Mengenal Fobia, Jenis, Gejala dan Dampaknya  

Photo Author
Hilman Hilmansyah, Smart Parent
- Senin, 15 Juli 2024 | 15:28 WIB
Fobia bisa terjadi pada siapa saja.  (Mart Production/Pexels)
Fobia bisa terjadi pada siapa saja. (Mart Production/Pexels)

Seseorang dengan gangguan kecemasan akan perpisahan merasa sangat takut atau cemas akan perpisahan dari orang-orang yang dekat dengannya. Perasaan tersebut melampaui batas yang sesuai dengan usia orang tersebut, menetap (setidaknya empat minggu pada anak-anak dan enam bulan pada orang dewasa) dan menyebabkan masalah dalam fungsi.

Seseorang dengan gangguan kecemasan akan perpisahan mungkin terus-menerus khawatir akan kehilangan orang terdekatnya, mungkin enggan atau menolak untuk pergi keluar atau tidur jauh dari rumah atau tanpa orang tersebut, atau mungkin mengalami mimpi buruk tentang perpisahan. Gejala fisik dari kesusahan sering kali muncul pada masa kanak-kanak, namun gejalanya bisa berlanjut hingga dewasa.

Baca Juga: Efek Samping Lidah Buaya, Apa Yang Harus Diwaspadai?

Mutisme Selektif

Anak-anak dengan mutisme selektif tidak berbicara dalam beberapa situasi sosial di mana mereka diharapkan untuk berbicara, seperti di sekolah, meskipun mereka berbicara dalam situasi lain. Mereka akan berbicara di rumah di sekitar anggota keluarga dekat, namun seringkali tidak berbicara bahkan di depan orang lain, seperti teman dekat atau kakek-nenek.

Kurangnya kemampuan berbicara dapat mengganggu komunikasi sosial, meskipun anak-anak dengan gangguan ini terkadang menggunakan cara-cara non-ucapan atau non-verbal (misalnya mendengus, menunjuk, menulis).

Kurangnya kemampuan berbicara juga dapat menimbulkan konsekuensi yang signifikan di sekolah, yang menyebabkan masalah akademis dan isolasi sosial. Banyak anak dengan mutisme selektif juga mengalami rasa malu yang berlebihan, ketakutan akan rasa malu dalam pergaulan, dan kecemasan sosial yang tinggi. Namun, mereka biasanya memiliki kemampuan bahasa yang normal.

Mutisme selektif biasanya dimulai sebelum usia 5 tahun, tetapi mungkin tidak teridentifikasi secara formal sampai anak tersebut masuk sekolah. Banyak anak akan mengatasi mutisme selektif. Bagi anak-anak yang juga memiliki gangguan kecemasan sosial, mutisme selektif mungkin hilang, namun gejala gangguan kecemasan sosial mungkin tetap ada.***

 

Halaman:

Editor: Hilman Hilmansyah

Sumber: psychiatry.org

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X