Salah satu pondasi penting dalam pernikahan adalah komunikasi yang terbuka.
Suami perlu belajar mendengarkan dengan baik, bukan hanya mendengar. Momen seperti Appa Jay dan Mama Gina, yang meluangkan waktu untuk berbincang santai sambil minum kopi, adalah contoh komunikasi yang santai namun bermakna.
“Saat kita umur 20-30an banyak memikirkan soal kebahagiaan, seperti tujuan saya hanyalah kebahagiaan,” ungkap Appa Jay.
“Kebahagiaan kita tidak tergantung orang lain, dalam hal ini saya pun tidak boleh menggantungkan itu ke akang, harus dari saya sendiri,” tambah Mama Gina.
Baca Juga: Cara Efektif Mengatasi Perilaku Menggigit pada Balita: Panduan Lengkap untuk Orang Tua
2. Cari Waktu yang Tepat untuk Ngobrol
Memilih waktu yang tepat untuk berbicara dengan suami sangat penting.
Hindari mengajak diskusi saat suami sedang sibuk, lelah, atau dalam suasana hati yang kurang baik.
Tunggu hingga situasi tenang dan santai, misalnya saat sedang bersantai bersama atau setelah makan malam.
Waktu yang tepat akan membuat komunikasi berjalan lebih lancar dan pesan yang ingin disampaikan lebih mudah diterima.
Contohnya saat Mama Gina dan Appa Jay menghabiskan waktu berdua tanpa melibatkan anak-anak.
Baca Juga: Meningkatkan Kemampuan Berbicara Balita, Panduan Komprehensif untuk Orang Tua
3. Hindari Menghakimi Pasangan
Bersikap asertif dalam pernikahan berarti tidak menghakimi atau memperbesar masalah.
Dengarkan pendapat satu sama lain dan ungkapkan perasaan dengan jujur tanpa menuduh.
Artikel Terkait
Bagaimana Cara Membasmi Kutu pada Anak?
Waspada Meningitis pada Anak, Begini Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya
Serunya Berkebun Bersama Anak, Aktivitas Kreatif untuk Mengisi Libur Akhir Pekan
Satu Buron, Polisi Tetapkan Tiga Pengurus Yayasan Darussalam An'nur sebagai Tersangka Pelecehan Anak