anak

Masalah Tantrum pada Anak, Usia Berapa Anak Suka Mengamuk?

Senin, 10 Juni 2024 | 08:10 WIB
Masalah tantrum pada anak dinilai wajar, usia berapa anak tantrum tentunya bervariasi. (mohamed abdelghaffar/Pexels)

 

 

SMARTPARENT.ID – Masalah tantrum pada anak dinilai sesuatu yang normal. Usia berapa umumnya anak suka mengamuk dan termasuk kategori tantrum pada anak, yuk simak uraiannya.

Meskipun tantrum adalah bagian normal dari perkembangan balita, namun dapat menimbulkan stres bagi pengasuh dan keluarga. Tantrum pada anak ini menggambarkan amukan masa kanak-kanak dan perlu peran tim interprofesional dalam berkolaborasi untuk memberikan perawatan yang optimal bagi anak-anak dan memberi nasihat kepada pengasuh dan keluarga mengenai pengelolaan yang sehat dari masalah tantrum pada anak ini.

Tantrum atau amukan adalah episode singkat perilaku ekstrem, tidak menyenangkan, dan terkadang agresif sebagai respons terhadap frustrasi atau kemarahan. Literatur tentang anak-anak yang lebih besar menyebut peristiwa ini sebagai "amukan".

Perilaku tantrum biasanya tidak proporsional dengan situasi. Pada balita, perilakunya biasanya berupa menangis, menjerit, lemas, memukul, memukul, melempar benda, menahan napas, mendorong, atau menggigit.

Tantrum rata-rata terjadi sekali sehari dengan durasi rata-rata tiga menit pada anak usia 18 hingga 60 bulan. Durasi tantrum yang paling umum adalah 0,5 hingga 1 menit dengan normalisasi suasana hati dan perilaku antar episode.

Baca Juga: Mengenal Palsi Serebral Lebih Dekat

Tingkat keparahan, frekuensi, dan lamanya kejadian secara alami menurun seiring bertambahnya usia anak. Meskipun sebagian besar tantrum pada balita bersifat tipikal dan merupakan bagian dari perilaku normal balita, tantrum atipikal dapat menjadi ciri gangguan perilaku dan kejiwaan.

Penyebab umum timbulnya tantrum mendadak pada balita adalah pemicu fisiologis seperti kelelahan, kelaparan, atau penyakit. Frustrasi adalah penyebab umum lainnya. Balita mengalami konflik karena adanya keinginan yang simultan untuk mendapatkan perhatian orang tua dan keinginan yang kuat untuk mandiri.

Mereka belum mengembangkan keterampilan yang matang untuk mengelola emosi yang kuat. Mereka juga mungkin belajar bahwa tantrum adalah cara efektif untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan atau menghindari apa yang tidak mereka inginkan dalam jangka pendek.

Selain itu, balita belajar dengan menjelajahi lingkungannya dan mungkin menjadi frustrasi ketika orang lain menghalangi mereka melakukan hal ini, misalnya ketika orang dewasa menjadi perantara demi alasan keamanan. Ketika anak belajar keterampilan untuk mengidentifikasi perasaannya, menyebutkan emosi, mengomunikasikan perasaan tersebut kepada orang lain, dan menerapkan perilaku positif untuk mengelola perasaan atau emosi negatif, frekuensi tantrum akan berkurang.

Baca Juga: Susu Kambing Apakah Boleh Dikonsumsi Bayi? Begini Alasannya

Tantrum paling sering terjadi antara usia dua dan tiga tahun, namun bisa juga terjadi pada usia 12 bulan. Para peneliti menemukan bahwa tantrum terjadi pada 87% anak berusia 18 hingga 24 bulan, 91% pada anak berusia 30 hingga 36 bulan, dan 59% pada anak berusia 42 hingga 48 bulan.

Halaman:

Tags

Terkini