Ray juga menekankan bahwa pendekatan HBM bukan hanya relevan untuk program pemerintah seperti pemeriksaan kesehatan gratis dan deteksi dini PTM, tetapi juga penting bagi edukasi yang disampaikan oleh para influencer dan praktisi kesehatan.
Hal ini diamini oleh Rory Asyari, figur publik sekaligus pegiat edukasi kesehatan, yang menyatakan bahwa pemahaman terhadap HBM sangat membantu para pemengaruh dalam menyampaikan pesan yang tepat sasaran.
Baca Juga: Checklist Kebutuhan Bayi Baru Lahir: Panduan untuk Orangtua Baru
Prof. Nila Moeloek menambahkan bahwa buku ini patut menjadi acuan bagi para pengambil kebijakan.
“Pendekatan HBM merupakan intervensi strategis yang berbasis ilmiah. Jika diterapkan dengan benar, dapat meningkatkan efektivitas program kesehatan nasional secara signifikan,” ujarnya.
Melalui buku ini, Ray—yang juga pendiri Health Collaborative Center (HCC)—mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Kesehatan, untuk mengintegrasikan pendekatan Health Belief Model dalam desain program, pelatihan kader, serta strategi komunikasi perubahan perilaku.
Baca Juga: Karbon Biru, Warisan Hijau: Mengapa Laut dan Pesisir Perlu Dijaga Demi Masa Depan Anak Kita
Ia juga mengusulkan agar indikator baru, yakni ‘kepercayaan dan makna sehat’, menjadi bagian dalam evaluasi keberhasilan program kesehatan nasional ke depan.
Artikel Terkait
Menu Seimbang untuk Anak Usia 4–6 Tahun: Kunci Anak Tumbuh Sehat dan Aktif
10 Adab Penting yang Wajib Diajarkan pada Anak
Persiapan Finansial Sebelum Memiliki Anak: Biar Nggak Kaget di Tengah Jalan!
TEMOO Raih Penghargaan Nasional, Jamu Anak Modern yang Atasi GTM Kini Diakui Secara Resmi
Dampak Positif dan Negatif Gadget untuk Anak: Kenali Batasnya, Yuk!