lifestyle

Minuman Manis, Kalori Tersembunyi, dan Berat Badan: Apa Kata Riset Terbaru

Sabtu, 18 April 2026 | 23:07 WIB
Aturan Label Nutri Level pada makanan dan minuman kemasan mulai banyak dibicarakan. Label ini dibuat sederhana supaya orang bisa langsung melihat kadar gula, garam, dan lemak dalam sebuah produk. (freepik.com)

SMARTPARENT.ID- Belakangan ini, aturan Label Nutri Level pada makanan dan minuman kemasan mulai banyak dibicarakan. Label ini dibuat sederhana supaya orang bisa langsung melihat kadar gula, garam, dan lemak dalam sebuah produk.

Kebijakan ini muncul bukan tanpa alasan. Kepala BPOM, Taruna Ikrar, pernah menyampaikan bahwa hampir 11 persen masyarakat Indonesia hidup dengan diabetes. Ia juga menjelaskan bahwa sekitar 31 juta orang berada dalam kondisi pradiabetes hingga diabetes, termasuk yang sudah memerlukan suntikan insulin.

Kalau ditarik jauh ke belakang, perjalanan gula cukup panjang. Sekitar 10.000 tahun lalu, gula pertama kali dibudidayakan di Papua Nugini, lalu menyebar ke India sekitar 8.000 tahun lalu.

Pada abad ke-7, gula mulai diproduksi di Eropa selatan, dan popularitasnya meningkat setelah masa Perang Salib ketika orang Eropa mengenalnya dari dunia Arab. Di abad ke-16, gula bahkan dianggap punya manfaat kesehatan. Seiring kolonisasi, gula diproduksi besar-besaran dan jadi bagian penting dalam makanan sehari-hari.

Pada abad ke-18 dan 19, gula sempat dipuji. Ada yang menganggap konsumsi gula tinggi bisa meningkatkan energi dan performa fisik. Bahkan, penelitian pada tentara waktu itu menunjukkan mereka yang mendapat tambahan gula merasa lebih bugar dan berat badannya naik, yang saat itu dianggap hal positif.

Namun pandangan ini berubah. Beberapa dekade kemudian, gula mulai dikaitkan dengan masalah sosial dan kesehatan, termasuk konsumsi berlebihan yang perlu dikendalikan, bahkan sampai masuk ke program edukasi di sekolah.

Salah satu topik yang terus diperdebatkan adalah gula dalam bentuk minuman. Sejak tahun 1990, ada penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi gula lewat minuman cenderung mengalami kenaikan berat badan lebih tinggi dibandingkan yang tidak. Muncul dugaan bahwa kalori dari minuman tidak memberikan rasa kenyang yang cukup, sehingga orang tidak mengurangi makan dari sumber lain.

Di media, sering muncul pernyataan bahwa orang yang minum minuman manis tidak mengimbangi dengan mengurangi asupan makanan lain, sehingga berat badan lebih mudah naik. Intinya, banyak yang percaya bahwa tubuh tidak “menghitung” kalori cair dengan cara yang sama seperti makanan padat. Tapi pertanyaannya, apakah benar sesederhana itu? Faktanya, meski topik ini sudah dibahas puluhan tahun, bukti yang benar-benar kuat masih terbatas.

Sebuah penelitian oleh Reid dan tim mencoba menjawab hal ini. Mereka meneliti perempuan dewasa dengan obesitas yang mengonsumsi minuman manis setara sekitar 430 kkal per hari. Hasilnya cukup menarik. Kenaikan berat badan yang terjadi ternyata jauh lebih kecil dari yang diperkirakan, bahkan tidak berbeda signifikan dibanding kelompok yang minum minuman tanpa kalori.

Penelitian ini punya kelebihan karena dilakukan cukup lama dan menggunakan metode uji coba terkontrol. Meski begitu, tetap ada keterbatasan seperti jumlah peserta yang tidak terlalu besar dan desain yang tidak sepenuhnya acak. Selain itu, hasilnya juga hanya berlaku untuk perempuan dewasa, jadi belum tentu sama pada laki-laki atau anak-anak.

Hal paling penting dari studi ini adalah soal kompensasi energi. Artinya, tubuh ternyata memang menyesuaikan diri ketika mendapat tambahan kalori dari minuman. Dalam kasus ini, peserta tidak mengalami kenaikan berat badan sebesar yang diprediksi, yang berarti sebagian kalori dari minuman tersebut “dikompensasi” dengan cara lain, kemungkinan dengan makan lebih sedikit atau perubahan metabolisme.

Temuan ini ternyata sejalan dengan penelitian lain. Meta-analisis oleh Kaiser dan rekan-rekan menunjukkan bahwa konsumsi minuman manis memang menyebabkan kenaikan berat badan, tapi jumlahnya jauh lebih kecil dari perkiraan model matematika. Ini menguatkan bahwa tubuh tidak sepenuhnya pasif, ada mekanisme penyesuaian yang terjadi.

Lalu, apakah ini berarti kalau kita mengurangi minuman manis, berat badan pasti turun? Jawabannya belum tentu. Sampai sekarang, belum ada uji coba terkontrol pada orang dewasa yang secara konsisten menunjukkan penurunan berat badan signifikan hanya dari mengurangi minuman manis.

Bagaimana dengan perbandingan kalori cair dan padat? Apakah benar kalori dari minuman lebih “berbahaya”? Dari penelitian Reid tadi, kita belum bisa menyimpulkan itu. Studi tersebut hanya melihat efek minuman, tanpa membandingkannya langsung dengan makanan padat.

Halaman:

Tags

Terkini