Perlu Dikenalkan dengan Teman Lain
Meskipun perilaku pilih-pilih teman wajar dan bukan sesuatu yang begitu bermasalah tetapi bukan berarti orang tua harus selalu membiarkan anak bermain dengan si A saja dan melupakan teman yang lainnya. Sebaiknya, kita harus tetap berusaha mengenalkan teman yang lain kepada anak. Soalnya, bila terus dibiarkan akan membuat anak terfokus pada satu temannya saja, satu kepribadian, satu sosok, satu lingkungan, dan lainnya. Padahal, proses sosialisasi anak harus berkembang ke hal yang lebih luas.
Apalagi, kalau keterikatan yang begitu besar akan memunculkan sifat negatif, posesif misalnya, di mana anak sama sekali tidak mau bermain dan tidak mau mengenal dengan anak lain. Bahkan anak melarang teman dekatnya itu bermain dengan anak lain. Bila sifat posesif ini sudah muncul, Shinto menganjurkan untuk segera diatasi. Keterlambatan mengatasi akan memicu timbulnya sifat negatif lain, misalnya tak bisa lepas dengan teman dekatnya itu, ingin selalu sama dalam hal apapun, kesedihan yang berlebihan bila harus pisah dengannya, dan banyak lagi. Penanganannya pun umumnya tidak bisa dilakukan sendiri melainkan harus melibatkan ahli karena sudah menyangkut psikologis dan kejiwaan.
Sebenarnya, kita dapat mencegah munculnya sikap negatif akibat terlalu dekat dengan teman. Berikut beberapa cara yang bisa kita lakukan :
* Bergaul Lebih Luas
Sebenarnya, di hati anak, ada keinginan untuk bermain dengan teman lain. Namun tidak selamanya keinginan tersebut bisa terealisasi. Mungkin anak ragu-ragu, takut, malu, atau lainnya. Nah, tugas orang tualah untuk mengajak anak berkenalan dengan teman-temannya yang lain. Di usia ini, kan, anak lagi belajar bergaul mungkin dengan sedikit dorongan bisa membuatnya lebih berani.
* Promosikan Teman
Persepsi anak terhadap temannya mungkin salah. Kita bisa mengatasinya dengan mempromosikan anak lain, misalnya, dengan mengungkapkan kebaikannya. “Kita main bareng Anton, yuk, dia baik, lo, tidak nakal kalau diajak main,” misalnya demikian. Usahakan jangan berpromosi terlalu berlebihan karena kalau tidak sesuai dengan kenyataannya anak bisa malas berteman.
* Rotasi Kelompok
Di Play Group, agar anak tidak selalu bermain dengan satu anak saja, dianjurkan untuk merotasi kelompok atau teman sebangku. Lakukan perotasian beberapa waktu sekali agar anak mengenal temannya lebih banyak. Soalnya, bila anak terus menerus satu kelompok atau satu bangku dengan anak yang itu-itu saja, maka dia akan sangat akrab dengan teman sebangkunya tetapi jauh dengan temannya yang lain. Dengan perotasian ini pun cara bergaul anak akan lebih lentur, tidak di dalam kelas saja, di rumah atau di tempat lain pun demikian.
* Jangan Menghakimi
Jangan langsung menghakimi kalau anak hanya ingin bermain dengan satu teman. Sebaiknya, cari dulu apa yang menjadi sebab anak terlalu lekat dengan temannya tersebut. Mungkin karena anak masih takut-takut, malu, merasa tidak cocok, dengan temannya yang lain sehingga dia tidak mau memperluas pergaulannya. Menghakimi anak kemudian langsung memaksanya bermain dengan yang lain bukanlah tindakan yang bijak dan tidak menyelesaikan masalah. Malah sebaliknya, anak malah semakin tidak mau berteman dengan yang lainnya. Kita perlu memahami bahwa proses bersosialisasi pada anak ada tehapannya. Mungkin dengan sedikit motivasi proses sosialisasinya bisa lebih berkembang.
* Intervensi Orang Tua
Orang tua sebenarnya bisa mengintervensi pola bermain anak, misalnya dengan mengkreasikan sebuah kegiatan agar mereka bisa bermain secara bersama-sama. Kegiatan yang mengasyikkan yang dilakukan secara berkelompok akan membuka hati anak bahwa ada kegiatan lain yang mengasyikkan yang bisa dilakukan beramai-ramai.