onkologi dapat menjadi mitra strategis dalam
layanan kanker.”

Kolaborasi pengembangan tenaga spesialis perawat onkologi juga mendapatkan sambutan positif, ditandai
dengan akan dibukanya Program Studi Spesialis Keperawatan Onkologi di Universitas Gadjah Mada (UGM). dr.
Ahmad Hamim Sadewa, P.hD, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran, Kesehatan
Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM menjelaskan, “FKKMK UGM mendukung penuh rencana strategis
Kementerian Kesehatan untuk mempercepat pertumbuhan spesialis perawat onkologi di Indonesia. Harapannya
kami dapat menghasilkan banyak perawat berkualitas sehingga dapat mendukung tatalaksana kanker di
Indonesia untuk menjadi lebih baik.”

Dr. Kemala Rita Wahidi, SKp., Sp.Kep.Onk., ETN., MARS., FISQua, Kepala Bidang Pendidikan & Pelatihan Himpunan
Perawat Onkologi Indonesia (HIMPONI) menjelaskan, “Merupakan tanggung jawab organisasi profesi untuk
meningkatkan kualitas perawat yang bekerja di layanan onkologi. Oleh karena itu dibutuhkan dukungan seluruh
pihak untuk Spesialis Keperawatan Onkologi agar dapat bersinergi dengan para mitra oncologist, lain, dalam
memberikan asuhan-pelayanan kanker dalam konsep patient center care, sehingga diharapkan dapat
meningkatkan mutu pelayanan pasien kanker.”

Dr. dr. Cosphiadi Irawan, Sp.PD,KHOM, FINASIM, ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia, menyambut dengan
positif perkembangan dari program ini. “Sebagai ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia, saya menyambut
dengan bangga kehadiran Spesialis Keperawatan Onkologi ini, agar tatalaksana kanker bisa menjadi lebih baik
dan kerjasama antara dokter onkologi dan perawat dapat menjadisatu paket pelayanan yang komprehensif dan
tidak terpisahkan,” ujarnya.

Visi kemitraan ini adalah adanya minimal satu orang spesialis perawat onkologi di setiap rumah sakit yang
memberikan pelayanan kanker. Untuk mencapainya diperlukan langkah-langkah strategis yang melibatkan
berbagai pihak mulai dari pengembangan peran perawat spesialis di rumah sakit serta standar profesi,
pengembangan kompetensi melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan, pengembangan infrastruktur
pendukung serta kebijakan yang menjadi acuan pengembangan profesi. Langkah komprehensif inilah yang akan
memampukan para tenaga spesialis perawat onkologi memberikan sumbangsih terbaiknya bagi peningkatan
kualitas hasil penatalaksanaan kanker di Indonesia.

Editor: Administrator

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X