Bubuk kopi pada dasarnya memiliki kadar ‘minyak’, acidity, dan komponen-komponen kimia alami lainnya.
Ketika diseduh, kandungan ini biasanya lebur lalu melahirkan karakteristik-karakteristik yang kemudian kita kenal dengan flavor, notes dan after-taste.
Ketika biji kopi di-roasting, paparan panas dari roaster akan menguapkan kelembaban dari inti biji, lalu secara simultan mengeluarkan zat-zat yang bentuknya mirip minyak dan kemudian ‘melapisi’ bagian luar biji kopi.
Nah semakin lama biji kopi terekspos dengan udara, maka akan semakin terlihat ‘kurang berminyak’ atau mengkilap juga biji kopi itu.
Baca Juga: Hindari Hal ini Ketika Berkunjung ke Kedai Kopi
2. Periksa residunya
Jika kamu menggenggam sekepalan biji kopi, coba lihat di telapak tangan atau di bagian dasar paper bag pembungkus biji kopi itu.
Jika kamu menemukan serbuk, atau semacam ‘remahan-remahan’ biji kopi, maka bisa dipastikan bahwa biji kopi itu segar dan baru di-roasting.
Namun, perlu diingat juga bahwa ‘kadar minyak’ pada biji kopi yang light roasted tidak sama dengan yang dark roasted lho ya. Kopi yang light roasted tidak semengkilau yang dark.
3. Cek katup udara pada sealed bag
Ketika biji kopi di-roasting pada suhu panas tinggi lalu didinginkan, biji kopi akan mengeluarkan sejumlah karbon dioksida (CO2).
Proses pengeluaran gas CO2 ini bisa berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu setelah roasting.
Dalam dunia kopi, proses ini juga dikenal dengan istilah periode degassing, atau masa-masa pelepasan gas.
Dalam beberapa hari pertama, biji kopi akan mengeluarkan CO2 dengan begitu cepat.
Baca Juga: EXTRA JOSS Bersama DKM AS-SALAM Badan POM Semarakkan Iduladha dengan “Laki Berqurban”
Nah, ketika biji kopi yang sedang aktif-aktifnya mengeluarkan gas ini dibungkus dalam paper bag tersegel, gas CO2 yang dilepaskan itu tentu akan mencari celah untuk keluar.