SMARTPARENT.ID - Jessica Iskandar mengungkapkan kondisi kesehatannya yang sempat menurun akibat terpapar hepatitis A. Ia menceritakan bahwa selama hampir dua minggu terakhir, tubuhnya terasa sangat tidak stabil. Awalnya ditandai dengan demam tinggi yang mencapai 39,9 derajat Celsius, yang terus naik turun selama sekitar delapan hari berturut-turut sebelum akhirnya diketahui penyebabnya yaitu Hepatitis A.
Dikutip dari CDC, Hepatitis A adalah infeksi virus yang sangat mudah menular. Orang yang terinfeksi biasanya akan merasa tidak enak badan selama beberapa minggu hingga beberapa bulan. Meski begitu, sebagian besar bisa pulih sepenuhnya tanpa meninggalkan kerusakan hati jangka panjang.
Dalam kondisi yang jarang, penyakit ini bisa berkembang menjadi gagal hati bahkan berujung kematian, terutama pada lansia atau mereka yang sudah memiliki penyakit serius seperti gangguan hati kronis.
Sejak 2016, sejumlah wilayah mengalami wabah yang terjadi akibat penularan antarindividu. Penyebaran ini banyak terjadi melalui kontak langsung, terutama pada kelompok pengguna narkoba, orang yang hidup tanpa tempat tinggal tetap, serta pria yang berhubungan seks dengan pria.
Pada 2023, kelompok usia 30–39 tahun tercatat memiliki angka kejadian hepatitis A paling tinggi. Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah kasus baru yang dilaporkan turun sekitar 28%.
Namun jika dibandingkan dengan 2015, jumlah kasus di 2023 masih sekitar 1,2 kali lebih tinggi. Selain itu, tingkat kejadian pada populasi Hispanik tercatat dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan kelompok kulit putih non-Hispanik.
Dari sisi klinis, tidak semua orang yang terinfeksi menunjukkan gejala. Orang dewasa cenderung lebih sering mengalami gejala dibandingkan anak-anak. Jika muncul, gejala biasanya terlihat dalam waktu 2 sampai 7 minggu setelah terpapar, dan umumnya berlangsung kurang dari dua bulan, walaupun pada beberapa kasus bisa bertahan hingga enam bulan.
Menariknya, seseorang tetap bisa terinfeksi hepatitis A tanpa merasakan gejala apa pun. Adapun gejala yang mungkin muncul antara lain urine berwarna gelap, feses pucat, diare, mudah lelah, demam, nyeri sendi, hilang nafsu makan, mual, sakit perut, muntah, serta perubahan warna kulit atau mata menjadi kuning.
Siapa pun yang belum pernah divaksinasi atau belum pernah terinfeksi sebelumnya berisiko tertular. Risiko ini bisa meningkat tergantung kondisi dan perilaku tertentu dalam kehidupan sehari-hari.
Penularan terjadi saat virus masuk ke dalam tubuh, bahkan dalam jumlah yang sangat kecil. Hal ini biasanya terjadi melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi, atau melalui konsumsi makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi.
Cara paling efektif untuk mencegah hepatitis A adalah dengan vaksinasi lengkap sesuai jadwal. Vaksin ini dianjurkan untuk anak usia 12–23 bulan, anak dan remaja hingga 18 tahun yang belum divaksin, serta orang dewasa dengan risiko tinggi, termasuk ibu hamil dalam kondisi tertentu.
Selain vaksin, menjaga kebersihan tangan juga sangat penting. Cuci tangan dengan benar setelah dari toilet, setelah mengganti popok, dan sebelum menyiapkan atau mengonsumsi makanan bisa membantu mencegah penyebaran virus.
Jika seseorang diduga terpapar, dokter dapat memastikan diagnosis melalui pemeriksaan darah.
Untuk penanganan, tidak ada terapi khusus yang langsung membunuh virus. Umumnya dokter akan menyarankan istirahat cukup, pola makan seimbang, dan asupan cairan yang memadai untuk membantu pemulihan.